Sejarah Nenek Bagian 3

Sebelumnya sejarah nenek bagian 2.

“Hampir semua nek,” jawabku.

“Ceritakan kepada nenek, apa saja yang kamu ketahui!?”

“Baiklah.” Aku melihat wajah semua orang. Sebenarnya aku masih bingung kenapa nenek menyuruhku untuk membongkar kotak besar yang ada di loteng. Mempelajari kliping-kliping, surat kabar, dan berbagai hal. Merangkai satu demi satu peristiwa yang terjadi di foto-foto yang terpampang di dinding rumah nenek.

Aku pun menceritakan semua hal yang aku ketahui satu per satu pigura yang sudah aku ketahui makna di balik foto-foto tersebut. Di sana ada foto seorang anak perempuan sedang bersandar di pagar bambu dengan sandal jepit, baju lusuh. Itu adalah nenek. Di sana adalah tempat kelahiran nenek, kampung halamannya di Makasar. Sejak kecil ternyata nenek bukan anak desa biasa, ia sangat cerdas, berpendidikan, belajar menjadi perawat hingga kemudian terjun menjadi anggota palang merah. Membantu korban-korban perang, hingga kemudian bertemu dengan kakek. Siapa sangka juga kakek dekat dengan sang proklamator. Itulah foto yang aku lihat pertama kali, wajah orang memakai songkok itu tak asing, dia adalah Pak Soekarno, bapak proklamator.

Foto-foto yang lain juga memperlihatkan tentang panser-panser, tank-tank serta orang-orang yang tersenyum ketika mereka membawa bedil-bedil kuno. Mereka adalah para tentara yang berjuang pada perang kemerdekaan. Seluruh foto-foto itu kuceritakan, tentang bagaimana dan kapan terjadinya. Sebagian orang yang ada di ruangan itu menangis. Nenek malah tersenyum. Mungkin pikirannya sekarang kembali kepada masa-masa lalu. Hingga ada ada satu foto yang aku tak bisa menceritakannya. Sebuah peti mati yang dikelilingi oleh para perwira TNI.

“Kamu tahu Yani, kenapa nenek tidak ada di foto-foto yang lain kecuali satu foto?” tanya nenek.

Aku menggeleng. “Pertama, neneklah memotret semua peristiwa itu. Kemanapun kakekmu pergi nenek pasti mendampingi, dan teman nenek adalah sebuah kamera. Kedua, satu-satunya ketika nenek dipotret adalah ketika saat itu nenek masih kecil, itu foto pertama nenek.”

Jadi…nenekku??

“Semenjak kakekmu tiada, nenek sudah tidak memotret lagi. Foto peti mati itu adalah foto terakhir nenek. Semua foto-foto yang ada di pigura-pigura itu adalah saksi sejarah bagaimana nenek satu-satunya perempuan yang memotret peristiwa-peristiwa sepanjang hidup. Rasanya seperti kembali lagi ke masa dulu. Sekarang, kamu mengerti kenapa nenek menyuruhmu menceritakannya?”

Sejujurnya aku belum mengerti.

Tapi aku kemudian mulai berpikir. Kakek yang ditemani oleh nenek sampai akhir hidupnya. Semua ini menandakan satu hal, beliau ingin aku menyadari bahwa hidup itu adalah perjuangan. Berjuang dan berjuang. Pengorbanan yang dilakukan oleh para pahlawan, hingga mereka berkubang darah dan nanah, hanya untuk memperjuangkan hak mereka untuk merdeka. Ketika nenek menyuruhku untuk menyelidiki semua foto-foto itu kurasa nenek ingin mengajarkanku sesuatu, yaitu sebuah nilai. Nilai dari kehidupan, bahwa hidup itu hanya sekali. Kalau engkau tak gunakan untuk sesuatu kebaikan, sesuatu yang layak untuk diperjuangkan maka hidupmu akan sia-sia.

Nenek mengabadikan seluruh kehidupan ini di dalam kameranya, semuanya untuk pelajaran anak cucunya kelak. Dan kini beliau telah mengajariku. Dengan mantab aku mengangguk. “Aku mengerti nek”

Nenekku tersenyum, “Cucu nenek, jadilah seorang pejuang. Pejuang tak harus memanggul senjata, tapi pejuang tetap berjuang untuk sesuatu yang berguna bagi orang lain.”

Kata-kata terakhir nenekku itu telah mengubah hidupku. Kini aku tak lagi hidup berhura-hura. Semuanya aku jalani dengan semangat, perhitungan dan rencana. Aku menjalani hari-hariku setelah itu dengan menatap masa depan cerah, berjuang untuk negeri, untuk semua orang. Aku menjadi lebih rajin, tekun belajar dan tidak menyia-nyiakan waktuku lagi.

Yang paling bersedih kehilangan nenek bukan aku, ayah atau pun keluarga yang lain, tapi Mbak Yuni. Dia mendapatkan pelajaran banyak dari nenek semasa hidupnya. Barangkali keputusanku tidaklah salah untuk mengajaknya tinggal bersamaku. Lagipula aku pun menyukainya. Selain ia sangat telaten merawat nenekku, aku sudah menyukainya sejak pandangan pertama. Tapi untuk urusan berikutnya aku tak begitu memikirkannya, aku masih sekolah dan kuharap aku bisa menjadi lelaki yang dibanggakan suatu saat nanti seperti kakekku.

Nenek, pelajaran hidup darimu tak akan aku sia-siakan. Akan aku ingat selalu. Kuletakkan kamera peninggalan nenekku, di atas meja belajarku. Sebuah kamera yang menjadi kunci sejarah selama ini. Selamat tinggal nek. Semoga engkau tenang disana.