Always Love you Bagian 37

-Saat lo ingin menangis, maka menangislah. Jangan menyimpan tangisan Itu di dalam hati, karena tangisan dalam hati susah buat dihilangkan Dan dilupakan-

Aku berjalan menelusuri koridor sekolah. Papa sudah mengurus kepindahanku Dan Dua Hari lagi aku akan pindah. Hari ini aku ingin meluruskan semuanya, terutama dengan Juno. Sejak tadi pagi aku tidak menemukan sosoknya. Tidak Ada lagi gombalan atau cengiran aneh khasnya yang menghampiriku. Ya aku tahu. Juno juga pasti kecewa dengan semua ini. Dengan semua kenyataan yang nggak akan bisa mengubah status kami dari sahabat atau pun saudara Menjadi sepasang kekasih atau lebih.
Aku mendengus kesal. Kuedarkan pandangan mataku ke setiap sudut sekolah. Berharap menemukan sosok Itu. Sosok yang sudah membuka mataku cukup lebar tentang dunia. Cowok yang mengajarkanku akan arti kehidupan.
“Saat lo jadi cermin. Maka akan banyak orang yang bercermin dari lo, oleh karena Itu jadilah cermin yang terbaik. Cermin yang mampu membuat seseorang membuka matanya bahwa hidup harus dijalani dengan usaha bukan tangisan.”
Itu kata-kata Juno dulu yang sempat Menjadi favoritku. Hatiku terasa sangat perih. Pandanganku tertuju pada sosok Juno yang tengah menunduk sambil mengaduk-ngaduk mangkuk es nya. Entah apa yang tengah dipikirkan cowok Itu. Wajahnya terlihat pucat Dan tidak seperti biasanya. Aku berjalan menuju kantin Dan mendekati sudut dekat tembok tempat sosok Itu duduk.
Aku duduk di depannya. Membuat Juno tersadar Dan memberikan sebuah senyum hambar untukku. Lama kami terdiam. Meresapi setiap sudut perih yang perlahan terkuak. Menyadari bahwa hubungan kami yang baru terjalin akan tandas hanya dengan sebuah alasan bahwa kami adalah saudara seayah Dan Itu tidak akan bisa diganggu gugat.
Juno berdehem pelan, seakan Ada yang ingin ia ucapkan. Aku menatap Juno, begitu pun sebaliknya. Cukup lama kami dalam posisi saling menatap. Seakan ini adalah tatapan cinta terakhir kami. “Juno. Maafin gue.” Entah kenapa aku memanggilnya dengan panggilan ‘juno’. Juno mendongak menatapku seolah juga kaget dengan panggilanku terhadapnya.
“Ini bukan salah lo. Nggak perlu minta maaf. Ya, mungkin ini takdir Kita. Yang perlu lo tahu, gue sayang banget sama lo. Always Love you!” Segaris senyum tulus dari Juno merekah. Mungkin cowok ini berusaha mencoba sabar. Aku menunduk menatap jari-jari tanganku. Atmosfir rasa sakit Itu kembali muncul.
“Jadilah Feliza yang selalu bisa buat orang-orang disekitar lo tersenyum. Jadilah Feliza yang mampu bertahan dengan kedua kakinya sendiri untuk mengejar cita-cita, walaupun bakal banyak hambatan nantinya yang bakal lo hadepin. Jadilah Feliza yang selalu kuat, oke?” Juno meraih daguku agar aku menatapnya. Mataku kembali berbinar-binar. Juno mengecup lembut keningku. Hanya sekilas.
Setelah Itu Juno kembali duduk. Lagi-lagi hanya diam yang Menjadi backsound kami. Aku menelusuri raut wajah Juno. Mencoba merangkai memori terhadap raut wajah Itu. Angin berhembus pelan membuat rambutku terbang mengikuti gerak gravitasi. “Makasih untuk semuanya Juno.” Ucapku tulus. Mencoba berusaha tegar.
Juno tersenyum Dan tangannya melepaskan headset Dan meraih iPad dari saku celananya. ditaruhnya headset Dan iPad itu di atas meja. Aku mengernyit Tak mengerti. “Ini buat lo. Jaga baik-baik ya.” Juno mengulurkan barang-barang Itu dihadapanku. Aku menatap Juno ragu. Juno mengangguk mencoba menghilangkan keraguanku. Tanganku segera meraih barang-barang Itu Dan menimang-nimangnya.
“Makasih ya!” Lagi-lagi hanya kata Itu yang bisa keluar dari bibir mungilku.
“Lo tahu nggak arti nama Feliza Keira Hikari?”
“Apa emang?”
“Artinya sesuatu yang berharga, cantik Dan bercahaya. Lo harus jadi seperti arti nama lo Itu!” Aku tersenyum mendengar kata-kata Juno. Setengah yakin dengan perkataan Juno barusan.