Sebuah Usaha Untuk Melupakan Part 19

Cerita sebelumnya sebuah usaha untuk melupakan part 18.

Aku pernah menjadi tempatmu bersandar kemudian tiba-tiba membuatmu menghindar. Kamu menjadi seseorang yang mengingkari janjimu sendiri. Dengan mendadak kamu tepikan semua yang terlihat baik-baik saja. Kamu memilih berlalu bersama pilihan yang tak pernah kuduga. Bagaimana bisa ada seseorang yang lain kusebut sebagai cinta, sementara pada waktu yang sama kisah kita belum selesai dengan asmara. Kamu menjadi liar dan mulai mencemaskan. Lalu memaksa sebelah pihak melepaskan.

Sekian kali kuyakinkan diri. Mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Bercermin untuk mengetahui salah diri. Namun, tak ada yang mampu kucerna. Kita sebelum itu baik-baik saja. Lalu bagian mana yang membuatmu semudah itu melepaskan tiba-tiba. Lama aku merenung diri, masih tidak percaya akan apa yang dialami. Hingga aku pun mencoba berdamai dengan diri. Namun percaya, bahwa nanti kamu akan menyadari.

Pada malam-malam tertentu aku akan mengirimkan rindu ke jantungmu. Pelan-pelan akan menghabisimu. Lalu, dengan sisa tenaga kau akan memeluk tubuhnya sebagai pelampiasan belaka. Kamu tak akan pernah lepas dari rasa sepi, meski mencoba menjadikan dia pelarian berkali-kali. Rindu yang kukirim menjelma belati, mengiris dan memotong jantung dan hati. Sementara, sebagian doa lain, mengutuk dirimu tak pernah mati, tetapi senyum lepas tak juga mampu kamu miliki.

Waktu akan mengutukmu, hingga tak ada satu hal pun yang menjadi bahagia yang bersedia mengetuk dadamu. Tanpa aku, kamu hanyalah kumpulan rasa sepi yang enggan mati, tetapi tak mampu bunuh diri. Sementara, saat itu aku sudah bahagia dengan seseorang yang lain, berkali-kali lipat dari apa yang kau miliki. Lihat saja nanti, tak ada satu kata sedih pun yang mampu kamu lewati. Kamu akan mencariku lagi. Dan itu waktu yang terlambat untuk menyadari.

Jangan merasa bahagia dengan melukaiku. Kamu harus tahu, aku bahkan tak lagi menginginkanmu. Kamu, hanyalah bagian dari masa lalu yang pernah singgah. Semua perihal kamu mungkin tak bisa terhapus begitu saja, tetapi kupastikan semua yang kujalani hari ini tidak ada lagi untukmu. Hari-hari baru telah datang, dan kamu telah terbenam sebagai kenang. Kamu bukan lagi sesuatu yang menarik untuk ditunggu. Meski masih sesekali melintas di pikiran, kamu bukan lagi seseorang yang menyenangkan untuk dirindu.

Hidup baru ternyata memang jauh lebih bahagia. Sedih dan rasa sakit kamu bekaskan, kutelan sudah. Pahitnya menjadi semangat baru. Kamu adalah orang yang gagal mematahkan semangatku dengan mematahkan hatiku. Sebab, aku paham, bahwa hidup terlalu berharga untuk dihaiskan dengan rasa pilu. Kini, semua telah kembali baik. Kupastikan tak ada waktu untuk memintamu berbalik. Aku, telah jatuh dan berserah pada hati yang baru. Seseorang yang kuhargai sepenuh hati.

Demi diriku, demi banyak hal yang belum kuselesaikan. Demi orang-orang yang kucintai. Kupastikan kau hanya kenangan yang telah mati. Seseorang yang tak mempunyai tempat lagi di dalam diri kecuali sebatas kenangan saja. Sebab, aku tak kuasa menghapus kenangan yang datang tiba-tiba. Biarlah begitu adanya. Nanti semesta juga lelah mengirim bayangmu sebab aku tak lagi butuh semua itu.

Ingatan memang suka menggaduh langkah. Namun, semua yang pergi akhirnya berganti. Semua yang hilang biarlah hilang. Kini langkah baru telah tiba. Saatnya memulai dengan hati yang lebih setia. Biarlah berlalu semua yang menyebabkan luka. Hidup telalu singkat dihabiskan dengan sesuatu yang terus melukai. Masih panjang jalan yang harus kutempuh. Nanti, dengan seseorang yang juga sepenuh hati. Kisah ini akan utuh kembali.

Selamat menyelamatkan dirimu. Bawalah semua yang kau anggap kebahagiaanmu menjauh dariku. Jangan mencariku saat kau kesepian atau terluka olehnya saja. Aku bukan tempatmu menumpahkan cerita sedih belaka. Sebab yang disebut cinta bukan yang datang menyembuhkan luka, tetapi juga yang datang menyembuhkan untuk bahagia bersama. Kalau kau hanya ingin dirimu yang dimengerti, barangkali memang selayaknya kau tak mendapat tempat di hati ini.

Maaf untuk sesuatu yang akhirnya kukatakan dan menyakitimu kemudian. Aku hanya tidak bisa menjadi orang yang kau alihkan untuk memulihkan sedihmu. Lalu kemudia, setelah semua terasa lebih baik, kau tinggalkan diriku. Aku tidak ingin hanya menjadi tempatmu singgah yang akhirnya kau buat patah. Kau sepertinya tidak mengerti, atau memang tidak peduli bahwa yang aku ingini adalah kau untukku sepenuh hati. Bukan sekedar ruang untuk melarikan diri.

Untuk segala ketidaksempurnaanku ini, maka dengan berat hati akhirnya kubiarkan kau pergi. Kita, barangkali memang ditakdirkan bukan untuk bersama sepanjang usia. Nyatanya, kau dikirim untuk mengenalkan cinta yang dangkal, lalu menyisakan perih yang tertinggal. Sudah cukup segala hal yang kau gores perih, kusudahi segala perasaan sedih. Kini, berjalanlah memunggung menjauh. Aku akan kembali memberi waktu untuk diriku sendiri agar semuanya kembali utuh.

Selamat menyelamatkan dirimu sendiri. Kalak, saat ternyata dia yang kau pilih tidak lebih dari aku, seperti yang kau ingini, janga pulang untuk mengulang. Aku lebih senang kau tetap menghilang. Cukup hadir sekadar kenangan sesekali. Aku pernah dengan sungguh, menghapusmu berkali-kali. Karena, setelah dulu jatuh cinta kepadamu, aku masihlah seseorang yang dengan sungguh atas segala kelemahanku waktu itu.

Cerita selanjutnya di sebuah usaha untuk melupakan part 20.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *