Always Love you Bagian 34

Kini aku sudah Tiba di depan pintu kamar Kak Rendi. Sebuah pertengkaran kudengar dari arah dalam. Kupertajam telingaku. Papa? “Kamu memang benar-benar tidak bisa menjaga anak! Lihat anak kamu. Lihat! Dari dulu aku sudah bilang, biar mereka bersamaku.” Papa membentak Mama. Kudengar isak tangis Mama dari dalam.
“KAMU BISANYA APA SIH HAH? APA KAMU TIDAK BISA MEMPERHATIKAN MEREKA? KENAPA BISA RENDI SEORANG ANAK YANG PENURUT JADI PEMAKAI?” suara Papa Naik sepuluh oktaf. Aku memegang dadaku yang terasa nyesak. “Aku udah beru-”
“KAMU DIAM! AKU NGGAK MAU DENGAR KAMU NGOMONG LAGI! KALAU RENDI KENAPA-NAPA, KAMU BISA APA? HARU-”
“STOP! Ini Rumah sakit. Kalau mau berantem silakan ke lapangan Aja! Entar aku sediain pisaunya sekalian, biar bunuh-bunuhan!” Aku membuka pintu Dan masuk sambil berdiri berkacak pinggang. Papa menatapku garang. Tangannya menampar pipi kanannku. “Aaaw!” Aku mengelus pipiku yang terasa nyeri. Ujung bibirku berdarah. Mama hanya diam. Sama sekali Tak bergerak dari posisi duduknya.
“SIAPA YANG NGAJARIN KAMU NGOMONG KAYA GITU SAMA PAPA-MU SENDIRI? PEREMPUAN ITU?” Papa menunjuk mama. Sekuat tenaga aku menahan tangisku. Rasanya hatiku sakit banget. “Udah cukup PA! Cukup semuanya. Jangan pernah salahin Mama lagi. Mama nggak salah, Papa yang salah!” Aku menantang lelaki bersetelan jas Mahal Itu.
Papa menatapku garang. “KAMU IT-”
“Papa nggak pernah peduli sama kami. Papa nggak pernah tahu kehidupan kami sesulit apa. Kami sudah terus Papa kemana? Kemana Pa? Papa bahkan nggak pernah Ada buat kami.” Suaraku turun beberapa oktaf. Kuhadapkan wajah memelasku di depan Papa.
“Jangan salahin Mama lagi Pa! Mama udah Banting tulang buat kami. Mama udah terlalu banyak berkorban untuk kebahagiaan kami, tapi Papa malah nyalahin Mama? Kenapa nggak nyalahin diri sendiri Pa? Papa nggak pernah tahu betapa sulitnya hidup kami. Papa nggak pernah tahu rasanya harus diremehkan orang-orang karena kami cuma orang miskin. PAPA NGGAK PERNAH NGERTI!” pertahananku jebol. Air matanya Itu keluar dengan derasnya.
Aku menangis sesegukan sembari berjongkok memeluk lutut. Papa hanya diam. Diam mematung sambil memandangku wajahku. “Papa pergi ninggalin kami, hanya buat mencari kesenangan Papa. Papa abaikan kami seakan kami nggak pernah Ada di dunia ini. Dan sekarang saat Kak Rendi sakit, Papa datang menimpakan segala kesalahan pada Mama. Asal Papa tahu, kalau Saja Papa peduli sama kami, Kak Rendi nggak akan terjebak dalam narkoba!” Suaraku parau. Aku menunduk wajahku.
Ulu hatiku terasa sangat sakit. Sakit sekali. Papa mendekatiku Dan memelukku erat. Hal yang sama sekali tidak aku sangka-sangka. “Maafin Papa! Maaf.” Bisik Papa sambil mencium rambutku.
“Maafin Papa sayang. Papa egois. Maaf!” Berulang Kali Papa mengucapkan kata maaf.
“Ma?” Suara lirih dari atas tempat tidur terdengar. Buru-buru Papa melepaskan pelukannya Dan berjalan menghampiri Kak Rendi. Aku bangun Dan menghampiri Mama. Kupapah Mama menuju ke arah Kak Rendi.
Mata Kak Rendi perlahan-lahan mulai terbuka sembari menatap kami Satu persatu dengan tatapan nanar. Saat tatapannya tertuju pada Papa, tatapannya berubah Menjadi sinis. Papa menggenggam tangan Kak Rendi yang segera ditepis oleh Kak Rendi. Mama dengan lembut membelai rambut Kak Rendi.
“Kenapa kamu jadi gini sih Ren? Kenapa?” Air matanya Mama mengalir deras. Kak Rendi menatap Mama sekilas. Aku menghela napas pelan. ” Lo bohong sama gue Kak! Lo bohong!” Ketusku. Selang beberapa menit, Kak Rendi hanya diam. Sama sekali Tak menghiraukan perkataan kami. Tatapannya kosong.
“Kenapa nggak jawab? Lo ngehilangin kepercayaan gue buat lo! Lo ngehilangin kepercayaan Mama.” Aku menatap manis mata Kak Rendi. Kosong. Hampa. Mama terisak kencang. Baru Kali ini aku ngelihat Mama menangis seperti ini. Dulu kalau pun Mama menangis nggak akan separah ini. Aku merangkul Mama dengan erat. Seakan Tak ingin Mama menumpahkan tangisannya lagi.
Aku menarik napas pelan Dan menghembuskannya sembari berharap bebanku dapat terpental bersama udara yang keluar. “Maafin gue!” Hanya Itu kata yang keluar dari mulut Kak Rendi. Papa memeluk tubuh Kak Rendi Dan Kak Rendi berusaha melepaskannya, tapi kekuatannya kalah dengan kekuatan Papa.
“Maafin Papa Ren. Maaf! Semua ini salah Papa. Kalian boleh marah sama Papa.”