Sejarah Nenek

Hari ini, aku menemani nenek. Beliau boleh dibilang sudah sangat tua, usianya sudah kepala tujuh. Rambutnya putih disanggul. Perawakannya kurus dan sedikit membungkuk. Nenekku ini misterius semasa hidupnya. Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi dengan masa muda beliau, tapi kata ibuku beliau sangat menyayangiku.

Aku dididik keras oleh ayahku. Maklum beliau seorang tentara. Mungkin bukan keras kata-kata yang tepat, melainkan tegas. Setiap aku melakukan kesalahan pasti akan dihukum. Ayahku memberlakukanku sangat disiplin. Ya, sangat disiplin. Tak terkecuali adikku yang perempuan juga mendapatkan perlakuan yang sama. Dan aku baru saja melakukan kesalahan. Mungkin karena kesalahanku terlalu besar sehingga mengakibatkan beliau menghukumku untuk menghabiskan waktuku selama dua minggu berada di rumah nenek.

Hari itu aku naik sepeda motor. Mungkin hal biasa bagi anak sekolah sepertiku naik sepeda motor, tapi yang luar biasa adalah aku melakukan balap liar. Ya, aku melakukannya hingga menyebabkan aku menabrak seorang nenek-nenek yang sedang menyebrang. Syukurlah sang nenek nggak apa-apa, hanya lecet saja. Aku juga tak apa-apa, hanya saja sang nenek sempat dirawat di rumah sakit sehari. Sedangkan aku hanya menderita luka lecet.

Tentu saja ayahku murka. Kalau ayah sudah murka aku pasti bakalan dihukum. Ya, aku dihukum. Hukumannya nggak main-main. Merawat nenekku selama liburan. Arghh…!

Nenek tinggal di desa. Di desa ini nenek tinggal di sebuah rumah yang cukup besar, kamar-kamarnya banyak. Malah rumahnya terkesan menyeramkan untuk ditinggali. Bangunannya tua, ornamen-ornamen klasiknya menyiratkan bahwa nenek ini dulunya punya suami seorang tentara. Memang benar, kakekku juga seorang tentara. Bahkan beliau adalah seorang pejuang. Ayahku dididik oleh kakekku untuk menjadi seorang patriot. Di masa tuanya kakek dan nenek tinggal di rumah ini, hingga beberapa tahun yang lalu kakek wafat. Karena nenek tinggal sendiri, akhirnya kami menyewa seorang pembantu yang menjaga nenek. Kebetulan pembantu ini boleh dibilang masih muda dan masih ada hubungan keluarga dengan kami. Namanya Yuni.

Mbak Yuni aku memanggilnya, umurnya seusiaku. Ia tinggal di rumah nenek, menjaga nenek, mempersiapkan segala kebutuhan nenek, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dalam usia yang sudah tidak muda lagi nenek juga terkadang masih melakukan kegiatan yang tidak biasa, seperti berkebun, jalan-jalan di sepanjang jalan kampung, bahkan terkadang masih kuat untuk menimba air sendiri di sumur tua yang berada di belakang rumah.

Aku baru tiba tadi pagi, dan setelah itu ayah langsung meninggalkanku. Ibuku berkata kalau hukumanku terlalu keras, tapi ayah bersikeras bahwa aku harus menerima hukuman ini sebagai pelajaran atas perilakuku selama ini. Ah, ayah. Begitulah wataknya. Tegas. Aku memang terkenal sebagai anak bandel. Nenek, tentu saja sangat senang aku berada di sini. Melihat cucunya di saat-saat usia senja seperti ini sudah pasti bisa membuat hatinya yang rindu akan kehadiranku bisa terobati.

Tahu apa yang membuatku takjub ketika masuk ke rumah nenek? Foto-foto yang ada di dinding. Ada mungkin lebih dari lima puluh pigura dipajang di dinding. Jaman sudah berubah. Kalau sekarang ada Picasa, maka nenek masih old fashion. Beliau juga terkadang masih duduk di kursi goyangnya. Tahu kan kursi goyang yang biasanya dipakai untuk scene film-film horror yang mana kursi itu bisa goyang-goyang sendiri kalau ada hantu duduk di atasnya? Tapi tenang saja, kamu tak akan mendapati suasana mencekam atau horror di rumah ini. Walaupun memang terkadang agak sedikit menakutkan. Memang kalau dikatakan menakutkan memang menakutkan terutama pigura-pigura yang sebagian dibuat dengan lukisan tangan seorang pelukis ternama.

