Always Love you Bagian 16

Yuri mengetuk-ngetuk tangannya di atas meja kantin. Vanesa duduk si sampingnya sembari menyodorkan sesendok mie ramen. “Ayo dong Yuri buka mulutnya. Ini dimakan lagi.” Ujarnya centil. Bayangan Feliza muncul di benak Yuri. Sebuah kenangan muncul, membuat Yuri mengumbarkan sebuah senyum.

“Ayo Yuri! Enak nih.” Feliza menyodorkan semangkuk mie ramen di hadapan Yuri. Yuri menatap mie ramen itu. “Fel, lo nggak liat tangan gue penuh apa?” kata Yuri sembari menulis.
“Yee bilang aja minta disuapin.” Feliza cemberut sembari memonyongkan bibirnya. “Siapa bilang minta disuapin? Gue Cuma bilang tangan gue penuh!” Yuri kembali ketus. “Biasa aja kali ngomongnya. Lo itu sama cewek lain bisa berlaku manis, sama gue ketus mulu!”
Yuri menatap Feliza dengan tatapan sayang sembari tersenyum. “Oke maaf. Suapin dong!” suruh Yuri.
“Huu, tadi katanya nggak!” feliza mearih mangkuk mie ramen dan menyumpitkannya. Feliza menyodorkannya di hadapan Yuri. “Enak!” desis Yuri sambil tersenyum.

“Enak!” ucap Yuri tanpa sadar. Vanesa tersenyum. Mata cewek itu menatap wajah maskulin Yuri. “Makasih fel!” ujar Yuri. Matanya masih menerawang.
“Fel?” Feliza?”
Yuri tertegun. Sesegera mungkin dihapusnya bayangan feliza. “Please Yuri! Lo dari tadi gue suapin pasti bilangnya Feliza.” Rutuh Vanesa kesal. Yuri meremas rambutnya gemas. Ada kekosongan yang dirasakan oleh Yuri.

“Van. Mendingan lo pergi deh sekarang! Gue pengen sendiri.” Yuri menyandarkan kepalanya ke bangku kantin. Vanesa menatap Yuri dengan perasaan iba dan sakit.

Gue tahu seberapa dalam perasaan lo buat Feliza, Yuri! Gue tahu seberapa dangkalnya perasaan lo ke gue. Gue juga tahu seberapa nggak bisanya lo hidup tanpa Feliza, tapi gue janji ke diri gue sendiri kalau gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Gue janji! Always love you, Yuri!

Gue sakit ngelihat lo sama feliza. Yuri, lo nggak tahu berapa lama gue nunggu lo putus dengan Feliza dan saat lo putus pun yang masih lo ingat feliza! Apa memang di hati lo Cuma ada Feliza? Batin Vanesa. Hatinya terasa sesak. “Oke, gue balik ke kelas duluan. Bye! Vanesa berjalan meninggalkan Yuri. Yuri menghela napas pelan. Bayangan Feliza lagi-lagi memenuhi ruang pikirannya.

“Arrght! Shit!” rutuk Yuri sembari memukul meja. Tidak dihiraukan berbagai pasang mata yang menatapnya heran. Gue salah! Gue memang nggak bisa hidup tanpa lo. Sehari ini aja gue nggak liat lo, gue ngerasa ada yang hilang. Biasanya istirahat gini, lo berdiri di depan kelas gue buat nyariin gue. Shit! Lama-lama gue bisa gila kaya gini terus! Nggak ada cewek yang sesabar lo Fel! Arght! Batin Yuri.

Yuri mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin. Kenapa semuanya pada mesra gitu? Gue sendiri yang baru putus! “KENAPA SIH PADA MESRA-MESRAAN GITU! INI KANTIN WOI!!!” Yuri berteriak entah untuk siapa. Semua mata lagi-lagi menatapnya tak mengerti.

Kita akan merasa kehilangan saat orang yang kita cintai itu sudah pergi dari kita. Kita akan tahu seberharga apa dia setelah kita kehilangan dia dan kita akan merasa sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan dia!