Always Love you Bagian 32

-Bila hidup tidak bisa memilih. Siapa sih yang Tak ingin memilih punya hidup yang sempurna-

Matahari pagi berpendar dengan sangat indahnya. Membangunkanku dengan sinarnya. Aku menggeliat pelan. Mengumpulkan sedikit Demi sedikit nyawaku yang masih tertinggal di Alam mimpi. Hari ini libur Dan Itu artinya aku masih punya waktu buat bermesraan dengan sang ranjang.
Kutarik selimutku menutupi wajahku. “Fel! Bangun sayang.” Mama mengetuk-ngetuk lembut pintu kamarku. Aku mencoba Tak menghiraukan. (TOK – TOK -TOK). Ketukan pintu semakinkeras. Aku menutup telingaku sambil membenamkan diri di dalam bantal.
“FEL! BANGUN NAK.” Mama berteriak. Aki melenguh kesal. Akhirnya aku menyerah. Kubuang selimutku asal-asalan. Ku kucek-kucek mataku. (TOK -TOK – TOK). lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya ketukan pintu Itu terdengar. “Ia Ma. Ini udah bangun.”
Kudengar langkah Mama berlalu. Aku menghela napas pelan. Kuraih handuk Dan kuletakkan di bahuku. Aku berjalan gontai keluar kamar karena di kamarku memang tidak ada kamar Mandi. Saat melintasi kamar Kak Rendi aku berhenti. Aku sama sekali nggak tahu untuk apa aku berhenti. Sebuah firasat aneh muncul begitu Saja.
Aku menatap pintu kamar kakakku Itu. Kugedor-gedor pintu kamarnya dengan kasar. “Kak udah bangun belum?” Sunyi. Sama sekali Tak Ada jawaban. Aku kembali menggedor-gedor pintu kamarnya. “Kak?”
Tetap tidak Ada jawaban. Kupegang gagang pintu, tapi tidak bisa kubuka karena dikunci dari dalam. Entah apa yang merasuki diriku hingga membuat aku benar-benar panik. Aku merasa Ada sesuatu yang tidak beres pada kakakku. Aku mencoba mendobrak pintu itu, namun apalah daya yang mengingat aku tidak memiliki cukup tenaga.
Aku berlari menuji kamarku. Meraih HP yang terletak di atas bedside table. Tanganku sibuk bermain-main di atas keypad HP ku. Mencari-cari kontak nomor seseorang. Jariku berhenti saat ditemukan nama Juno. Dengan cepat aku menekan Tanda panggilan pada nomor Itu.
“Pagi sayang! Tumben deh. Kang-”
“Juno. Penting! Please keep Rumah gue sekarang!” Kataku memotong perkataan Juno tadi Dan segera mematikan panggilanku. Aku mondar-mandir di kamar sembari menatap keluar Jendela. Berharap Juno segera Tiba dengan mobilnya.
Aku menghela napas. Benar-benar firasatku tidak enak. Lima belas menit aku menunggu, akhirnya cowok Itu datang. Aku segera berlari menemui Juno Dan menceritakan semuanya. Kini kami sudah berada di depan pintu kamar Kak Rendi yang terkunci.
Dengan sekuat tenaga Juno mendobrak pintu kamar Kak Rendi Dan gagal. Juno mencoba kembali. Aku merangkul pundak Mama yang mulai terlihat cemas. Lagi-lagi dobrakan Juno gagal. Juno kembali mengambil ancang-ancang Dan sekali sentakan just pintu itu terbuka.
Aku memasuki kamar Kak Rendi. Melihat dengan jelas bahwa kakakku tengah terbaring lemah di lantai dengn busa yang terus keluar dari mulutnya. Seketika tubuhku Kaku. Aku menghampiri tubuh Itu. Aku tahu tubuh Kak Rendi tengah nagih. Nagih barang Haram.
“Kak. Kenapa Kaya gini? Kaka bohong! Kakak bohong sama gue.”
Mama menghampiriku. “Kenapa Fel? Rendi kenapa?”
“Mending Kita bawa ke Rumah sakit sekarang!” Juno meraih tubuh Kak Rendi Dan merangkulnya di sebelah kanan Dan aku membantu memapah di sebelah Kiri. Mama hanya berdiri Tak mengerti. Aku menangis. Menangis kembali di hadapanku seorang Juno.
Aku mondar-mandir di depan ruangan ICU. Mama yang duduk terlihat sangat gelisah. Aku mengelap keringat yang terus membasahi wajahku dengan tissue. Aku melirik jam dinding yang tertera di dinding Rumah sakit. Sepuluh pagi pas. Harusnya dokter yang menangani Kak Rendi sudah keluar bukan?
Juno yang baru selesai mengurus administrasi menghampiri Mama Dan memberikan sekotak makanan ke tangan Mama. “Dimakan ya Tante.” Mama hanya mengangguk. Walau sebenarnya sama sekali nggak berniat menyentuh makanannyang dibelikan oleh Juno.
Aku menatap Juno. Aku berhutang budi padanya. Dia terlalu baik menurutku. Pandanganku kembali tertuju kepada ruangan ICU yang belum juga terbuka. Juno berjalan mendekatiku Dan menggenggam erat tanganku. Seakan memberi kekuatanku padaku. Aku mencoba memberikan sennyuman terbaik untuk Juno, tapi senyuman hambar yang tercipta di pipi ini.
“Gue tahu lo kuat. Semuanya akan baik-baik Saja.” Bisik Juno tepat di telingaku. Bertepatan dengan bisikkan Juno seorang dokter Muda berperawakan ganteng keluar dari ruangan ICU. Aku mendekati Mama Dan menuntun Mama berjalan menuju dokter Itu.
“Keluarganya Rendi?” Dokter Itu bertanya sembari menyunggingkan senyumnya yang diikuti anggukan oleh aku, Mama Dan Juno. “Gimana anak saya dok?”
“Syukurlah dia tidal terlambat dibawa ke Rumah sakit. Kondisinya membaik Dan says harap dia bisa dimasukkan ke rehabilitasi biar bisa sembuh total. Dia akan segera di pindahkan ke ruangan pasien.”