Always Love you Bagian 33

Aku menyandar lemas di bangku taman Rumah sakit. Di sampingku, Juno tengah menikmati udara di musim gugur. Pandanganku Tak lepas dari bunga-bunga yang bermekaran dikelilingi oleh para kupu-kupu. Taman Rumah sakit ini sungguh keren menurutku. Bayangkan dimusim gugur seperti ini, masih Ada Taman yang bertahan. Bunganya tidak berguguran. Entah senyawa apa yang sudah dicampurkan pada tumbuhan di Taman ini.
Juno memasang headsetnya. Kepalanya mengikuti irama lagu yang ia dengar. Juno menyandungkan lagu yang sama sekali tidak aku kenal siapa penyanyinya. Aku menikmati nyanyian Juno. Suara Juno yang merdu mampu membiusku.
When she was just a girl
She expected the world
But it flew away from her reach
And the bullets catch in her teeth
Life goes on, it gets so heavy
The wheel breaks the butterfly
Every tear a waterfall
Setelah lagu Itu selesai ia senandungkan, Juno tersenyum kepadaku Dan kubalas dengan senyum termanisku. “Juno, sorry ya. I never meant to cause you trouble, tapi gue malah ngelakuinnya.”
“Nggak apa-apa!” Juno menatapku sembari tersenyum hangat. Pandanganku kembali tertuju pada bunga-bunga yang terus didatangi oleh kupu-kupu. Juno mengikuti arah pandanganku. “Jadilah seperti kupu-kupu yang dulunya berawal dari ulat yang sangat menyedihkan, tapi lama-lama bermetamorfosis Menjadi kupu-kupu yang sangat indahnya.”
“Tapi gue lebih kepengen jadi bunga yang terus didatangi oleh kupu-kupu.” Jawabku pelan. Kuhembuskan napasku pelan.
“Nggak cuma kupu-kupu yang mendatangi bunga, tapi kumbang juga. Kumbang datang Dan dapat merusak bunga.”
Aku menatap Juno seakan mencoba mengerti arah pembicaraan Juno. Cowok Itu menyentuh pipiku. Tatapannya lembut membuatku merasa nyaman. “Kupu-kupu datang lalu pergi dengan meninggalkan telur ulat. Kumbang pergi dengan meninggalkan jejak nectar. Bunga Tak mampu hindari keduanya, tapi bunga mampu memilih untuk memberikan madunya atau tidak.”
Aku mengangguk paham dengan perkataan Juno. “Gue ngerti. Thanks Juno. I love you.” Juno tersenyum mendengar perkataanku. “I love you too. Always Love you Feliza.” Kami saling tatap, membuat dadaku berdebar tidak karuan. Rasa apa ini? Dua menit sudah kami dalam posisi seperti ini, membuatku sedikit risih.
Aku mengalihkan pandanganku. “Juno balik gih. Udah sore tahu!” Juno tertawa melihat kegrogianku. Aku memukul lengan Juno bertubi-tubi. “Sakit tahu! Jadi ngusir night ceritanya? Nga-, oke gue pulang!” Aku tersenyum saat pelototanku membuatnya menyerah.
“Nggak mau gue anter ke kamar Kak Rendi?” Tanya Juno. Aku menggeleng pelan.
“Gue mau di sini.”
“Oke gue balik. Kalau Ada apa-apa telepon gue.” Juno berjalan menjauh. Cowok yang memakai jaket hijau dengan dalaman kaos putih ketat Itu semakin Tak terlihat. Aku menghela napas sembari melihat jam tangan yang menempel indah di pergelangan tangan kiriku.
Untuk beberapa saat aku memejamkan mataku. Mencoba mencari sensasi angin Nan lembut. Aku menghembuskan napas pelan. Setelah tujuh menit lamanya aku menikmati sentuhan angin, aku beranjak dari Taman menuju kamar Kak Rendi. Aku berjalan di lorong rumah sakit. Saat menemukan kamar mayat Aku merinding. Kalau Kita berada di rumah sakit, Kita bisa belajar lebih banyak bersyukur. Itu menurutku.