Always Love you Bagian 35

 

-Dalam hidup, nggak semua apa yang Kita inginkan bakal Kita dapatkan. Tapi percayalah, apa yang Kita dapatkan saat ini adalah yang terbaik untuk.-

Aku meringkas pelajaran budaya Jepang dari buku. Sesekali Bagian yang penting kucatat di buku tulisku. Hari ini guru Bahasa Jepang nggak masuk. Itu guru malah ngasih tugas ngeringkas yang panjangnya kebangetan! Aku mengehmbuskan napas pelan. Teman-temanku malah kebanyakan para asik ngerumpi. Elisa mendekatiku. Menatapku dengan lekat.
“Lo sakit ya?” Elisa memegang dahiku Dan buru-buru kutepis dengan kasar. Aku menatap sebal ke arah Elisa. “Apa deh! Ganggu tahu.” Elisa tersenyum jail. “Sejak kapan seorang Feliza belajar?” Elisa menatapku dengan pandangan meledek.
“Heh! Ngapain lo ganggu Feliza?” Sasya membentak Elisa dengan garang. Tangannya dilipat di depan dada. Pandangannya tajam menembus manis mata Elisa. Elisa setengah bergidik, lalu memelototkan matanya seakan menantang Sasya. Kini Sasya berkacak pinggang. Gadis tomboy Itu seakan gemas dengan gadis cantik tapi lemot di depannya.
“Apa deh kalian! Jangan gitulah.” Kataku saat melihat akan meletusnya perang dunia ketiga. Sasya menatapku dengan sedikit kesal. Merasa nggak suka karena sikapku. “Sas. Mending ke kantin deh. Lapar night. Elisa, kami duluan ya!” Aku buru-buru menyeret tangan Sasya sebelum cewek bertopi Itu melumpuhkan musuhnya dengan sekali bogeman.
Sasya yang diseret-seret dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman tanganku dengan sedikit kasar. “Lo Itu. Lagi Kesel ini.” Sungutnya. Bibir tipisnya ia majukan Lima senti. “PACAR!” Kenji berteriak norak Dan beralri menuju ke arah kami. Kututup wajahku karena merasa sedikit malu dengan tindakan Kenji.
“Idih pacar. Norak deh!” Sasya memukul lengan Kenji saat cowok Itu sudah Ada di sampingnya. Kenji tersenyum jahil. Sudut bibir kakannya ia naikkan beberapa senti. “Biarin. Biarin seisi dunia tahu lo Itu punya gue.”
Aku tersenyum mendengar perkataan Kenji. Pipi gadis tomboy yang berdiri di sampingku Itu bersemu merah. Aku menatap sosok Juno. “Sayang!” Aku berteriak memanggil Juno sembari melambaikan tangan. Juno berlari mendekati kami.
“Tumben deh lo manggil gitu.” Juno menatapku sembari mengembangkan senyum manisnya. “Biarin. Biarin seisi dunia tahu lo Itu punya gue.” Ucapku again nggak nyambung menirukan perkataan Kenji. Kenji tertawa, sedangkan Juno menatapku. Alis matanya bertaut. Pandangannya menyelidik. “Sakit ya?” Tanya Juno. Tawa Kenji semakin meledak, diikuti oleh tawa Sasya.