Sejarah Nenek Bagian 2

Sebelumya sejarah nenek.

“Nenek tak pernah menyangka kalau suatu ketika nenek bakalan bertemu dengan kakekmu dalam keadaan seperti itu. Westerling dan pasukannya saat itu sedang mencari para perwira dengan kedok mencari perampok, mencari pemberontak. Sejatinya mereka adalah para pejuang. Entah bagaimana nenek waktu itu bisa bersama kakekmu, dia terluka ketika terjadi bentrok dengan tentara KNIL. Nenek beserta teman-teman nenek merawatnya. Saat itu kondisi sangat mencekam karena tentara Westerling terus mengejar kami, masuk ke kampung-kampung dan melakukan pembantaian. Sungguh itu masa-masa yang tak bisa dibayangkan untuk saat seperti sekarang ini. Tapi syukurlah, aku dan kakekmu selamat.

“Kami kemudian pergi ke Jawa, mencari kehidupan baru. Aku dan kakekmu kemudian menikah. Paling tidak suasana mencekam itu sudah tidak ada lagi. Kudengar juga Westerling ingin berencana melakukan kudeta setelah itu dengan membentuk APRA. Nenek tak tahu lagi kabarnya orang yang paling sadis itu, entah masih hidup ataukah sudah mati. Kabar terakhir ia kembali ke negaranya.”

Nenek bercerita seolah-olah beliau melihat semuanya.

“Kalau dari berita sih dia sudah meninggal nek, sakit jantung,” kataku.”Oh, begitu. Rasanya tidak sepadan orang seperti itu mati di atas tempat tidur. Kamu sudah tahu kenapa ayahmu menyuruhmu ke sini?”

“Itu sih…karena aku dihukum.”

Nenek tersenyum. “Bukan hanya karena itu.”

“Hah? Trus?”

“Coba lihat, banyak foto-foto bersejarah di sini. Coba kamu selidiki semua foto-foto ini, kemudian ceritakan kepada nenek!”

“Hah? Yang benar nek?”

“Untuk itulah ayahmu mengirimmu ke sini. Kalau kamu ingin tahu semua jawabannya, lakukanlah. Nenek akan menunggumu sampai kamu bisa menceritakan semua yang kamu ketahui tentang foto-foto ini. Di loteng ada sebuah kotak, di sana banyak buku-buku dan arsip-arsip koran lama. Kamu akan tahu semuanya.”

Aku menelan ludah. Kenapa ayahku ingin aku mengetahui ini semua? Aku heran dengan ini semua, hal itu malah membuat nenek tersenyum.

Ah, baiklah. Lagipula tak ada yang harus aku lakukan liburan ini.

Tugas dari nenek ini sangat aneh. Tapi kalau dilihat pigura-pigura yang ada di dinding ini pasti ada sejarahnya. Sejarah dari tiap-tiap foto itu. Dari foto seorang berpakaian putih dengan songkok yang sedang menyalami kakek. Entah siapa dia, sepertinya aku pernah melihatnya. Juga beberapa foto-foto yang entah bagaimana nenek bisa mendapatkannya.

Baiklah, aku pun mulai pergi ke loteng. Bangunan tua ini selalu berderit ketika ubinnya yang terbuat dari kayu aku pijak, seolah-olah menandakan usia bangunan ini sudah sama seusia nenekku. Kunyalakan lampu seukuran dua puluh watt, seketika ruangan itu pun terang dengan satu-satunya penerangan di tempat ini. Ada sebuah kotak yang dimaksudkan oleh nenek. Rasa penasaranku akan kotak itu pun akhirnya membuatku melangkah maju untuk membukanya.

Superb! Aku seperti membuka sebuah arsip lama berdebu. Tapi di dalamnya banyak sekali barang-barang. Aku pun mulai mengambil sebuah buku tua berwarna coklat yang mana sampulnya terbuat dari kulit. Aku pun mencoba mengambil dan membacanya. Oh, ternyata ini sebuah agenda. Tulisan siapa ini? Tulisan nenek? Bukan ini tulisan kakek. Di sana ada nama Burhan. Aku mulai membaca.

