Always Love you Bagian 28

-Percayalah, cinta itu rumit dan takkan bisa didapatkan semudah membalikkan telapak tangan-

Aku menatap langit-langit kamarku dengan ekspresi setengah bosan. Jam masih menunjukkan tepat di pukul satu siang. Aku mendengus pelan sembari membolak-balikkan badanku. Kejadian di sekolah kemarin dengan Bu Toshi benar-benar membuatku kembali badmood. Tayangan itu kembali berputar di memori otakku. Tanpa aku sadari tetesan bening perlahan membasahi pipiku.

Aku belajar, tapi mereka nggak percaya! Mereka seakan menutup mata. Orang bodoh kalau dapat nilai bagus malah dicurigai. Dapat nilai jelek makin dihina. Nahas!

Drrrt. Drrt. Drrt. Hp ku bergetar. Kuraih Hp yang tergeletak di atas bedside table yang posisinya berada di samping kiri tempat tidurku.

From : ~Juno~
Keluar dong! Gue di depan rumah lo.

To : ~Juno~
Pulang deh!

Terkirim. Aku kembali membolak-balikkan tubuhku. Kututupi setengah badanku dengan selimut. Beberapa menit kemudian SMS balasan dari Juno muncul. Aku membuka SMS itu.

From : ~Juno~
Tega amat! Rumah kita dari ujung ke ujung lho. KELUAR!

Aku manyun. Bibirku kumajukkan beberapa menit. “FEL! TEMEN KAMU ITU!” mama teriak membuatku mrnutup telinga dengan kedua tanganku. Dengan kesal aku turun dari tempat tidurku. Tanpa mengganti baju aku menemui Juno yang tengah berbincang-bincang dengan Mama. “ngapain sih Juno?” aku melipat tanganku di dada. Alis mata kiriku naik.

“Sama teman kok kaya gitu sih Fel?”
Aku merutuk kesal, sedangkan Juno tersenyum penuh kemenangan. “Nggak apa-apa kok Tante. Udah biasa. Boleh nggak Tan kalau Feliza saya pinjam sebenatar?”
“Ke mana sih? Aku malas tahu di musim gugur ini keluar rumah!” aku menjawab sinis. “Eh, nggak boleh gitu Fel. Dia jauh-jauh lo ngejemput kamu. Udah pergi sana!” ujar Mama sambil menyunggingkan senyumnya. Mama meraih tongkatnya dan berjalan menjauh meninggalkan aku dan Juno. Juno tersenyum penuh kemenangan lagi.
“Isssh! Lo itu. Ya udah, gue ganti baju dulu!” kataku sembari beranjak meninggalkan Juno. “Juno Arya Wibawa?” suara Kak Rendi menghentikan langkahku.
“Ya? Apa kita saling kenal?” Juno mengernyit. Aku tak mempedulikan lagi percakapan antara Kak Rendi dan Juno. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku.

Mobil Juno berhenti tepat di sebuah rumah sederhana bercat putih. Pohon-pohon yang berada di sekitar rumah itu menggugurkan daun-daunnya yang berwarna kuning, oranye atau merah. Juno keluar dari mobilnya dan segera membukakan pintu untukku. Aku masih saja menunjukkan ekspresi cemberut.

“Ini di mana sih Juno?” mataku memencar ke segala arah. Sepi. Rumah ini memang agak terasing dari pemukiman warga. Aku bergisik ngeri. Pikiran paranoidku muncul. “Heh, jangan mikir yang nggak-nggak. Gue cowok baik-baik!” Juno menepuk lembut pundakku. Tampaknya cowok ini bisa membaca pikiranku. “Tuh, baca!” tunjuk Juno pada sebuah papan besar yang terletak tepat di samping rumah.

Yayawan Tuna Netra. Begitulah isi yang tertulis di papan itu. Kuhembuskan napas lega. “Huh, kirain!” desahku pelan. “Makanya jangan berpikir yang ngga-nggak dulu! Ayo masuk.” Juno menarik pergelangan tanganku. Setelah sampai di rumah itu, Juno berbicara sebentar dengan perempuan setengah baya yang kutaksir berumur 46 tahun.

“Kita diperbolehkan buat ngelihat-lihat. Ayo.” Juno mengajakku berkeliling rumah itu. Aku menatap pemandangan yang membuat hatiku bergetar. Ada seorang anak laki-laki yang buta sejak lahir, tapi hebatnya dia bisa bermain piano dengan sangat indahnya. Di sudut kiri ruangan ada juga seorang cowok seumuran denganku tengah nge-dance hanya dengan satu kaki. Dan masih banyak lagi pemandangan yang menurutku sangat luar biasa.

Aku berdecak kagum. Hatiku luruh. Aku ingin menangis rasanya. Sungguh, aku jauh lebih beruntung dari pada mereka. “Kenapa tiba-tiba lo ngajak gue ke sini?” aku menatap Juno sembari tersenyum.

“Karena lo butuh ini.”

Aku tak mengerti dengan jawab Juno. Kali ini kami duduk di sebuah kursi di taman belakang. Daun-daun berguguran menyentuh indah rambutku. “Maksud lo apa?” mata teduh milik Juno menatap manis mataku. Diteguknya segelas air mineral yang entah diambilnya dari mana.

“Gue Cuma mau lo sadar. Gue Cuma mau ngasi lihat ke lo bahwa di dunia ini masih banyak prang yang jauh lebih nggak beruntung dari lo. Tapi lihat mereka, apa mereka menyesali semua itu? Apa mereka terus-terusan menangis?”

Aku tertegun. Kutundukkan kepalaku sembari mencerna setiap kata yang terucap dari cowok yang memiliki wajah lebih dari good-looking itu. “Mereka berusaha sekuat yang mereka bisa buat dapetin apa yang mereka inginkan. Mereka dihina, dicaci maki dan dilecehkan, tapi mereka seakan nggak peduli. Justru dengan hinaan itu mereka malah lebih termotivasi buat buktiin bahwa mereka itu hebat!”