Membantu Ibu

Nisa mengusap-usap matanya. Ia masih mengantuk. Ingin sekali ia tidur lagi. Namun ia melihat Ibunya tak ada lagi di dipan di seberang dipannya. Hanya Ina, adiknya, tergolek di situ. Sedikit malas Nisa berjingkat bangun. Di bukannya jendela kamar. Angin dingin menerobos masuk. Nisa menggigil. Apalagi dia memakai baju tidur yang tipis.

Di lihatnya Ina menggeliat kedinginan. Cepat-cepat Nisa menutup jendela, lalu dengan perasaan sayang ia membenahi selimut adiknya. Di luar masih gelap. Juga masih sepi. Semua seperti masih nikmat tidur. Tapi saat-saat seperti itu Ibu sudah bangun untuk membuat kue. Ibu membuat kue untuk menghidupi keluarga mereka. Kue-kue Ibu banyak pemesannya. Pagi-pagi Nisa membawa ke tempat langganan.

“Sudah di kukus, Bu?” Nisa memperhatikan Ibunya yang sedang mencuci tangan, yang berlepotan adonan kue. Ibu mengangguk. Tanpa bertanya-tanya lagi Nisa pergi ke luar untuk mengangkat kayu arang yang kemarin sore tak sempat dibawa ke dalam. Dalam hati, Nisa menyesal sering terlambat bangun. Ia pulang dari rumah Pak Dadang sudah larut malam.

Di sana, setiap malam ia belajar mengarang di bantu Pak Dadang, yang pengarang. Pada Ibu, Nisa mengaku belajar bersama Titi, teman sekolahnya, putri Pak Dadang. Selesai menyapu, menyiram bunga, dan menanak nasi, Nisa mengajak adiknya mandi. Lima belas menit kemudian ia telah kembali ke dapur.

“Sudah selesai, Bu?” Nisa memperhatikan tangan Ibu, yang sudah cekatan masukan kue-kue yang masih hangat ke talam.
“Pagi benar kau berangkat, Nis?”
“Nisa mau ke kantor pos, Bu.”
“Kirim surat untuk siapa?” Ibu keheranan.

“Teman,“ jawab Nisa singkat. Ia berbohong. Tapi untuk mengatakan hal sebenarnya ia malu. Ya kalau berhasil, kalau tidak? Nisa cepat-cepat mengangkat talam ke atas kepalanya agar Ibu tak bertanya-tanya lagi.

“Ibu, Ibu” Nisa muncul di dapur dengan melonjak-lonjak kegirangan. Ina yang sedang sibuk meyobek-nyobek daun pisang jadi melongo. Begitu Ibu yang duduk di depan tungku. Tanpa banyak bicara Nisa membuka tasnya. Dari situ ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan. Ibu dan Ina tambah bingung.

“Dapat dari mana?” Ibu bertanya.
“Kak Nisa dapat hadiah, ya?” celetuk Ina.
Nisa mengangguk. “Kak Nisa mengarang dengan bantuan Pak Dadang. Dan karangan Kak Nisa di muat di majalah ini.” Nisa mengeluarkan majalah anak-anak pada adiknya. “Karena itu Kak Nisa mendapat hadiah uang.”
“Sebab itu, Nis?” Ibu tak percaya.

Nisa mengangguk. Sebenarnya ia juga tak percaya itu bisa terjadi. Tadi sepulang sekolah ia pergi ke rumah Pak Dadang. Ia ingin menyampaikan bahwa karangan yang di poskan tadi pagi adalah karangannya terakhir. Sebab ia tak mau meneruskan belajar mengarang. Nisa merasa tak berbakat. Buktinya lima karangannya ditolak. Lagi pula sejak belajar mengarang, Nisa tak dapat menemani Ina belajar. Ia pun sering terlambat membantu Ibunya membuat kue. Tapi siapa sangka Pak Dadang menyampaikan kabar gembira padanya. Dan Pak Dadang juga yang membantu mengambil uang itu di kantor pos.

“Uangnya untuk apa, Kak Nis?”
“Untuk Ibu.”
“Lo, kok untuk Ibu?”
“Sungguh, ini untuk Ibu!” Nisa menyerahkan uang di tangannya.
“Jadi kamu susah payah mengarang hanya untuk Ibu, Nis?” mata Ibu berkaca-kaca.
“Ibu juga susah payah untuk kami. Bapak sudah meninggal. Siapa lagi yang bantu Ibu selain kami?” sambil berkata itu Nisa merangkul Ibunya,

“Nisa ingin menolong Ibu. Ibu tidak keberataan Nisa mengarang, kan?”
“Selama itu tak mengganggu pelajaranmu.”
“Tentu saja tidak. Sekarang Nisa mengarang di rumah saja. Kalau sudah selesai, Nisa serahkan kepada Pak Dadang supaya di perbaiki dan diketikan. Pak Dadang baik ya, Bu?”

Ibu mengangguk-angguk. Matanya telah basah kini. Namun hatinya suka cita. Di peluknya kedua anaknya erat-erat. Mereka adalah orang-orang terkasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *