Always Love you Bagian 26

Aku berjalan menuju kantin bersama Sasya. Tawa kami memecahkan keheningan. Sesekali kucubit lengan Sasya dengan gemas. “Fel, bisa bicara sebentar?” Tanya Yuri yang berdiri di depanku seolah-olah menghalangi jalanku. Aku menatap cowok itu dengan tatapan kosong. Ah! Rasanya sekuat apa pun aku membunuh rasa cinta ini buat dia, natana aku memang nggak bisa. Ralat! Bukan nggak bisa, tapi belum bisa. Susah.

“Mau apa sih lo? Kami buru-buru ini.” Sasya memegang tanganu dan hendak menatik lengan tanganku. “Please! Gue mau ngomong bentar sama Feliza Sas.” Yuri menatapku dengan tatapan teduhnya, membuatku sediit meleleh. Jujur, aku masih merindukannya. Sangat!

“Ya udah Sas, lo duluan aja nggak apa-apa kan?” aku menatap Sasya. Sasya menghela napas pelan. Pandangannya dibuat sebete mungkin, tapi akhirnya sasya mengalah. “Oke deh. Gue duluan.” Sasya berjalan meninggalkan aku dan Yuri.

Cukup lama kami dalam kondisi saling diam-diaman. Mata sipit cowok asli Jepang itu menerawang pelan. Tangan kanannya ia masukkan ke saku celananya. “Kenapa Yuri?” tanyaku memecah keheningan. Rasa kaku itu muncul, apalagi kini aku sudah tahu dia adalah saudara tiriku.

Yuri menatapku dengan tatapan saat pertama kali kami kenal dulu. Tatapan yang sangat sulit aku artikan. Mata itu masih sama. “Gue kangen sama lo. Gue ngerasa kehilangan lo. Gue tahu keputusan gue itu salah.” Aku menatap mata sipit itu. Mencoba mencari kebenaran di mata itu. Aku yakin mata itu jujur. Bukankah mata tidak pernah berbohong?

Aku menghela napas pelan. “So?” tanyaku. Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi.

“Gue mau ngucapin ribuan terima kasih karena lo telah berpura-pura buta saat melihat semua kesalahan gue selama ini.” Yuri tersenyum pelan. Aku masih asik menatap wajah Yuri. “Lo mau nggak kembali sama gue?” aku tersentak kaget mendengar perkataan Yuri. Kuhela napasku pelan. Yuri menatap manis mataku, seakan yang diucapkannya itu adalah hal yang paling penting. Sebuah lagu jar off heartnya Christina Perri mengalun merdu di memori otakku.

Yo know, I can’t take one more step, towards you
Cause all that’s waiting is regret
Don’t you know I’m not your ghost anymore
I lost the love, I loved the most
I learned to live, half alive
Now you want me one more time

“Maaf, gue nggak bisa. Gue nggak bisa jalani cinta terlarang ini.” Kataku pelan. Namun aku yakin Yuri bisa mendengar semuanya. Yuri mengernyit tak mengerti. Dengan terburu-buru, aku berjalan meninggalkan Yuri.

Memang mutiara hitam itu sudah menemaniku setahun lamanya, tapi aku nggak bisa pungkiri bahwa disaat aku down mutiara putihlah yang selalu ada untukku. Pada akhirnya nanti, aku akan sampai pada titik dimana aku harus bangun dan memilih. Siapakah yang akan aku puluh? Ya, aku tahu jawabannya.

Aku menghela napas pelan sembari tanganku memilin-milin ujung rambutku. Pandangan mataku tertuju pada Bu Toshi yang tengah memberikan hasil ulangan kani dua hari yang lalu. Sejujurnya aku deg-degan banget. Aku sudah berusaha semampu aku buat belajar setiap malam.

Bu Toshi berdiri di samping mejaku dan menyerahkan kertas ulangan kepadaku. Aku meraihh kertas itu. Tak berniat sama sekali untuk melihat hasilnya. Guru matematika itu berjalan meninggalkan mejaku. Kututup mataku sembari berdo’a pelan. Dengan lincah tanganku membuka kertas itu. Aku berdecak kagum saat kulihat nilai perfect di kertas itu. Yes! Nggak sia-sia perjuanganku.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Aku yakin, guru ini tidak akan bisa lagi menghinaku. “Perhatikan semuanya! Selamat bagi yang mendapat nilai tinggi dan untuk yang remed, saya harap kalian bisa mencari saya di luar jam pelajaran. Untuk Feliza, kamu waktu ujian nyontek sama siapa?”

Aku tersentak kaget. Kata-kata guru itu benar-benar menyentak perasaanku. “Ulangan berikutnya, saya akan awasi kamu lebih ketat Feliza!” lanjut Bu Toshi. Air mataku benar-benar hampir menetes. Bagaimana mungkin seorang guru bisa berkata begitu? Aku belajar buat dapetin itu semua, tapi guru itu tak menghargainya.

Karena nggak kuat menahan air mata yang terus berdesakan keluar, aku permisi dengan alasan ke WC. Aku berjalan dengan gontai menuju taman. Tatapanku kosong. Hatiku terasa begitu sakit, seperti tertancap beribu-ribu pisau tajam. Kini aku tinggal menunggu pisau itu membunuhku secara berlahan-lahan.