Always Love you Bagian 40

Aku menghembuskan napas sedih. Tak ingin berbalik menatap mereka karena Aku sama sekali Tak ingin menunjukkan air mataku lagi di hadapan mereka. Di hadapan orang-orang yang sangat Aku cintai. “We love you Feliza!” Suara teriakan cempreng mereka masih terdengar jelas di telingaku.
Aku tersenyum dalam tangisku. Ya, aku menangis. Pertahananku yang sudah payah kubangun akhirnya jebol. Perih ini lagi-lagi terkuak. Kini aku sudah berada di dalam pesawat. Aku duduk di dekat Jendela di samping Mama. Menatap keluar Jendela dengan pandangan nanar. Aku meraih HP ku untuk mematikannya, tapi kuurungkan karena Ada sebuah SMS di sana. Kubuka SMS Itu.
From : 0751991078
Kenapa lo pergi tanpa pamit? Kenapa lo nggak nemuin gue di Animate? Kenapa lo nggak pernah nerima semua mawar putih yang pernah gue kasih lewat Juno? Secret admirer lo!
Aku melongos pelan menatap SMS Itu. Apa lagi ini? Aku mencoba Tak menghiraukan isi SMS Itu, tapi nyatanya memang Aku nggak bisa untuk pura-pura tidak peduli. Sebenarnya siapa sih secret admirer aku Itu? Bukannya Juno? Tapi ini maksudnya apa? Aahh, bikin bingung.
Aku memegangi kepalaku yang terasa pusing, lalu buru-buru kumatikan HP ku. Bodo ah! Bukan urusan aku. Kuraih headset Dan iPad biru milik Juno Dan buru-buru kunyalakan di telingaku. Lagu Coldplay yang berjudul Every Teardrop is A Waterfall mengalun merdu di telingaku.
Aku larut dalam lagu Coldplay Itu. Mencoba meresapi setiap lirik lagu yang tercipta indah dengan paduan suara sang vokal yang teramat merdu. Menurutku lagu ini memiliki arti yang menyemangati Dan memberikan motivasi.
“I turn the music up, I got my records on. I shut the world outside until the lights come on. Maybe the streets alight, maybe the trees are gone. I feel my heart start beating to my favorite song.” Aku bersenandung lirih mengikuti musik yang mengalun merdu. Kepalaku ikut bergoyang-goyang mengikuti irama musik.
Episode Masa silam kembali menghantuiku. Berputar-putar di memori otakku. Aku terpaku sambil memandangku keluar Jendela. Menatap awan-awan yang seakan bergerak mengikuti irama pesawat. Aku menatap ke samping. Menatap wajah Mama yang tengah tertidur pulas. Aku kembali mendongak menatap Jendela.
Setelah ini kehidupanku yang baru akan segera dimulai. Di tempat yang benar-benar berbeda dengan status budaya berbeda juga. Bagaimana nanti kalau di sana aku masih juga dimusuhi? Atau malah dibully? Atau nggak Ada Satu pun yang mau bertemam denganku?
Aku menepis semua pikiran Itu. Mencoba menghentikan otakku untuk memikirkan Hal Itu. Aku menghembuskan napas. Entah apa yang aku rasa saat ini. Semua rasa Itu bercampur aduk.
Aku mencoba memejamkan mata sembari berharap rasa kantuk mendatangiku.
“Lihat pesawatnya terbang tinggi!” Yuri dengan noraknya memandangi pesawat mainan yang ia terbangkan. Saat ini kami sedang kencan Pertama di sebuah bukit. Aku tertawa menatap ulah Yuri sembari memukul lengannya.
“Idih. Lo Itu malu-maluin.” Aku merenggut kesal. Yuri menatapku dengan tatapannya yang serious. “Malu-maluin gini tetap Aja lo mau kan?” Aku tersenyum pelan sembari mengangguk. “Lo sih melet gue!”
“Yee. Ya nggaklah. Itu karena pesona kegantengan gue! Kalau gue jadi Naruto, lo jadi Sakura ya?” Aku tertawa mendengar perkataan ya. “Nggak ah, gue mau jadi diri gue Aja.”
“Lo Itu! Eh, gue mau jadi power rangers Aja ah!” Keningku berkerut mendengar perkataan Yuri barusan. Sama sekali aku Tak mengerti dengan arah pembicaraannya ini. “Kalau lo Powe rangers hue apa dong? Power puff girl gitu?” Kataki iseng, padahal sama sekali aku nggak tahu power puff girl Itu apa.
“Ya enggaklah. Lo istrinya power rangers tahu.” Aki menatap Yuri dengan tatapan polos. “Emangnya power rangers punya istri ya?”
Aku membuka mataku sambil tersenyum kecil saat mengingat kejadian Itu. Kejadian yang sudah terjadi cukup lama. Eh, kenapa aku jadi kepikiran Itu? Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Kuregangkan badanku. Menggeliat seperti kucing yang baru bangun tidur. Tiba-tiba bayangannya Yuri memudar Dan digantikan oleh bayangan Juno.
Juno menatapku dengan segaris senyum yang terpampang untukku. Tatapan matanya mampu membiusku. “Mungkin sekarang lo nobody, tapi besok lo somebody. Mungkin sekarang lo zero, tapi besok lo hero. Lo harus kuat ngadepin semuanya ya!”
Aku tersenyum menatap Juno. Dia cowok yang mampu selalu membuatku tenang dengan patuah-patuahnya.
Aku tertegun sembari mencoba menghalau bayangan Juno dari benakku, tapi bukannya hilang bayangan Juno malah berganti dengan bayangan Yuri Dan begitu seterusnya. Aku menyerah. Kuraih botol minuman yang memang telah kusiapkan sejak dari Rumah. Kuteguk air di dalam botol Itu sehingga bersisa setengah.
Aku menerawang pelan. Yuri Dan Juno. Dua orang cowok yang dari kejauhan memiliki fisik yang hampir sama, tapi saat melihatnya dari dekat memiliki wajah yang berbeda. Yuri si cowok asli Jepang ini terkesan sangat ketua Dan cuek, tapi saat Kita benar-benar dekat dengannya dia bisa Menjadi sosok yang sangat-sangat menyenangkan.
Sedangkan Juno adalah cowok blasteran Indonesia-Arab. Memiliki wajah yang sangat-sangat good-looking dibanding Yuri. Lebih terkesan ramah Dan selalu dapat menghangatkan dengan semua patuah yang dia sampaikan.
Untuk yang keberapa kalinya aku tersenyum mengingat Dua cowok yang pernah mengisi hatiku itu. Mengisi hari-hariku dengan berjuta warna. Kini saatnya aku melupakan mereka. Melupakan semua kenangan yang pernah terjadi. Oh tidak! Kenangan Itu bukan untuk dilupakan tapi untuk disimpan rapi Dan dijadikan sebagai pembelajaran agar aku Menjadi orang yang lebih baik ke depannya.