Rumah nenek selain luas, halamannya pun tampak tertata rapi. Beliau memperkerjakan seorang penjaga kebun yang lihai dan ahli dalam merawat tanaman. Usianya sudah sama seperti usia ayah. Namanya Bapak Suryo. Rumahnya tak jauh dari rumah nenek dan tugasnya tiap hari adalah berkebun. Ayah membayar uang yang cukup bagi bapak beranak tiga ini hingga sanggup membiayai sekolah ketiga anaknya. Ada beberapa tanaman di halaman rumah seperti buah naga, beberapa petak tanah yang dibuat untuk menanam bunga mawar, bawang, wortel dan kentang. Di samping rumah ada pohon anggur yang dirawat dengan baik yang mana setiap musim anggur selalu berbuah. Nenek terkadang menyuruhku membawanya ketika setiap lebaran kami singgah ke rumah ini.

Setelah datang ke rumah ini aku langsung masuk ke kamar. Barang-barang belum aku keluarkan. Aku terlalu mengantuk. Obat nyamuk bakar itu satu-satunya yang mengisi udara di kamar ini. Agaknya aku tak perlu khawatir akan nyamuk di tempat ini, aku sendiri mules ketika menghirup asapnya. Sudah pasti nyamuk-nyamuk itu juga merasakan hal yang serupa. Makanya semalaman mereka tak pernah menggigitku.

Pagi sekali aku sudah dengar suara ribut-ribut. Bukan ribut apa, hanya saja ribut Mbak Yuni sedang bekerja. Memasak air, menyapu, membersihkan sofa, pigura dan lain-lain. Aku pun terbangun. Kulihat nenek ada di mushola rumah ini. Beliau sedang sholat Subuh. Setidaknya suasana rumah ini juga lebih religius daripada terkesan angker.

Mbak Yuni aku lihat sedang menyapu. Rumah sebesar ini dia sapu sendirian?

“Sini mbak saya bantu,” aku berinisiatif.

“Halah, nggak usah mas. Udah biasa saya begini,” katanya.

Aku cukup takjub dengan telatennya Mbak Yuni mengurus rumah ini sendirian. Tapi tentunya aku tak akan lupa akan tugasku di sini, yaitu menjaga dan merawat nenek selama liburan ini.

Agaknya hawa dingin membuatku lebih baik mandi siang hari saja daripada mandi pagi. Aku cukup menggigil ketika kurasakan air kamar mandi yang begitu dingin menusuk kulit. Nenek masih duduk di kursi goyangnya sambil membuka-buka buku album. Aku pun penasaran.

“Foto album nek?” tanyaku.

“Iya, sini nenek tunjukin sesuatu!” kata beliau.

Aku pun menghampirinya. Beliau memakai kacamata silinder, sambil sesekali membenarkan letak kacamatanya aku melihat tangannya yang sudah keriput menunjuk ke sebuah foto. Ada seorang perwira yang gagah sedang memberikan salut.

“Kamu tahu, ini itu kakekmu,” katanya.

Foto lama itu sungguh sebuah hal yang langka. Aku baru tahu kalau kakekku dulu segagah ini.

“Dulu, kakekmu benar-benar lelaki yang luar biasa. Nenek mau cerita sedikit. Duduklah di kursi itu, geser kemari!”

Aku melihat sebuah kursi yang tak jauh dari sofa. Aku pun menggeser kursi itu untuk mendekat di kursi goyang nenek. Beliau pun mulai bercerita. +

“Dulu semasa perang kemerdekaan, nenek menjadi petugas palang merah. Darah sudah tak asing lagi bagi nenek. Bau anyirnya, bau mayat, bahkan bau nanah dari luka-luka para tentara sudah menjadi hal yang biasa bagi nenek. Mungkin nenek sudah cerita, maafkan nenek. Tapi kalau belum coba dengarkan baik-baik, dulu ketika Westerling datang kakekmu diburu olehnya. Westerling memang mencari para perwira yang berjuang dengan perang gerilya.

Selanjutnya sejarah nenek bagian 2.