Sifat Seorang Pemimpin yang Baik

Hujan turun dengan derasnya, kadang-kadang guntur menggelegar di dahului kilat yang menerangi langit sekejap. Jalan di depan rumah penuh dengan air. Di dalam rumah air pun masuk hingga mencapai ketinggian 5cm. Ibu sibuk memindahkan barang-barang yang mungkin akan basah terkena banjir. Hari sudah jam 8 malam. Ketika air baru masuk, Ita dan Adit sibuk membantu menyeroki air. Sekarang, tampaknya tak ada gunanya menyeroki air, karena jalan di depan rumah juga sudah penuh air.

“Sudahlah, berhenti saja dulu. Nanti kalau air mulai surut kita mulai bekerja lagi!” Kata Ayah. Ibu, Ayah, Ita, dan Adit duduk di kursi tamu dengan kaki yang di naikan. “Payah. Hujannya lama amat, Sih!” Gerutu Adit. “Ah, sebentar lagi juga berhenti. Kalau sudah mengantuk, tidurlah!” Kata Ayah.

“Mana bisa tidur? Dasar, hujan kurang ajar!” Adit mengomel. “Eh, jangan mengomel. Mestinya bersyukur ada hujan, ya, Bu!” Kata Ita. “Udara jadi sejuk!”

“Untuk apa bersyukur. Orang repot kok, karena kebanjiran. Nanti kalau hujan sudah berhenti kan harus kerja keras!” Adit membela diri. “Selamat malam….” Terdengar suara di luar. Sesosok tubuh yang di balut Jas hujan coklat, memainkan topi dan bersepatu boots, menuju ambang pintu. “Selamat malam. Oh…. Pak RT. Mari masuk, Pak!” Sambut Bapak. “Silahkan duduk Pak RT!” Kata Ibu. “Terima kasih. Sebentar saja, kok. Wah, kebanjiran juga, ya? Sudah makan malam belum? Ada sesuatu yang bisa saya bantu?” Tanya Pak RT dengan ramah.

“Oh, terima kasih banyak, Pak! Baru saja kami selesai makan, hujan turun. Sekarang tinggal menunggu hujan berhenti dan membersihkan rumah kalau air sudah surut!” Jawab Ayah. “ Ita, Adit, sudah selesai membuat PR?” Tanya Pak RT. “Sudah, Pak!” Jawab Ita dan Adit serentak. “Syukurlah. Nah, Bapak permisi dulu. Mau keliling lihat yang lain. Siapa tahu ada yang memerlukan bantuan, seperti misalnya Bu Icih.

Rumahnya rendah sekali sampai air naik sebatas tempat tidur. Anaknya sekarang yang sedang sakit ada di rumah bapak!” Kata pak RT. “Mari, pak. Selamat malam. Terima kasih!” Kata Ayah dan Ibu, sementara pak RT berjalan lagi, menembus malam sementara hujan masih terus turun. Walaupun sudah begitu deras. Adit menggeleng-geleng.

“Kenapa, Dit? Kok, geleng-geleng?” Tanya Ibu. “Kok, RT itu baik ya, Bu! Hujan-hujan begini, udara dingin, tapi Pak RT mau bersusah payah berkeliling kampung menengok warganya yang kebanjiran!” Kata Adit. Ayah dan Ibu bertukar pandang dan tersenyum.

“Begitulah sifat seorang pemimpin yang baik. Ia mau mengorbankan waktu dan tenaga dan menempuh jalan yang sulit untuk kepentingan anak buahnya. Ia siap menolong, rumahnya pun disediakan bagi yang memerlukan, seperti anak Bu Icih yang sakit itu. Sikapnya juga menyenangkan, ramah tamah. Pak RT juga adil, semua rumah yang kena banjir pasti di tengoknya,. Tidak peduli orang berada ataupun orang tidak mampu!” Ayah menjelaskan.

“Wah, Adit juga calon pemimpin rumah nih, 20 tahun lagi. Cuma suka ngomel!” Kata Ita sambil memandang Adit dan tersenyum. “ Ah, jangan mengejek, dan sekarang aku tidak ngomel lagi!” Adit membela diri. Apa yang dilakukan pak RT sangat berkesan di hati Adit. Tak lama kemudian hujan berhenti. Ayah, Ibu, dan kedua anak itu sibuk bekerja. Tetangga-tetangga juga sibuk. Srok, srok, srok, terdengar bunyi air yang di serokan keluar rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *