Always Love you Bagian 38

“FELIZA!” suara cempreng Sasya membelah kantin. Sasya berjalan menuju meja yang tengah kami duduki. Tangan gadis tomboy itu menggandeng tangan Elisa. Aku menatap mereka Tak mengerti. Sejak kapan mereka baikan?
“Lo Itu dicariin dari tadi tahu!” Sasya memelukku erat, sedangkan aku berusaha melepaskan pelukannya.
“Apaan sih Sas. Gila lo!”
“Gue cuma sedih tahu! Gue bakal kehilangan sahabat lagi! Always Love you, Feliza!” Ujar Sasya norak. Aku tersenyum saat mendengar kata-kata Sasya. Sasya menyodorkan sekotak kado di hadapanku. “Ini buat lo. Kenang-kenangan dari gue Dan Elisa.” Aku meraih kotak kado Itu.
“Makasih ya. Eh, kok tumben sih Tom Dan Jerry barengan? Apa Tom Dan Jerry udah baikan ya?” Elisa merenggut kesal saat mendengar kata-kataku. Sasya memukul lenganku pelan. “Emang kami kucing tikus apa? Ya setelah dipikirin mateng-mateng ngapain Kami berantem mulu?” Tanya Elisa. Aku manggut-manggut setuju.
“Lagian gue baru tahu kalau Elisa ini sepupunya Kenji. Masa gue jahatin sih? Entar nggak direstuin lagi!” Bisik Sasya di telingaku. Aku agak kaget mendengar penuturan Sasya. “Wooy! Kok gue dicuekin sih?” Juno berkata setengah frustasi. Kami hanya tertawa mendengar perkataan Juno. Sasya duduk di samping kiriku, sedangkan Elisa duduk di hadapan Juno di samping kanannku.
Tanpa sengaja Elisa menyenggol sendok dari mangkok es cream Juno. Buru-buru Elisa hendak meraih sendok Itu dari lantai, tapi ternyata Juno juga melakukan Hal yang sama sehingga tangan mereka bersentuhan saat hendak menggapai sendok Itu. “Lihat tuh.” Aku menyikut lengan Sasya. Pandangan kami tertuju ke arah Juno Dan Elisa. Aku rasa akan Ada something special setelah ini di antara mereka. Semoga Saja.
“Ya ampun, ngambil sendok sebiji Aja lama banget. Ngapain Aja sih di bawah?” Sasya berkata sinis. Setengah meledek. Aku tertawa. Mereka seakan tersadar Dan buru-buru duduk dengan benar Dan sendok berada di tangan Elisa. Aku rasa mereka jodoh.
“Huuh. Huh. Pacar! Haus nih.” Kenji menghampiri Sasya dengan wajah penuh keringat Dan baju basah keringat. “Dih baunya!” Protes Sasya sambil menutup hidung. Kenji hanya nyengir sinis sambil duduk di samping Juno Dan di hadapan Sasya.
Kenji meraih botol minum Juno yang masih sisa setengah Dan buru-buru meneguknya sampai habis. “Heh! Minum gue tuh!” Juno menoyor kepala Kenji Dan dibalas oleh Kenji. Begitu seterusnya. “Dasar cowok!” Sungutnya Elisa setengah kesal.
“Ayo terus! Ayo pacar. Balas! Pukul! Musnahin!” Sasya berteriak semangat. Kontan semuanya terdiam saat mendengar ucapan Sasya, Tak terkecuali Juno Dan Kenji. “Wah sarap cewek lo!”
“Pacar kok gitu sih? Dilerai kek!” Kenji protes sambil menopang dagunya menatap Sasya. “Udah deh, lihat Itu!” Aku menunjuk sebuah meja yang terletak tidak jauh dari meja yang tengah kami duduki. Mereka menatap ke arah yang Aku tunjuk.
“WOOY! MESRA AMAT! INI SEKOLAH TAHU!” Kenji berteriak. Yuri Dan Vanesa yang tengah suap-suapan di meja yang aku tunjuk tadi menghentikan aktifitasnya Dan menatap kami. “SIALAN LO KEN! GANGGU TAHU!” Yuri berteriak sambil melemparkan tissue yang pastinya lemparannya gagal.
“Gabung sini kek.” ajak Juno. Yuri menatap Vanesa seakan meminta persetujuan yang dibalas dengan anggukan manis oleh Vanesa. Tangan Yuri meraih mangkuk onigirinya Dan berjalan menuju meja kami. Di samping Yuri berjalan Vanesa yang tampak masih terlihat pucat.
Jam menunjukkan tepat pukul 13.36 siang. Aku merebahkan tubuhku dikursi santai sambil menatap teman-temanku yang tengah asik bermain kejar-kejaran bersama ombak di pantai. Ya, saat ini kami tengah berada di pantai Okinawa yang terletak di Pulau Okinawa. Pemandangan di sini sangatlah indah. Aku memejamkan mata sembari mencoba menikmati hembusan angin yang menyapa lembut pipiku.
Tiba-tiba aku merasakan tangan kanan Dan tangan kiriku sudah dicengkram oleh Dua orang. Aku buru-buru membuka mata. Seolah tersadar saat menatap Sasya Dan Elisa yang tengah mencengkram lengan tanganku. “Apa sih woi. Lepasin dong!” Aku protes. Badanku yang sudah setengah berdiri didorong-dorong oleh Vanesa.
Aku semakin memberontak. Tak tahu Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. “Lagian lo ngapain merem sendiri di sana. Gabung dong!” Kata Vanesa. Tenaganya semakin kuat mendorong badanku. Juno, Yuri Dan Kenji tertawa melihat aku yang dengan sadisnya diseret-seret.
Tiga cewek sarap Itu melemparkan Aku ke dalam deburan ombak Dan berlari meninggalkanku. Aku gelagapan Dan buru-buru bangun saat air-air pantai Itu menerkam tubuhku. Aku berkacak pinggang sembari mengedarkan pandangan ke arah Vanesa yang telah berdiri di samping Yuri. Pandanganku kini beralih ke Elisa yang berdiri di samping Juno Dan Sasya yang tentunya berdiri di samping Kenji.
Mereka tertawa menatapku. Aku menunjukkan sedikit ekspresi kesal. Bibir mungilku, kumajukan beberapa senti. “BAJU SERAGAM GUE BASAH WOI!” aku berlari mengejar mereka. Senyum tipis tersembul dari sudut bibirku. Ada rasa senang yang aku rasakan.
Persahabatan bukan tentang siapa yang datang lebih dulu, bukan siapa yang lebih lama kamu kenal, tapi mereka yang datang Dan Tak pernah pergi! Sayangilah orang-orang di sampingmu, karena kamu nggak akan tahu kapan kamu akan pergi ninggalin mereka atau mereka yang akan ninggalin kamu.