Always Love you Bagian 29

“Kenapa sih lo selalu ngemotivasi gue?”
“Karena lo sangat-sangat butuh itu. Dulu waktu gue masih SMP, gue ngerasa down banget soalnya nyokap gue meninggal. Semuanya terasa berubah. Bokap gue jadi sangat pendiam dan nggak merhatiin gue lagi. Gue seakan pengen. Gue coba bunuh diri dan Yuri nolongin gue. Dia nyadarin gue akan hidup.” Tatapan mata Juno terus ke depan. Aku tertegun mendengar cerita Juno. Tak pernah menyangka hidupnya juga kelam dulu. Pandangan mataku tertuju pada beberapa anak kecil yang tengah berlatih berenang. Mereka semua bisu dan tuli. Kunaikkan kaki kananku pada kaki kiriku.
“jangan pernah menyerah pada kehidupan, tapi biarlah kehidupan yang menyerah pada kita. Saat lo ingin nyerah, lihatlah mereka yang ada di sekitar lo yang bisa bangkit dari segala keterbatasannya. Cuma o sendiri yang bisa buat nama lo dikenal dan berharga buat orang-orang.”
”Makasih Juno. Makasih banget.” Kali ini aku sudah benar-benar meneteskan air mataku di hadapan Juno. Juno mengusap lembut air mata yang jatuh di pipiku. Bayangan wajah Mama yang tegar muncu di benakku.
“jangan pernah nangis lagi di hadapan gue, oke? Gue sayang sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?”

Aku tertegun. Apa lgi yang aku tunggu? Mutiara putih itu sudah benar-benar ada di hadapanku, tinggal aku raih ke genggamanku. Aku mengangguk pelan. “Gue akan coba buat sayang sama lo. Maafin gue. Gue ngerasa bersalah banget sama lo.” Kataku pelan.

“Lo jangan pernah merasa bersalah. Ini jalan gue. Pilihan gue dan lo belahan jiwa gue. Sekali pun yang lo pilih untuk jadi belahan jiwa lo bukan gue, tapi Yuri. Gue gak peduli. Gue memang tidak bisa sesempurna Yuri di mata lo, tapi gue akan berusaha mencintai lo dengan cara yang sempurna.” Juno tersenyum lembut.

“Uwwek! What the hell is this! Geli gue dengan kata-kata gue sendiri.” Juno meludah pelan. Bahunya bergidik ngeri. Aku menampar pelan pipi Juno.
“Lo itu! Udah romantic malah diru-“ kata-kata terputus oleh lagu Westlife yang mengalun dari Hp Juno. “Bentar.” Juno meraih Hp nya dan membaca SMS yang tertera dari HP nya. Ekspresi wajah Juno kaget. “Juno, kenapa?”
Wajah Juno pucat dan gelisah. “Kita ke rumah sakit sekarang!” Juno berjalan dengan terburu-buru di depanku. Aku mengikuti langkah Juno. “Juno. Kenapa sih? Siapa yang sakit?” tanyaku penasaran. “Vanesa.”
“Haa? Vanesa? Lo ada hubungan apa dengan dia?” aku kecewa mendengar jawaban Juno, padahal aku udah mulai buka hati aku buat dia. Aku lihat betul bagaimana cemas dan paniknya Juno saat mendengar kabar ini.
“Dia sepupu gue!”

Juno mondar-mandir di depan ruang ICU sembari mengacak-acak rambutnya. Beberapa kali dilihatnya jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Aku hanya didik termenung smebari menatap Juno. “Juno. Kamu kenal gadis yang di dalam?” seorang wanita separuh baya dengan baju elegannya menghampiri Juno. Juno tersentak dan menyalami wanita itu. “Tante Haruka? Sedang apa di sini? Dia sepupu aku Tan, namanya Vanesa.

“Sepupu kamu? Maafin Tante ya Juno. Tadi Tante hampir aja diserempet mobil, tapi beruntung Vanesa yang nyelamatin nyawa Tante. Maafin Tante.” Perempuan cantik setengah baya bernama Haruka itu merasa bersalah. Wajahnya menampakan ekspresi cemas. “Bukan salah Tante kok. Ini udah takdir Tan.” Juno tersenyum dewasa.

“Mama?” seorang cowok dengan wajah tegang berlari mendekati Tante Haruka. Lagi-lagi aku memandang kaget. Kupijit-pijit kepalaku yang terasa sangat pusing. “Mama nggak apa-apa kan?”
“Mama nggak kenapa-kenapa Yuri. Vanesa yang udah nolongin Mama.” Ujar Tante Hruka sambil menunjuk ruang ICU tempat Vanesa dirawat. Yuri memeluk Tante Haruka erat-erat. “Vanesa? Aku takut banget mama kenapa-napa.”

Aku menatap pemandangan di luar jendela. Angin berhembus meniup unggukan dedaunan yang berguguran. Tentetan kejadian tadi benar-benar menyita pikiranku. Aku menarik napas dan detik berikutnya menghembuskannya dengan kasar. “dari mana aja tadi?” Kak Rendi berdiri di ambang pintu kamarku sembari menyilangkan tangannya di dada.

Aku menatap aneh kak Rendi. “Jalan Kak.”
“Sama Juno?” Kak Rendi menginterogasiku. Aku mengangguk pelan. “Sejak kapan kenal Juno?” Kak Rendi duduk di kasurku. Matanya tajam menatapku. Alis matanya bertaut.
“Kenapa sih?” aku balas menatap Kak Rendi dengan pandangan sinis.
“kakak Cuma nggak suka kalau lo punya hubungan apa pun dengan Juno.” Kenapa lagi ini? Apa Kak Rendi udah tahu kalau Juno itu sepupunya Vanesa? Aku mendengus kesal. “Emangnya kenapa sih? Ada apa lagi?”
“Udahlah Fel. Turutin aja apa kata kakakmu. Pasti itu yang terbaik buat kamu.” Mama berdiri di depan pintu dengan tongkat yang selalu setia menemaninya. Aku memandang Mama dan Kak Rendi dengan tatapan tidak mmengerti. Perasaan tadi mama baik-baik saja deh dengan Juno.
“Kenapa?”
“NGGAK USAH PUNYA HUBUNGAN APA-APA DENGAN JUNO!” kak Rendi membentakku sambil berjalan menuju Mama dan menuntun Mama meninggalkan kamarku. Aku tertegun. Kepalaku terasa pusing. Lagi-lagi aku ingin menangis, tapi aku teringat kejadian di yayasan tadi.

Setiap hari hidup punya 100 kejutan untukku. Kejutan yang kadang bikin aku nge-down. Bikin aku nangis dan pengen mati. Bikin aku pengen teriak sekenceng-kencengnya dan bilang kalau aku nggak kuat dengan semua ini. Tapi aku tersadar kalau di dunia ini masih ada berjuta-juta orang yang punya kehidupan lebih ‘kelam’ dari pada hidupku. Mereka kuat. Mereka bilang ke hidup kalau mereka punya 1000 cara untuk tetap bersemangat. 1000 cara untuk tetap bertahan hidup.

Mereka hidup tanpa ampun. Mereka punya kekurangan fisik, tapi mereka mampu lebih hebat dari orang-orang normal. Aku harus kuat seperti mereka kan? Setidaknya hidup aku jauh lebih baik dari pada mereka. Fisikku lengkap tanpa kurang satu pun. Aku punya Mama dan kaka yang amat menyayangiku. Terus kenapa aku tidak bisa bersyukur seperti mereka?