Saudaraku yang Baik

Indi sudah bertekad untuk tidak makan hari ini. Meskipun perutnya lapar. Tidak! Dia tidak mau makan masakan si jelek itu. Dia memang benci pada Selly benci sekali.

Sebetulnya sih bukan benci, tetapi iri. Dia iri, sebab di kelas Selly selalu di puji ibu guru sebagai anak yang rajin dan pandai. Memang rajin pangkal pandai, kan? Sialnya lagi teman-teman sekelas sangat menyayangi Selly. Bahkan Selly di pilih menjadi murid teladan tahun ini. Padahal apa, sih, kelebihan si Selly? Sudah wajahnya jelek, kampungan, sok lagi!

Itu penilaian Indi. Sayang ibu tidak sependapat dengan Indi. Menurut ibu, Selly adalah anak manis yang perlu di contoh.

“Coba lihat! Sepatunya selalu bersih. Buku catatannya pun rapi. Kamu belajar, dong, menjadi anak yang rajin dan rapi!”

Uuuhhh! Sebalnya kalau mendengar ibu berkata begitu. Seolah-olah kata pujian hanya patut di berikan pada Selly. Sementara kata teguran pantas di berikan untuknya. Coba dengar kata ibu yang lain, yang juga sering di ucapkan di depannya.

“lihat tuh, in! Pagi-pagi Selly sudah bangun, membersihkan tempat tidur dan kamarnya lalu pergi mandi. Kalau kamu, apa? Sudah bangunnya siang! Mandinya pun malas.” Yang membuat kesal lagi kejadian kemarin siang. Ibu dan ayah akan pergi ke Bandung menjenguk nenek yang sakit. Ibu menyerahkan uang belanja pada Selly.

“Ini belanja untuk besok, Selly. Barangkali lusa pagi ibu baru pulang. Ibu percaya kau bisa mengaturnya, hingga kalian tidak kelaparan selama di tinggalkan,” kata ibu sambil menyerahkan satu lembar uang lima ribuan pada Selly.

Kesal nggak, tuh! Padahal siapa sih sebenarnya Selly itu? Kan cuman anak panti asuhan yang di angkat menjadi anak oleh orang tua Indi. Tetapi, kok, ibu justru lebih percaya kepada anak itu dari pada kepada anak sendiri? Indi menggerutu kesal.

Hari ini hari minggu. Nah! Ini kesempatan untuk bermalas-malas tanpa harus mendengar gerutu ibu. Pukul sembilan pagi dia baru keluar dari kamar. Dilihatnya Selly sedang duduk di kursi makan sambil meneguk susu coklat. Nampaknya dia sudah mandi. Rumah pun sudah bersih di pel.

“haii! Sudah bangun, In? Yuk, kita sarapan bersama. Tapi sebaiknya kau mandi dulu ,” tegur Selly dengan suara manis.

Namun Indi tidak mengacuh kan teguran saudaranya itu. Ia pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar. Dia terus saja menuju ke beranda depan. Lalu ia membenamkan tubuhnya ke atas kursi. Tak ada sedikit pun niatnya untuk cepat-cepat mandi. Apa lagi untuk sarapan sampai pukul 12 nasi goreng dan susu coklat yang sudah di siapkan Selly untuknya tadi tidak juga di sentuhnya.

Pukul satu siang. Selly sudah menata meja untuk makan siang. Sayur bobor bayam, sambal goreng tempe, dan rempeyek udang. Nampaknya lezat sekali. Perutnya sendiri sudah mulai keroncongan. Tetapi dia malah masuk ke kamar ketika Selly mengajaknya makan. Dan untuk membuktikan pada Selly bahwa dia tidak berminat pada masakannya itu, dia memanggil tukang bakso yang kebetulan lewat. Dia melahap dua mangkok bakso untuk menghilangkan rasa laparnya.

Malamnya Selly kembali mengajaknya makan, meski pun dia tahu bahwa kali ini pun Indi tidak akan mau makan.

“makan dulu, In. Malam ini aku membuatkan telor balado untukmu,” ajak Selly

Dia pura-pura tidur, meski pun perutnya lapar bukan main apa lagi Selly menyebut-nyebut telur balado, makanan kegemarannya. Tapi siapa, sih, yang mau makan hasil masakan orang yang paling di bencinya lebih baik aku beli pisang goreng di warung pak Somat pikirnya.

Wah celaka! Tiba-tiba saja turun hujan dengan derasnya. Mana mungkin dia pergi keluar kalau hujan begini, lagi pula pak Somat tidak mungkin berjualan di bawah deras hujan begini. Duh! Perutnya semakin perih sekali. Bagaimana, nih?

Badannya rasa lemah. Di rebahkannya tubuhnya di ranjang tiba-tiba dia mendengar ketukan di pintu kamarnya.

“In. Bangun dong! Ini aku buatkan pisang goreng untukmu! Aku tahu kau pasti lapar, sebab seharian ini kau tidak makan nasi, kan?”

Mendengar suara Selly yang lembut dan penuh perhatian itu Indi menjadi ragu. Juga malu. Tetapi perutnya yang semakin perih itu tidak tertahankan lagi. Akhirnya dia membuka matanya lalu duduk.

“Nah, gitu, dong!” kata Selly sambil tersenyum. “Tidak baik, lho, pergi tidur dengan perut kosong. Bisa-bisa kamu nanti masuk angin. Nih, lihat aku sudah membuatkan pisang goreng dan susu hangat untukmu. Enak, lho, dingin-dingin begini. Kalau mau makan dulu, sudah ku sediakan di atas meja. Nasi dan sayurnya sudah ku hangatkan kok.”

Dia menatap Selly dengar rasa haru, mengapa aku begitu jahat padanya, padahal dia begitu baik padaku? Pikirnya malu. Kebenciannya pun lenyap.

“Terima kasih, Selly. Kau memang saudaraku yang paling baik,” katanya malu-malu. Malam itu dia makan dengan lahap, seolah ingin di habiskannya saja semua yang terhidang di atas meja. Selly memandang sambil tersenyum manis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *