Always Love you Bagian 19

-Cinta itu tumbuh secara alamiah. Tak pernah dipaksa. Cinta tidak hanya bagaimana tentang menerima, tapi juga member dan menjaganya-

Kutuntun tangan Mama dengan perlahan untuk duduk di kursi yang memang telah disediakan. Yah, hari ini pembagian raport dan aku lagi-lagi dengan tega mendudukkan Mama pada posisi paling belakang. Aku dengan tega membiarkan Mama menunggu urutan namaku yang dipanggil di urutan terakhir dan nanti seperti biasa yang telah Mama lakukan setelah penerimaan raport adalah membelai lembut rambutku dan berkata : “Mama bangga sama kamu!”

Bangga? Aku rangking terakhir dan Mama masih bangga padaku? Anak macam apa aku ini? Aku memandang wajah Mama. Wajah yang tak pernah bersinar lagi sejak Papa menghianati cinta Mama dan menghianati janji suci yang telah mereka ucapkan. Padahal Mama udah terlalu banyak berkorban buat Papa. Mama rela masuk islam demi Papa dan ia harus diusir dari keluarganya. Tapi apa? Papa malah melukai mama dan tidak pernah mengajarkan islam kepada kami. Alhasil kami hanya islam di KTP. Tapi satu hal yang harus kalian tahu, aku percaya akan adanya Tuhan.

Aku mendesah pelan. Namaku belum juga dipanggil. Mama mengelap keringat di pipinya. Tangannya masih setia memegang tongkat miliknya. “Mama mau aku cariin minum?” tawarku. Mama menggeleng sembari tersenyum pelan.

“Kamu dan Rendi adalah alasan Mama untuk tetap bertahan hidup!”

Kata-kata Mama kemarin malam terngiang-ngiang di telingaku. Maafin aku Ma! Aku sama sekali belum bisa bahagiain Mama. Aku selalu buat Mama malu. Aku selalu ngecewain Mama. Tangan kananku mengusap pipiku. Sebuah kenangan lagi-lagi muncul di memori otakku.

Bu Toshi sang guru Matematika tengah berdiri di depan kelas. Menjelaskan tentang sesuatu berulang-ulang yang aku sama sekali tidak mengerti. Aku mendengus sembari memainkan penaku diatas sebuah kertas. Mencoretkan semua isi hatiku pada kertas itu.

Aku asik dengan duniaku sendiri tanpa sadar guru killer itu sudah berdiri di samping mejaku. Guru itu menatapku garang. Tangannya memukul mejaku dan membuatku tersadar akan kehadirannya. “Maaf Bu!” ucapku pelan. Bu Toshi kembali berjalan ke depan kelas. Matanya yang tajam mengedarkan pandangan keseisi kelas.

“Kamu selalu seperti itu Fel! Kalau kamu pintar tak apalah! Nilai kamu selalu rendah. Remedy remedy dan terus remedy! Mau sampai kapan? Lihat teman-teman kamu yang lain! Mereka belajar sungguh-sungguh sedangkan kamu?” Bu Toshi berbicara dengan lantang. Tangan kanannya memegang sebuah penggaris.

Aku menunduk. Kata-kata guru itu bagaikan pisau yang menghujam tepat di ulu hatiku. “Zaman sekarang ini modal tampang cantik aja nggak guna. Apa guna coba kalau cantik tapi bodoh!” Bu Toshi menekankan kalimatnya pada kata ‘bodoh’.

Aku mengehela napas pelan. Setetes tetesan bening jatuh di pipi putihku. Bagaimana mungkin coba ada guru yang tega mengatakan hal yang begitu menyakitkan dan di depan kelas! Guru-guru di sekolahku ini aneh menurutku! Mereka tersenyum hanya pada anak-anak yang berprestasi saja. Sedangkan sama murid kaya aku ini, dilirik pun tidak! Nahas memang!

“Ma, aku ke WC dulu ya?” Mama mengangguk pelan seraya tersenyum manis. Aku berjalan meninggalkan Mama menuju WC. Aku ingin menangis di WC. Melampiaskan semua rasa sakitku. Aku berhenti sesaat saat mataku tertuju pada dua orang lelaki yang tengah duduk di sebuah kursi. Dua lelaki itu sepertinya tidak mengetahui kehadiranku. Mereka masih asik berbincang-bincang diselingi tawa. Terlihat sangat akrab.

“Kenapa bisa gini? Itu Yuri dan –“ kata-kataku terhenti. Aku meneliti wajah orang yang duduk di samping Yuri. Menelitinya lebih dalam. Aku mengucek mataku. Berharap ada kesalahan pada mata ini. “Papa!” bisikku melanjutkan kata-kataku yang tadi.