Always Love you Bagian 3

Cinta itu tak pernah peduli secacat apa orang itu, dan lo selalu percaya padanya. Bahkan di saat dia bohong sekali pun. Lo tetap percaya! Itulah yang saat ini tengah aku alami.

“Kenapa Fel? Lo ngeihat apa?” Tanya Sasya sambil berbisik. Aku terkejut sembari buru-buru menghapus air mataku. “Enggak! Nggak apa-apa.” Jawabku gugup. Sasya menatap mataku, mencoba mencari kejujuran di mata ini.
“Eh, lo nangis?” Tanya Sasya mencurigai.
“Iya, sedih gue ngedengar cerita Bu Aiko. Mengharukan banget!” Sasya tercengang menatapku.
“Emang bagian mana yang bikin sedih? Perasaan gue dari tadi ngedengerin cerita BU Aiko tapi nggak nemu tuh cerita sedih.” Papar Sasya panjang lebar. Aku menghela napas. Jujur, aku nggak ingin Sasya tahu yang terjadi. Aku Cuma nggak ingin Sassya nyuruh aku putus dari Yuri. Nggak mungkin semudah itu buat aku ngelupain setahun kenangan yang kami lalui bersama.

Drrrrt. Drrt. Drrt.
From : Kak Rendi {}
Dek, gue ke rumah kakek! Kakek lagi sakit. Entar lo pulang sendiri aja ya? Jaga Mama baik-baik!

Aku menatap SMS dari Kak Rendi. Nggak dijemput berarti pulang sendiri dong? Naik taksi? Noprob!

Aku menghentikan taksi tepat di depan sebuah toko Hiro. Toko itu menjual berbagai macam bunga. Sopir taksi itu segera turun dan membukakan pintu untukku. Kalau di Jepang, penumpang taksi dilarang membuka dan menutup pintu sendiri, tapi yang ngelakuin itu ya sopir taksinya. Aku menatap toko mungil itu sembari tersenyum. “Okasan! Tadaima (Mama! Aku pulang).” Teriakku ketika kakiku menginjak masuk ke dalam toko itu. Aku menghela napas. Berbagai macam aroma bunga menyergap masuk ke hidungku.

“Tumben cepat pulangnya. Masuk gih, mama udah siapin makan siang.” Ucap Mama yang tengah duduk di samping Mbak Rey, sang penjaga kasir. Aku berjalan ke arah Mama sembari mencium tangan Mama yang sudah tak lembut lagi. Aku menatap wajah Mama yang mulai menua dimakan usia.
“Harusnya nggak usah serepot itu Mah!” kataku. Mama tersenyum. Tangannya mencoba menggapai pipiku. Dengan sigap aku meraih tangan Mama dan menaruhnya di pipiku. “Nggak repotlah! Pasti wajah kamu cantik sekali ya sayang.” ucap mama sambil mengelus-elus lembut wajahku.
“Ya dong! Mamanya aja cantik gitu. Mama istirahat ya? Entar biar aku gantiin Mama jaga toko.” Kataku sembari menuntun Mama menuju kamar Mama. Memang toko ini merangkap sekaligus menjadi rumahku. “Mama bisa sendiri kok Fel, nggak perlu dituntun gini. Tolong ambilin aja tongkat Mama.” Suruh wanita setengah baya itu. Aku terdiam sembari berjalan mengambilkan tongkat Mama dan memberikannya kepada Mama. Mama tersenyum dan mulai berjalan menuju kamarnya dengan tongkat. Seperti yang kalian ketahui, mamaku buta dan itu semua karena Papa! Begitu menurutku.

Aku berjalan menuju dapur, membuka tudung saji dan mendapatkan semangkok mie ramen di sana. Aku menghela napas. Selera makanku tiba-tiba hilang. Aku bukannya nggak bersyukur, tapi kalau tiap hari makannya mie ramen mulu siapa yang tahan? Aku kembali ke kamarku. Membuka jendela dan duduk di bingkai jendela. Mataku menatap langit. Kenangan masa lalu lagi-lagi muncul.

Setahun belakangan ini kehidupanku hancur, begitulah menurutku. Papa dan Mama sering sekali bertengkar. Suara bantingan barang menjadi backsound keadaan rumah kami saat itu. Rumah mewah yang kami diami lebih mirip neraka. Aku dan Kak Rendi lebih sering jarang di rumah dengan alasan tak ingin mendengar pertengkaran Papa dan Mama. Papaku asli Indonesia yang mempunyai banyak perusahaan di Jepang, sedangkan Mamaku gadis cantik asli Jepang.

Jujur, aku begitu kecewa! Papa berubah, itu menurutku! Juga mungkin menurut Mama dan Kak Rendi. Hingga pada suatu hari Papa pulang dengan membawa istri barunya dan ternyata kuketahui bahwa mereka telah menikah saat Kak Rendi berusia 1 tahun. Hebat bukan Papaku? Sangat pandai menyimpan sebuah kebohongan.

Mama yang sangat kalap mengetahui itu segera mengambil kunci mobilnya dan pergi melajukan mobil. “papa jahat!” teriakku sambil berlari menuju kamarku. Istana yang dulu sempat kubangun bersama Papa, Mama dan Kak Rendi dalam khayalanku tiba-tiba musnah. Aku mengurung diri di kamar, sedangkan Kak Rendi hanya diam sambil tersenyum sinis. Entah apa yang tengah ada di pikiran kakaku saat itu.

Setelah itu, aku mendengar kabar kalau Mama kecelakaan dan lebih parahnya Mama harus kehilangan kedua matanya. Mungkin semua ini sulit kumengerti. “Ma, lihat aku Ma! Mama bisa lihat aku kan? Ma!”

Cepat-cepat kututup semua episode itu. Aku menghela napas pelan. Sejak kejadian itu, Mama lebih milih bercerai dari Papa dan membangun toko bunga mungil ini dari sisa tabungannya sendiri. Sedangkan Papa? Ah, lelaki itu hidup bersama istri barunya dan tidak mempedulikan kami. Oke aku ralat! Dia masih membiayai sekolahku dan kuliah Kak Rendi.

Hidup itu aneh! Bumi akan selalu berputar di porosnya bagaikan lingkaran setan. Aku yang dulunya seorang putri terhormat, sekarang malah jadinya bukan siapa-siapa lagi! Nahas memang. Dulunya di atas, sekarang malah di bawah! Sikap teman-temanku di sekolah juga berubah terhadapku, kecuali sahabatku Sasya. Dulu pas aku masih Berjaya mereka ngedeketin aku, nganggap aku sahabat. Eh, pas aku jatuh dan butuh mereka, mereka malah pergi.

Aku membenci hidupku! Aku menghela napas pelan. Wajah Yuri lagi-lagi membayangiku.