(1 April 1949. Agaknja gelagat Westerling oentoek memboeat kekacaoean di Indonesia jang baroe saja merdeka ini baroe dimoelai. Masih teringat saat akoe melihat bagaimana pasoekan Westerling membantai seboeah kampoeng lantaran tidak mendapatikoe ada di antara mereka. Sekarang ketika mereka memboeat Angkatan Perang Ratoe Adil, itoe semoea adalah rencana oentoek menoembangkan pemerintahan jang sah.

Agaknja akoe haroes bertemoe dengan Pak Karno. Orang-orang jang direkroet Si Toerki ini orang-orang sangat berbahaja bagi Repoeblik Indonesia Serikat. Semoeanja tahoe bahwa 18 faksi anti repoeblik tidak mendoekoeng Soekarno. Sebaiknja besok akoe haroes bertemu dengan Soekarno).

Bertemu dengan Pak Karno? Wow. Kakek pernah bertemu dengan sang proklamator? Ahh! Aku ingat foto yang ada di pigura itu! Jangan-jangan, semua isi kotak ini adalah isi sejarah!

Dengan semangat 45 aku segera mengaduk-aduk isi kotak besar itu. Banyak hal yang aku baca, namun banyak hal yang membuatku berpikir ulang tentang apa yang aku lakukan selama ini. Kakek, seorang pejuang. Nenek juga seorang pejuang. Beliau mendampingi kakek baik suka maupun duka. Saat perang kemerdekaan, saat mereka diusir, saat para pejuang sudah tidak dihargai lagi, nenek selalu mendampingi kakek. Luar biasa.

Aku membaca semuanya, semua kliping, semua sejarah hingga terkadang aku sendiri lupa waktu, lupa makan. Hampir setiap hari aku habiskan waktuku di loteng, kemudian aku mengambil kertas aku tulis satu persatu yang menjelaskan tentang foto yang ada di pigura itu. Aku tulis semuanya, semua pigura yang menceritakan satu per satu riwayat hidup dari nenek. Melihat ketekunanku nenek senang. Dia hanya memperhatikan keseriusanku ketika melakukan hal ini. Beliau pun akhirnya mendadak sakit kami panik tentu saja. Segera saja kami bawa beliau ke rumah sakit. Ternyata darah tinggi beliau kumat, apalagi ditambah dengan gula. Klop.

Ayah sudah kuhubungi. Beliau segera datang ketika kukabari keadaan nenek. Dalam sekejap saudara-saudara jauh pun berdatangan. Rumah sakit jadi ramai. Kamar VIP yang hanya berukuran 3x3meter ini pun mulai dipenuhi oleh pihak keluarga dari anak-anak nenek. Aku melihat paman-paman dan bibi-bibiku. Nenek memang punya banyak anak, aku juga melihat sepupu-sepupuku.

“Bagaimana keadaannya?” tanya ayah kepada Om Soekanto adik ayahku.

“Menurut dokter kondisinya sempat kritis, tapi sekarang sudah membaik,” jawab Om Soekanto.

“Yani, sini!” panggil ibuku yang duduk di samping nenek. Sepertinya nenek ingin bicara denganku.

Beliau membuka matanya walaupun lemah. Memang sudah sewajarnya orang tua itu sakit, tapi tidak begini juga kan kondisinya. Kalau dalam cerita-cerita sinetron, hal seperti ini biasanya diikuti dengan hal yang tidak baik, seperti kehilangan orang yang dicintai. Aku tak ingin seperti itu, paling tidak untuk saat ini. +

Semua mata tertuju kepadaku ketika aku melangkah maju mendekati nenek yang terbaring di atas ranjang. Dia kemudian memegang tanganku. Matanya sendu menatapku, “Sudah kamu ketahui semua isi dari foto-foto di pigura-pigura itu?”

Selanjutnya sejarah nenek bagian 3.