Always Love you Bagian 31

Sekarang tepat jam Dua belas siang. Lorong Rumah sakit tampak ramai karena jam segini memang jam besuk. Kali ini aku, Juno, Sasya, Kenji sedang berjalan di lorong Rumah sakit untuk menuju kamar Vanesa. Kata Juno, Vanesa belum sadarkan diri.
Drrrt. Drrrt. Drrrt. Aku meraih Hp ku yang bergetar dari dalam tasku.
From : Kak Rendi
Ingat ya pesan Kakak! Jangan ada hubungan apa pun dengan Juno! Kelak suatu Hari lo bakal mengerti. Always Love you, dek.
Entah apa yang aku lakukan saat ini. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Juno tersenyum di sampingku sembari menggenggam erat tanganku. Mau nggak Mai Aki membalas senyun Juno. Senyum yang dapat menenangkanku. Kami tiba di kamar Vanesa. Aku tertegun saat mendapati Yuri di samping tempat tidur Vanesa sembari menggenggam erat tangan Kiri Vanesa.
Yuri memandangku kami dengan tatapan nanar, seakan ada yang hilang dalam dirinya. Pandangan Yuri kembali ke arah Vanesa, berharap gadis yang terbaring lemah di atas tempat tidur Itu kembali membukakan mata. Kenji mendekati Yuri sembari merangkul pundak Yuri.
“Lo harus kuat oke?” Ucap Kenji yang sangat mengenal Yuri. Ia tahu Yuri merasa sangat terpukul. Aku duduk di sofa di samping Sasya. “Sayang, gue ke toilet bentar ya,” pamit Juno sembari berjalan meninggalkan kamar Vanesa. Selang beberapa menit Juno pergi, Yuri pamit untuk ke kantin membeli makanan. Ia menolak tawaran Kenji untuk menemaninya.
Juno membasuh wajahnya di westafel kamar Mandi. Dengan kasar Juno mengacak-acak rambutnya sesuai keinginannya. Bayangannya berputar saat Mama nya masih ada.
Mama menyisir rambutnya Juno dengan rapi. Betul-betul seperti rambut anak cupu yang dibelah tengah. Juno memandangku wajahnya di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya dengan miris. Juno cemberut.
“Duh Mama! Kok jadi gini rambutnya?” Juno kembali mengacak-acak rambutnya. Perempuan berwajah Arab yang dipanggil Mama oleh Juno Itu tersenyum lembut sambil meraih tangan Juno.
“It nggak rapi Juno! Sini Mama rapiin.” Mama mulai lagi menyisir rambut Juno yang awalnya berdiri sekarang kuncup. Akhirnya Juno pasrah.
Juno menatap pantulan wajahnya di cermin. Kata-kata Mama terekam jelas di memori otaknya. “Jadilah seperti ilalang Juno. Ilalang yang kuat yang bisa hidup di Mana Saja! Jangan jadi seperti kunang-kunang yang di malam hari dia bersinar dengan indah, tapi paginya mati.”
Juno tersenyum saat wajah Feliza muncul di benaknya. “Parah lo senyum-senyum sendiri!” Yuri berdiri di belakang Juno. Pantulan wajah Yuri di cermin membuat Juno menciptakan sedikit ekspresi bete. Juno membalikkan badannya. Kini mereka sekarang saling berhadapan.
“Sekarang gue udah jadian dengan Feliza.” Juno menjelaskan tanpa diminta. Yuri menatap Juno dengan Alis mata bertaut. “So?” Tanya Yuri dengan tatapan bingung. “Jangan ganggu dia lagi.”
Yuri tertawa sambil menatap Juno. “Juno, dengerin gue ya? Gue nggak Mau mengulang kesalahan guess untuk kedua kalinya!” Kata Yuri membuat Juno mengernyit Tak mengerti. “Maksud?”
“Gue udah nyakitin Feliza Dan gue berharap cuma Feliza yang tersakiti oleh ulah sialan gue! Gue nggak mau Hal Itu terulang lagi dengan Vanesa. Gue nggak Mau jadi orang berengsek lagi.” Juno menatap mata Yuri. Mencoba mencari kejujuran di mata Itu. Juno tahu arah pembicaraan Yuri kemana.
“Jadi?” Tanya Juno mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Ya! Gue jagain Vanesa Dan lo jagain Feliza. Ingat jangan pernah sakitin dia!” Yuri memukul dada Juno sembari tersenyum sinis Dan berjalan keluar dari WC. Mau nggak mau Juno tersenyum tulus.
“Lo tenang Aja, dia Aman sama gue!” Kata Juno yang entah untuk siapa.
Dan pada akhirnya cinta Itu sendirilah yang akan memilih. Always Love you, Feliza! Gue akan selalu ngelindungin lo. Batin Juno yang sangat menyadari gadisnya sangat rapuh. Rapuh seperti kapas yang akan terbang tertiup angin. Juno masih ingat semua tangisanku yang keluar dari sudut mata Feliza nya.
Di tempat lain, Yuri berjalan menuju kantin Rumah sakit. Tadi dia memang sengaja menemui Juno terlebih dahulu. Ada yang ingin diselesaikannya dengan sahabatnya Itu. Semuanya harus jelas mulai Hari ini. Mungkin bagi Yuri melepaskan Feliza adalah Jalan terbaik.
Gue akan berusaha sayangin Vanesa. Gue udah buat keputusan Dan gue harus siap dengan semua resikonya! Lagian ini tidal akan terlalu buruk bukan? Mencoba mencintai seseorang yang mencintai gue dengan tulus Itu tidal masalah kan? Saay pialabyanh Kita inginkan tidak Kita dapatkan, pastilah akan ada piala lain yang lebih baik untuk Kita. Batin Yuri yang berjalan menuju kantin. Senyumannya mengembang.
Dan pada akhirnya seseorang Itu akan memilih. Memilih menyimpan nama orang yang disayanginyabdi tempat yang spesial.