Awal Dari Sebuah Pertemuan (4)

“Heh! Gue lupa mau nanyain ini sama loe!” kata Arga.

“Emang loe mau nanya apaan?” tanya Nina.

“Kok loe ngasih nomor WA gue ke Kak Reni sih?”

“Emangnya kenapa? Loe kan suka sama dia!”

Reni terkejut mendengar pembicaraan Nina itu, namun tak lama kemudian dia tersenyum senang. Dia sungguh tak karuan! Antara senang dan tidak senang, antara keyakinan dan kebingungan! Semuanya bercampur aduk.

Nina sesaat kemudian melihat Reni yang sedari tadi mendengar pembicaraannya bersama Arga. Dia pun terkejut sambil menutup mulutnya yang menganga.

“Loe ngapa?” tanya Arga heran.

“Coba deh loe lihat ke belakang loe!” Bisik Nina.

“Mmmzz, gue tahu! Di belakang gue pasti ada Kak Reni kan? Dia ngedenger pembicaraan kita dari tadi!”

“Kok loe tahu sih? Peka banget!”

“Dasar lu, gimana kalau dia ngejauhin gue?”

“Ngejauh gimana? Justru kalau dia tahu loe itu suka sama dia! Mungkin dia bakalan lebih ngasih kode ke loe!”

Arga pun kemudian menggeleng-gelengkan Kepalanya, lalu menyimpan Handponenya, dan kemudian meminum Es Teh-nya.

Sepulang Sekolah? Reni berjalan di jalanan sendiri untuk pergi ke Halte menunggu Bus yang dijadikan sarana Reni untuk pulang pergi ke Sekolahan. Namun saat di jalanan? Reni akan menyebrang dan tiba-tiba dia keserempet motor.

Akhirnya? Reni terjatuh, dan lututnya terluka sekali, darahnya bercucuran dari luka lututnya itu. Itu sangat membuat Reni sakit, sehingga membuatnya merenges kesakitan, dan dia tidak bisa berdiri karena kakinya sangat kesakitan.

Pertanda baik atau buruk? Arga datang dengan motornya di belakang Reni, dia memberhentikan motornya, kemudian membuka helmnya, lalu mendekati Reni yang sedang merenges kesakitan.

“Kak Reni. Kakak kenapa?” Arga terlihat panik.

“Aku, aku keserempet motor tadi!”

“Mana yang lukanya?”

Renipun menunjukkan kedua lutunya yang berdarah, Arga sangat ngeri melihatnya, namun dia mencoba menahannya.

“Kalau gitu? Aku bawa ke Klinik ya Kak!”

“Nggak usah, tolong telponin temen-temen aku!”

“Nggak usah gimana? Luka Kakak bisa infeksi kalau nggak segera di obatin. Aku bawa ke Klinik ya?”

Akhirnya, Arga membawa Reni ke Klinik. Setelah di obati? Arga membantu Reni berjalan keluar dari dalam klinik.

“Aku anterin pulang ya Kak?”

“Nggak usah! Aku nggak mau ngerepotin kamu!”

“Nggak ngerepotin sama sekali kok, aku anterin Kakak pulang ya?”

“Nggak usah Arga! Kakak bisa pulang sendiri!” kata Reni dengan nada yang cukup kencang, membuat Arga terdiam sejenak sambil memandanginya.

“Yaudah, kalau Kakak maunya gitu? Hati-hati di jalan ya?”. Lalu Arga melepaskan tangannya dari tubuh Reni, kemudian Reni mencoba berjalan pergi namun dia malah terjatuh, diapun kembali merenges kesakitan.