Always Love you Bagian 30

-Pada akhirnya setiap orang punya pilihannya sendiri untuk menggapai sukses-

Aku meraih sebuah buku di rak perpustakaan. Ini kali pertama aku memasuki ruang perpustakaan. Dulu aku menganggap membaca adalah suatu hal yang amat sangat tidak menyenangkan. Ngapain coba harus ngebaca deretan huruf yang usang? Tapi kini aku sadar bahwa dalam hidup ini aku punya keinginan dan keinginan itu harus diwujudkan dengan salah satu caranya yaitu banyak membaca, apalagi aku tinggal di Negara yang membaca dijadikan sebagai prioritas.

Kusandarkan tubuhku pada kursi yang tersedia. Mataku jalang menatap barisan deret dari buku yang tengah kubaca. Jari tanganku bergerak membalikkan lembaran demi lembaran yang telah selesai kulahap.

“Haay, pagi sayang.” Juno berdiri di hadapanku dengan senyumnya yang menggoda. Aku seolah tak acuh. Mataku masih tertuju kepada buku yang tengah kubaca.

Juno menjawil daguku saat mendapati tak ada respon dariku. Kuturunkan buku itu dari pandanganku dan beralih menatap Juno yang tengah tersenyum sangat manis. “Apa sih Juno?” tanyaku sinis dengan pelan. Aku sama sekali tidak ingin mengacaukan suasana perpustakaan yang memang harus selalu sunyi.

“Gue Cuma kangen sama my princes ku. Dari tadi pagi kita nggak ketemu. “Juno duduk di sampingku. Suaranya yang besar mampu membuat seisi perpustakaan menatap kami. Aku mengacungkan jari telunjukku tepat di depan bibirku.
“Kita keluar aja yok honey?” ujar Juno dengan berbisik. Geli yang kurasakan saat Juno memanggil dengan sebutan sejenis ‘honey’, ‘sayang’, ‘maduku’, itu terdengar sangat lebay menurutku. Aku buru-buru menggeleng mendengar ajakan dari Juno. “Mending lo deh yang keluar.” Aku kembali asik dengan bukuku.

Juno merebut yang tengah ku baca. “Masa gue kala dengan buku ini!” Juno menatap buku yang barusan direbutnya. “Juno? Apa sih?” aku menatap Juno dengan ekspresi sebal. Tanganku kulipat di depan dada. Aku menatapnya dengan tatapan sinis. Juno yang kaya gini nih yang nggak aku suka!

“Lo cuek hari ini. Kenapa?” Juno menatap manis cokelat mataku. Memandang lurus di manic mata ini. Aku cuek ya? Aku Cuma kepikiran dengan perkataan Kak Rendi dan Mama tempo hari yang lalu. “Siapa yang cuek? Nggak kok. Cuma lagi pengen baca. Siniin dong!” aku mencoba meraih buku dari tangan Juno, tapi Juno malah mempermainkanku dengan membuat buku itu sulit kuraih.

“Dih, mesra amat. Perpustakaan ini woi!” Kenji menatap aku dan Juno dengan senyuman sinis. Alis mata kirinya ia naikkan. Tangan kanannya menenteng sebuah buku dan tangan kirinya ia masukin di saku celananya. Kadang aku heran dengan mata Kenji. Bisa-bisanya dia bilang adegan aku dan Juno ini mesra yang jelas-jelas kami sedang berantem.

Juno masih asik menjauhkan buku iru dariku. Aku menyerah. Kuhela napas pelan. “Kenji! Kita itu bukan lagi mesra-mesraan tahu!” aku mendengus kesal menatap Kenji yang kini sudah duduk di hadapan Juno. Juno menatap buku yang dibawa Kenji dengan tatapan heran.

“Haa? Ngapain lo baca psikologi anak Ken?” tawa Juno meledak seisi perpustakaan menatap sinis ke arah kami lagi. Kenji buru-buru menyembunyikan bukunya. Juno hanya bisa mengucap maaf ke seisi perpustakaan sembari tersenyum hambar.

“Ini juga dibaca. Yang ini. Terus yang ini. Ini. Ini pokoknya semua harus dibaca!” Sasya berdiri di samping Kenji dan menunjukkan lima lebih tumpukan buku ke arah Kenji. Sasya meletakkan buku-buku itu di atas meja di hadapan Kenji. Aku dan Juno sama-sama melongo dan menahan tawa.

Kenji membenamkan kepalanya pada meja perpustakaan. “Aduh pacar! Kok banyak banget sih!” keluh Kenji sambil mengacak-acak rambutnya. Tatapannya memelas kepada Sasya. Aku mengernyit mendengar kata-kata Kenji. Alisku bertaut. Pacar? Sejak kapan?

“Pokoknya pacar harus baca smeuanya. Ini tuh nambah pengetahuan tahu. Lihat nih, ini buku tentang anatomi makhluk hidup. Yang ini ten-“
“Gue bersyukur cewek gue nggak kaya gitu!” Juno tertawa sambil mengelus lembut rambutku. Sasya yang tengah membolak-balikkan buku berhenti dari aktifitasnya dan menatap kami. Begitu juga dengan Kenji. “kalian? Agh! Sejak kapan?” Sasya menuding ke arah aku dan Juno.
“Ehm! Sejak kapan ya? Kalian sendiri sejak kapan?” aku membalikkan pertanyaan mereka. Sasya terlihat salah tingkah. “Kami sejak kemarin. Iya kan pacar?” Kenji tersenyum sangat manis.

Tampaknya obrolan kami mengganggu seisi perpustakaan dan dengan sangat tidak terhormat, kami diusir dari perpustakaan. Aku berdiri di depan pintu luar perpustakaan sembari menyandarkan kepalaku ke tembok. Juno menarik tanganku untuk berjalan di samping kanannya, sedangkan di samping kiri Juno berjalan Kenji.

“Eh pacar! Tungguin dong.” Sasya berteriak sambil masih memasang sepatunya. Kenji berhenti dan menatap ke arah Sasya. “Aduh pacar lama amat sih!” Kenji berjalan mendekati Sasya. Aku tersenyum geli saat mendengar percakapan mereka. Kenapa mereka harus manggil ‘pacar’? kenapa bukan ‘sayang’ atau sejenisnya? Entar kalau mereka menikah masa manggilnya ‘istri’? terus kalau putus manggilnya ‘mantan’ dong?

Aku berdecak tak mengerti. “Kenpa senyum-senyum gitu?” Juno menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajahku karena tinggiku hanya sebahu Juno. Aku menggeleng cepat.