Sebuah Usaha Untuk Melupakan Part 17

Cerita sebelumnya sebuah usaha untuk melupakan part 16.

Akhirnya aku belajar melepasmu, bukan karena aku tidak lagi mencintaimu. Bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati. Namun, aku sadar, mencintaimu sendirian bukanlah cinta yang wajar. Aku dibunuh debar-debar dada dan kecemasan akan kenangan berselimut luka. Itulah mengapa aku belajar melepasmu. Sebab, aku tahu cinta terbaik akan selalu pulang, jika kau tak kunjung datang, barangkali kau memang ditakdirkan sebatas kisah yang hanya layak tersimpan sebagai kenang.

Kau pun mengerti, berbulan-bulan aku bertahan. Aku menjadi separuh waras. Mendekati sakau. Kau tahu tetapi seperti setengah hati memperjuangkanku. Kau tidak mampu bertahan seperti aku memperjuangkanmu. Tetapi sudahlah, aku tidak akan menyalahkanmu. Aku tidak akan menyesalkan apa pun atas perlakuanmu. Aku paham, aku yang teramat cinta kepadamu.

Perasaan ini yang terlalu sulit kupatahkan, meski hatiku sudah dikalahkan. Kau tetaplah seseorang yang kucintai dengan sangat. Seseorang yang pernah mengalirkan air mata hangat. Kau tetaplah cintaku. Kesungguhan atas hidup yang kurindu, meski terasa pilu saat mengingatmu.

Kekasih pujaan hatiku, separuh jiwaku masihlah mengendap di sisa pelukmu. Di sisa kecupan lembut yang pelan-pelan menghabisiku. Kau tetaplah menjadi seseorang yang kukenal kuat. Jangan menyerah menghadapi hidup. Kini kubiarkan kau berjalan menjauh. Namun, aku tak pernah benar-benar melepaskan jiwamu yang mengikat jiwaku.

Kau tak pernah benar-benar bisa kuhapuskan dari ingatanku. Hanya saja, aku paham, aku memang harus belajar bahagia lagi. Aku harus mampu menenangkan kecemasanku. Aku harus mampu belajar bahwa kenyataan kini sedang mempropagangakan pertahanan yang kubangun untuk mencintaimu.

Aku tetaplah lelaki biasa yang jatuh cinta kepadamu. Biarlah aku menjadi abu, kau tetaplah menjadi api, berkali-kali membakar rinduku. Sekarat tetapi tak pernah mati. Pergilah jika itu pilihan yang baik menurutmu, meski pada saat yang sama kau menghadapkan kenyataan pahit untuk hidupku. Aku memang harus mengerti. Terkadang semua rencana yang sudah kususun rapi, bisa saja dihancurkan oleh seseorang yang kucintai sepenuh hati. Tidak usah ragu membunuh rinduku. Jika memang kau adalah cinta terbaik, kau akan segera berbalik pada ketabahan tubuhku. Cinta yang tak akan pernah kau temukan pada seseorang yang lain. Kekasih yang tak akan pernah membencimu meski dipaksa melepaskanmu.

Andai bisa, aku tidak ingin mengenalmu sama sekali. Sebab jatuh hati padamu membuatku tak bisa benar-benar lari. Kamu mengejarku bersama desau angin, pada malam-malam dingin, pada ketidaksanggupanku menumpasmu, di kepalaku kamu mengepal rindu. Kamu menenggelamkan diri di sudut dadaku berkali-kali. Merasuk menjelma bayang-bayang yang menyiksa diriku setiap kali ingin pulang. Aku tak pernah bisa berjalan lebih jauh, sebab sampai saat ini masih saja di kepalaku harap tentangmu utuh.

Andai bisa, aku ingin lupa dan menganggap kamu tak pernah ada. Namun, hari-hari yang berlalu terlanjur kekal dengan kenangan-kenangan tentangmu. Langkah-langkah yang pernah berjalan, membekaskanmu di ingatan. Pulang-pulang yang pernah kita punya, kini membenamkanmu di kepala. Lalu jalan mana yang akan kutempuh? Pelukan mana yang bisa menenangkan? Jika semua pandangan masih saja menghadirkanmu sebagai bayangan. Meski setiap kali mencoba memelukmu lagi, yang kudapat hanya kehilangan dan pedih di hati.

Kamu tak akan pernah tahu bagaimana sesak yang kutanggung karena ulahmu. Setiap malam dan pagi buta, aku harus menenangkan segala resah jiwa. Apakah benar begini caramu untuk mendapatkan bahagia? Inikah yang dulu kamu sebut sebagai cinta? Bukankah kamu yang mengajakku mengembara dan memuja-muja rindu. Kamu juga yang menenangkan segala keresahan jiwa dan kecemasanku akan perihal-perihal yang menyebabkan luka. Kini mengapa kamu menjadi lain begini? Tidakkah kamu mengenali dirimu sendiri? Lupakah kamu pada janji-janji yang pernah kamu ucap? Lalu, kalau sudah begini, bagaimana cara menenangkan hati?

Andai aku bisa, ingin sekali aku menghapusmu dari ingatan yang menyiksa. Tak ada satu hal pun akan kubiarkan menusuk diriku dan menjadikan ingatan terasa pilu. Namun, ingatan dan kenangan tak bisa sesuka kita. Biarlah sedih ini berakhir pada waktunya. Akan kutelan pahit hidup yang kamu sisakan. Segala yang pernah kamu rasukan ke dada ini,yang merusak bahagia hati, akan kujadikan pelajaran penting bagi hidup ini. Bahwa ternyata tidak semua yang mengakui mencintai benar-benar ingin mempertahankanku sepenuh hati.

Cerita selanjutnya di sebuah usaha untuk melupakan part 18.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *