Always Love you Bagian 27

Kududuki bangku Taman. Aku menutup wajahku dengan tangan. Tangisanku pecah. Aku tahu, aku Creek cengeng. Cewek yang hanya bisa nangis jika dihadapkan dengan masalah. “Mau tissue?” Aku menurunkan tanganku dari wajah. Mata sembabku menatap cowok yang berdiri di hadapanku sembari mengulurkan tissue.

Aku menatap cowok Itu selah Tak percaya. “Yuri?” Kataku lirih sembari meraih tissue yang diulurkannya. Yuri tersenyum menatapku sembari duduk di sampingku.

“Lo kenapa?”
“Fel. Hhh. Hh. Lo nggak pa-” dengan napas tersengal-sengal Juno datang mendekati Taman Dan kata-katanya terhenti saat menatap sosok Yuri yang sudah duduk di sampingku sebelah kiriku. Seketika Susana hening. Aku menatap kedua cowok Itu bergantian. Aku menghela napas sembari mengucapkan tissue pemberian Yuri ke wajahku.
“Gue nggak Papa kok. Gue ke WC dulu ya.” Kataku sembari berjalan meninggalkan kedua cowok berperawakan ganteng Itu.

Yuri Dan Juno menatap kepergian Feliza yang semakin menjauh. Yuri menyandarkan kepalanya kebangku Taman, sambil memejamkan mata. Sebuah rasa kehilangan Itu menyergapnya. Begitu juga dengan Juno. Juno duduk di samping Yuri. Mata Juno menerawang pelan sembari menarik headset dari telinganya.

“Kenapa sih?” Tanya Juno sembari menatap Yuri. Yuri membuka matanya sembari mengernyitkan pelan. “Apaan?” Yuri menatap Juno dengan tatapan mau-lo-apa-sih.
“Lo kan udah putus Yuri!”
“Gue memang udah PUTUS dengan dia, tapi hati gue nggak bisa PUTUS dari dia!” Yuri menekankan kalimatnya pada kata ‘putus’. Juno menghela napas pelan sembari memasukkan tangannya pada saku jaket yang tengah ia kenakan.

Kedua cowok ganteng yang memiliki postur badan yang hampir mirip ini menatap kosong ke langit. Mereka sama-sama tahu seberapa kuatnya seorang Feliza di mata mereka Dan seberapa inginnya mereka ngelindungi Feliza. Bagi mereka Feliza adalah segala-galanya.

Gue sadar sesadar-sadarnya kalau gue memang benar-benar menyayangi Feliza. Gue ingin memperbaiki kesalahan gue yang pernah nyianyiain dia. Gue yakin kalau dia masih Sayang banget sama gue. Gue tahu sedalam apa perasaan dia ke gue, tapi cowok di samping gue ini nggak bisa diremehkan. Batin Yuri. Yuri tersenyum sinis.

“Nggak bisa buka sedikit perasaan lo buat Vanessa?” Juno menatap manis mata Yuri.
“Iya, apa nggak bisa sedikit Aja ada ruang di hati lo buat gue?” Juno Dan Yuri menatap sumber suara yang tepat ada di belakang mereka. “Vanessa?” Sejak kapan?” Tanya Juno.
“Gue Sayang sama lo, apa lo nggak pernah sadari? Atau lo memang buta? Lo nggak pernah ngerti perasaan gue Yuri. Lo nggak tahu seberapa sakitnya gue. Kenapa sih gue selalu gagal dalam yang namanya cinta?” Vanessa menghela napasnya. Sekuat tenaga Vanessa menahan air matanya. Yuri memijat-mijat kepalanya.
“Sejak Pertama Kali gue kenal lo. Awalnya gue suka sama lo cuma karena lo Itu mirip mantan gue, tapi lama-lama gue sadar kalau lo jauh lebih baik dari mantan gue Itu. Setahun lamanya gue nunggu lo putus dari Feliza Dan berharap gue bisa gantiin Feliza di hati lo, tapi nyatanya? Gue selalu buatin makanan buat lo setiap Hari. Gue bantuin semua pekerjaan lo di organisasi dengan suka rela. Gue hibur lo di saat lo badmood. Apa semua Itu kurang?” Kata Vanessa dengan suara bergetar.

Juno hanya diam. Sama sekali Tak ingin terlibat dalam percakapan Itu Dan sama sekali Tak ingin beranjak dari tempat ini. Juno menghembuskan napasnya sembari kembali memasang headsetnya.

“Maaf, tapi bukan lo yang ada di hati gue. Please jangan berharap ke gue lagi. Gue yakin lo bisa dapetin yang lebih baik dari gue.” Ucap Yuri.
“Oh gitu? Kalau itu keinginanku lo, gue akan berusaha buat ngapus rasa ini buat lo. Sayonara.”