Always Love you Bagian 36

Aku menatap wajah tirus Kak Rendi. Matanya yang dulu jenaka kini tak nampak bersinar lagi. Kududukkan tubuhku di atas kursi. Mataku masih asik menatap Kak Rendi. Lelaki jangkung Itu membuka matanya perlahan. Mungkin again sedikit terganggu karena Aki mengelus lengan tangannya.
Saat pandangan mata lelaki Itu sepenuhnya terbuka. Pandangan itu menatapku dengan nanar. Aku tersenyum hambar. “Baru pulang?” Kak Rendi bertanya dengan sedikit basa-basi saat melihat aku masih mengenakan baju seragam sekolah. Aku mengangguk pelan. Sama sekali Tak bersemangat menjawab.
Aki terdiam seakan-akan tengah banyak pikiran. Kumain-mainkan ujung selimutku Kak Rendi dengan jariku. “Maafin gue ya.” Suara parau Kak Rendi membuyarkan sedikit lamunanku. Aku tersenyum. Hambar. Lidahku membasahi bibirku. “nggak usah dipikirin Kak. Yang penting lo cepat sembuh deh!”
Kak Rendi menatap mataku. Tangannya yang lemas mengacak-ngacak lembut rambutku. Hal yang selalu ia lakukan di saat gemas. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum hambar. “Mama Mana?” Aku menggeleng pelan. Aku berdiri dari dudukku Dan berjalan menuju sofa. Bersandar di sofa empuk Itu sesekali memain-mainkan jariku di keypad HP ku.
Aku mendesah pelan, mencoba membunuh rasa bosan yang bersemayam. Kak Rendi masih menatapku. “Please jangan cuekin gue Kaya gini dong!” Suara pelan Kak Rendi terdengar.
“Gue cuma kecewa sama lo Kak!”
“Gue tahu gue salah. Ma-” sebelum Kak Rendi menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar Rumah sakit terbuka. Seorang laki-laki gagah berjas cokelat yang biasa kupanggil Papa masuk. Di sampingnya berdiri Mama. Mereka tampak sangat akrab. Aku tertegun menatap mereka, begitu pun Kak Rendi. Aku yakin Ada sesuatu yang terjadi antara Dua orang dewasa Itu yang tidak kami ketahui.
“Papa Dan Mama sepakay bahwa kalian Dan Mama akan pindah ke Indonesia. Tinggal di rumah nenek, mau kan? Sekalian buat pengobatan kamu Ren! Biar jauh dari teman-temanku kamu yang Bengal.” Suara tegas Papa memecah keherananku Dan Kak Rendi. Aku menatap Kak Rendi, begitu pun sebaliknya. Terperangkap dalam labirin pikiran masing-masing. “Terserah Aja!” Ucap Kak Rendi pasrah. Aku mengangguk menyetujui.
Papa tersenyum sembari membelai lembut rambut Mama. Aku mengernyit Tak mengerti. Ada apa dengan mereka? Aku menggaruk keningku yang sama sekali tidak gatal. Pintu lagi-lagi terbuka. Juno masuk sembari tersenyum segan. Seakan merasa kedatangannya mengganggu. “Juno! Dari Mana?” Teriakku bahagia.
Juno lagi-lagi tersenyum Dan detik berikutnya senyum Itu memudar saat mata Juno menatap sosok Papa. Begitu pun dengan Papa. Juno Dan Papa saling tatap. Aku menatap mereka Tak mengerti. “Ayah?” Juno bergumam pelan, tapi cukup jelas buat Aki mendengar semuanya.
“Wait. Wait! Ini Ada Apa? Ayah? Maksudnya apa Sih Juno?” Aku berjalan menuju Juno. Menatapnya dalam. Juno balas menatapku Dan Papa bergantian Dan akhirnya berjalan meninggalkan kamar Kak Rendi. “Juno! Ayah bisa jelasin semuanya!” Papa berlari mengejar Juno. Aku menyandarkan kepalaku ke tembok. Merasakan pusinh yang teramat sangat.
“Kakakkan udah bilang jangan Ada hubungan apa-apa dengan Juno! Karena dia it-” Kak Rendi menggantung kata-katanya. Aku menatap jalang ke arah Kak Rendi. “Karena apa Kak?”
“Karena dia saudara tirimu Fel!” Lanjutnya Mama. Aku terduduk less sembari memeluk lutut. Rasanya begitu menyakitkan. Semuanya berputar dalam benakku, membuatku semakin merasa pusing. Kuraih HP ku Dan mengetikkan SMS until Yuri.
To : Yuri
Lo kenal Pak Herman? Herman Wijaya?
Sent. Kubenamkan kepalaku di lutut. HP Itu jatuh dari pegangan tanganku ke lantai. Aku menangis. Antara percaya Dan tidak. Mama berjalan mendekatiku dengan tongkatnya Dan membelai lembut rambutku. Kak Rendi menghembuskan napasnya sembari menatapku. Mama merengkuhku ke dalam pelukan hangatnya. Lima menit kemudian HP ku berbunyi. Aku meraih HP Itu.
From : Yuri
Kenallah! Beliau sahabat bokap gue Dan bokapnya Juno.
Gimana bisa gini? Semuanya terasa memusingkan. Mama mencoba menghapus air mataku. “Udah sayang, jangan nangis!” Kenapa di saat aku sudah mulai buka hati buat seseorang, tapi halangan Itu kembali datang? Apa memang takdir cintaku Kaya gini? Apa memang pada kenyataannya Mutiara putih Itu memang tidak ditakdirkan juga untukku. Sama seperti Mutiara hitam yang tidak ditakdirkan untukku? Kenapa aku tidak bisa merengkuhku mutiara-mutiara Itu?
Aku mendengus kesal. Tangisanku semakin pecah. Aku ingin teriak. Teriak sekencang-kencangnya!