Always Love you Bagian 13

Juno berjalan memasuki ruang basket indoor. Gayanya cool seperti biasa sembari tangan kiri dan kanannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Headset hitam-biru masih setia di telinganya. Di dalam ruang basket itu hanya ada Yuri dan Kenji. Yuri tengah asik men-drible bola basketnya, sedangkan Kenji tengah asik bermain dengan keypad HP-nya.

“Dari mana?” Tanya Kenji pada Juno saat menyadari kedatangan Juno. Yuri menghentikan permainan basketnya dan berjalan mendekat ke arah kedua temannya itu. Senyum manis tersungging dari bibir Yuri.

“Lo itu brengsek yah!” bentak Juno sambil menarik kerah baju Yuri. Yuri menatap Juno dengan pandangan bingung. “Lo apaan sih?” balas Yuri sembari mencoba melepaskan tangan Juno dari kerah bajunya. Kenji seolah tak acuh. Tangannya masih asik menari indah di atas keypad.

“Lo berengsek! Lo udah buat Feliza nangis dan ini balasan buat lo.” Sebuah bogeman dari tangan Juno mendarat ke pipi sebelah kanan Yuri. Yuri terjatuh ke lantai. Tangannya memegangi pipinya. “Haha. LO EMANG BANGSAT YA! APA URUSAN LO HAH? EMANG LO SIAPA?!” bentak Yuri sembari bangun. Yuri melayangkan tinjunya ke pipi Juno.

“Ckck. Labil ya? Psycho! Ya udah lanjutin aja! Yang mati duluan telepon gue, gue siapin peti matinya dulu!” Kenji berjalan keluar dari ruangan basket. Juno dan Yuri berpandangan mendengar perkataan Kenji. “Gue Cuma nggak pengen lo buat cewek nangis! Gue ini sahabat lo, gue Cuma mau ingetin lo!”

“SAHABAT? CUIH! BILANG AJA LO SENANG KAN KARENA GUE PUTUS SAMA FELIZA? SENENG KAN?” balas Yuri yang sepertinya seudah termakan emosi. Yuri kembali melayangkan bogemannya ke pipi Juno, namun dengan sigap Juno menangkis tangan Yuri dan menendang betis Yuri. Yuri terjatuh dan tersungkur di tanah.

“Gue memang sayang sama Feliza, tapi gue nggak pernah berniat ngerebut dia dari lo, karena buat gue kebahagiaan dia itu kebahagiaan gue!” dengan sekuat tenanga Yuri bangun. Wajahnya sudah dipenuhi dengan lebam. Ujung bibirnya berdarah.

“SOK PUITIS LO!” dengan amarah yang menggebu-gebu Yuri meninju pipi Juno. Juno terjatuh dan Yuri segera duduk di perut Juno. Sepertinya amarah benar-benar sudah menguasai Yuri. Berkali-kali Yuri kembali melayangkan tinjunya. Muka Juno tak kalah parahnya dengan Yuri.

Juno memukul punggung Yuri dengan sisa tenaganya. Pukulan itu membuat Yuri terjatuh ke lantai. Kini Juno sudah duduk di atas perut Yuri. Tangannya udah siap melayang untuk meninju pipi Yuri, tapi kemudian diurungkannya. “KENAPA BERHENTI? AYO BUNUH GUE!” ledek Yuri sembari tersenyum sinis. Sebelah alisnya ia naikkan. Juno membaringkan tubuhnya di samping Yuri. “Sorry!” lirih Juno.

Keduanya terdiam sembari menikmati rasa sakit di badan masing-masing. Mata Juno terpejam seakan ingin menikmati hembusan angin, sedangkan Yuri mengelus bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Ugh! Shit! Rutuk Yuri. Gila tonjokannya dahsyat banget! Gue musti bilang apa sama bokap nanti? Tanya Juno dalam hatinya. Tangan Juno memijat-mijat keningnya yang terasa pusing.

“Kita kok gini-gini amat buat cewek ya?” Tanya Juno memecah kesunyian. Yuri mendelik sambil mengacak rambutnya yang makin terlihat acak-acakan.

“Iya ya, harusnya nggak segininya!” balas Yuri. Juno dan Yuri tersenyum, tapi mereka tak menampakkan senyumnya kepada lawannya. Mereka tercenung seakan tersadar akan hal konyol yang barusan mereka lakukan.