Sebuah Usaha Untuk Melupakan Part 10

Cerita sebelumnya sebuah usaha untuk melupakan part 9.

Sewajarnya saja bila sesekali datang rasa lelah dalam hubungan. Kau mungkin juga pernah merasa lemah menghadapi sikapku. Juga aku kadang lelah menghadapi egomu. Namun, kita tetap bersabar untuk saling menjaga hati. Meski kadang kau meragukan apa yang aku rasa. Kau tidak percaya apa aku benar-benar cinta. Dan yang tidak kau tahu, aku tidak pernah ingin menyerah memilikimu.

Aku selalu ingin mendampingimu. Selalu ingin melindungimu. Menjagamu sepenuh hidupku. Menghadapi apa pun denganmu. Sebab tak ada cinta yang kurasa seluas cintamu. Meski aku tak luput dari segala kelemahanku

Maaf, terkadang aku melukaimu. Namun sungguh aku tidak ingin kehilanganmu. Sabarlah sejenak memahamiku. Beri aku kesempatan untuk membuktikan perasaanku. Kau seseorang yang amat kucintai. Kau seseorang yang kadang diam aku tetap melindungi. Kau kujaga perasaan di hati. Kamu saja yang ingin kutemani. Sepanjang hidup, sebanyak hari-hari yang akan kita lalui. Tetaplah bertahan denganku. Ajarkan aku memahami sikapmu. Sungguh jangan sesekali berpikir untuk menyerah. Jaga selalu apa yang sudah kita jalani.

Jika kau merasa lelah itu hal yang biasa. Jangan berpikir untuk berhenti dan membuat luka. Mari sama-sama kita perbaiki lagi apa pun yang tak terkendali. Aku masih ingin kamu ada di sini. Aku masih ingin kita hidup dengan hal-hal indah nanti. Meski jalan menuju semua itu mungkin tidak mudah. Sungguh, jangan memintaku menyerah. Jagalah hatimu, jaga tujuan kita. Banyak hal yang tak akan mudah kita lalui. Banyak halangan yang akan kita hadapi. Namun bersabarlah menjalani. Aku ingin kau mengingatkan aku bila aku lupa. Aku ingin memelukmu jika hatimu terluka.

Denganmu aku ingin menua dan menemukan akhir dari usia. Denganmu ingin kuhabiskan segala hal yang tersisa. Memperjungkan apa pun yang ingin kita punya. Jangan ragu lagi padaku. Dekap tubuhku. Jangan ragukan perasaanmu padaku. Percayalah padaku, kita pantas memperjuangkan semua ini. Jalan kita masih sangat panjang. Jangan berhenti. Mari sama-sama bergandengan tangan. Tatap mataku. Lalu yakinkan bahwa kita akan sama-sama melalui jalan yang sama menuju pulang.

Saat begini, aku kadang merasa takut menjalani semua ini denganmu. Saat kita saling sibuk dengan dunia kita. Aku sibuk dengan targetku, kamu sibuk dengan kegiatanmu. Lalu, pelan-pelan kita menjadi longgar. Aku takut kalau ternyata kesibukan bisa melemahkan kita. Aku juga takut kalau ternyata waktu tidak selalu bersepakat dengan kita. Aku yang menjalani hari-hariku yang tidak selalu bertemu kamu, sering dicemaskan dengan perasaan, akankah kita mampu menjalani semua ini. Akankah kita sampai ke segala hal yang telah kita rencanakan. Apakah impian kita akan tetap sama selamanya?

Kadang, semakin kita sibuk semakin aku menenangkan diri. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski kecemasan kadang membuat aku lelah. Aku lelah dihantam rindu sendiri. Sedangka kamu harus focus dengan pekerjaanmu. Aku lelah menahan egoku, saat aku ingin di dekatmu tetapi jarak memisahkan kita. Aku lelah menghadapi diriku sendiri yang seringkali kecewa karena belum bisa menjadi yang terbaik untukmu. Terlebih, aku yang kadang masih sering merepotkanmu. Sebagai kekasih, aku masih belum merasa sepenuhnya bisa mengimbangimu.

Dan ketakutan seringkali bertambah, saat malam-malam datang. Setelah pembicaraan kita melalui obrolan telepon yang panjang. Aku menatap langit-langit kamarku. Lalu merasakan kau dekat di jantung, sesekali juga terasa begitu jauh di balik langit malam itu. Namun, aku selalu berharap, kau tetap menjadi seseorang yang bersedia bersamaku. Setelah dan sekeras apa pun nanti kita harus berjuang. Tetaplah menjadi kekasihku. Aku juga ingin tetap mendampingimu. Dengan segala kelemahan dan ketakutanku, aku sungguh tidak ingin kehilanganmu.

Meski kadang, sesekali aku semakin ketakutan. Bagaimana kalau Tuhan berkehendak lain. Bagaimana kalau orangtuamu atau orangtuaku punya rencana yang berbeda. Begaimana kalau nyatanya kita hanya dipasangkan sementara. Aku takut, aku tidak bisa menjadi sempurna untukmu. Aku takut semua yang aku perjuangkan tidak pernah bisa memenuhi keinginanmu. Keinginan orangtuamu. Aku takut, jika nanti diriku lelah, dan kau juga lelah. Aku takut kehilanganmu.

Cerita selanjutnya di sebuah usaha untuk melupakan part 11.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *