Always Love you Bagian 39

-Orang besar awalnya dibenci Dan dicaci. Namun sejarah mencatat ia konsisten dengan karya. Bergerak dalam sepi. Merancang cita dalam ketidakpastian. Hingga waktulah yang menjawab semua. (Setia Furqon Khalid)-

Aku menelisik pelan. Menatap setiap inci rumah yang merangkai juga Menjadi sebuah too bunga. Rumah ini pernah Menjadi saksi kisah hidupku. Terutama kamarku, tempat di Mana aku sering menghabiskan waktu. Menghabiskan hariku Dan menyimpan sejuta rahasia di kamar Itu.
Di sini kutinggalkan keping-keping kenangan yang takkan pernah kuraih lagi. Keping-keping mimpi yang sempat tertunda. Keping-keping cerita cinta yang akan kulepas. Aku tertunduk sembari mencoba meraba sisi hatiku. Mama menggenggam pergelangan tanganku erat, seakan mencoba memberikan sedikit kekuatannya untukku. Aku tersenyum menatap Mama, walau aku tahu Mama nggak akan pernah melihat senyumku.
“Kita pergi sekarang sayang?” Tanya Mama. Aku menatap wajah Mama. Aku rasa Mama juga merasakan Hal yang sama denganku. Mungkin berat juga buat Mama untuk ninggalin Kota yang udah membesarkannya. Kota yang Menjadi kisah hidupnya. “Iya Ma. Ayo.” Aku menuntun Mama menuju Mobil Papa yang sudah sejak tadi menunggu.
Papa menatap kami sembari membuka pintu mobilnya. Senyum lelaki Itu merekah. Senyum yang dari dulu sangat Aku rindukan. “Kak Rendi gimana Pa?” Pandanganku tertuju ke arah jalanan. Menatap secara teliti jalanan yang mungkin suatu hari nanti akan sangat Aku rindukan. “Dia udah di bandara bersama dokter kepercayaan Papa.”
Aku mengangguk pelan. Pandangan mataku masih tertuju pada jalanan Kota Tokyo yang Tak pernah sepi. Sesekali aku menghela napas. Ada sepenggal kesedihan yang hinggap di hatiku. Merasa kehilangan. Kusandarkan tubuhku di kursi Mobil. Papa menatapku dari kaca spion mobilnya. Mungkin laki-laki Itu menangkal kegelisahan yang tergambar di wajahku.
“Semuanya akan baik-baik Saja sayang!” Aku mencoba tersenyum. Memang sangat nggak mudah buat ninggalin sesuatu yang udah Kita cintai sejak lama. Mengulang semuanya dari nol. Tapi mungkin sisi terbaiknya, aku bisa belajar jadi seorang yang baru di sana. Belajar lebih serius buat ngejar cita-citaku.
Sasya memeluk tubuhku erat. Seakan Tak ingin melepaskan tubuhku. Aku balas memeluknya. Tetesan bening berjatuhan lembut dari sudut mata gadis tomboy itu. “Jangan lupain gue ya Fel! Kabari gue selalu.” Aku mengangguk, walau aku yakin dia tidak melihat anggukan kepalaku. Sasya melepaskan pelukannya. Matanya menatapku lama seakan-akan aku adalah harta berharga untuknya.
“Always Love you Sasya!” Aku tersenyum menatapnya. Kini pandangan mataku tertuju pada Elisa, Vanesa, Kenji, Yuri Dan Juno. Ya, mereka semua di sini mengantarkanku. Aku merasa terharu. Kubawa Vanesa Dan Elisa ke dalam pelukanku. Dua gadis cantik berbeda later belakang Itu membalas pelukanku.
“Maafin gue ya Fel. Gue banyak salah sama lo.” Vanesa berkata lirih. Selirih hembusan angin. “Nggak Ada yang salah. Semua ini udah takdirnya.” Kataku Sok bijak. Elisa menangis. Aku melepaskan pelukan mereka. Menggenggam erat tangan mereka. “Kita sahabat ya? Sampai kapan pun? Mau kan?” Elisa Dan Vanesa mengangguk diikuti anggukan oleh Sasya, Kenji, Yuri Dan Juno.
Aku menatap mereka Satu persatu. Cukup lama pandanganku tertuju pada Juno Dan Yuri. Walau bagaimana pun, Dua orang Itu pernah hadir Dan mengisi hari-hariku bernada pink-ku. Memberikan untaian nada indah dalam hidupku. Juno mendekatiku. Mengacak-acak lembut rambutku. Dulu aku pernah mikir kalau Juno Itu lebih cocok jadi abangku Kaya Kak Rendi Dan ternyata Itu memang terjadi.
“Lo harus janji sama gue bakal sukses kan? Nanti kalau lol balik ke sini lagi harus dalam keadaan sukses ya! I love you and always Love you.” Aku tersenyum menatap Juno. “Inget, jangan cengeng lagi di sana.” Celetuk Yuri sambil tersenyum hangat. Aku mengangguk. Hatiku larut dalam kesedihan.
Kami berpelukan cukup lama. Merasa atmosfir kehilangan. “Kita semua cinta sama lo. Kalau lo suatu Hari nanti bakal balik ke sini lagi, kami akan nyambut lo dengan terbuka.” Vanesa tersenyum hangat.
“Fel. Pesawatnya udah mau berangkat tuh.” Papa mengingatkan. Kami akhirnya melepaskan pelukan. Sekali lagi saling tatap Satu sama lain. Aku memeluk Papa, walau sempat ngerasa benci dengan laki-laki ini namun aku sadar bahwa tanpa lelaki ini pun aku nggak bakal Ada di dunia ini. “Maafin Papa sayang. Maaf banget! Jaga Mama Dan Kak Rendi ya?” Papa mengelus lembut rambutku.
“Iya Pa. Guys, gue berangkat dulu ya. Sampai jumpa di lain kesempatan. Kapan-kapan main ke Indonesia. Juno sama Vanesa juga harus secepatnya balik ke Indonesia ya!” Aku tersenyum Sok tegar di hadapan mereka, padahal sebenarnya pertahananku hampir luruh. Aku berjalan sembari melambaikan tangan.
Aku berjalan semakin jauh meninggalkan mereka. Meninggalkan semua kenangan di Kota ini yang akan terukir indah dalam memori otakku. Meninggalkan semua kisah suka duka yang pernah aku alami. Meninggalkan semuanya! Ya, semuanya. Cinta, persahabatan, tangisan, kebahagiaan, kenangan. Aku merasa sangat sesak.
Memang pada akhirnya setiap kata ‘Hallo’ akan berakhir dengan kata ‘Bye’, tapi apakah memang harus secepat ini? Meninggalkan persahabatan yang baru sempat terjalin? Ya, semua ini memang sudah diatur oleh-Nya?