Always Love you Bagian 41

-Tidak pernah Ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Begitu juga untuk mengakhirinya-

Nenek memelukku dengan erat Dan dengan hangat kubalas pelukan nenek. Aku menghela napas pelan. Rasanya sudah lama banget nggak ketemu nenek. Terakhir kapan ya? “Udah besar sekarang kamu Nak!” Nenek membelai lembut rambutku. Aku mengangguk seolah mengerti dengan apa yang disampaikan nenek, padahal sebenarnya aku tidak mengerti sepenuhnya.
Nenek melepaskan pelukannya Dan tersenyum hangat kepadaku. Lalu nenek menuntun Mama dengan lembut menuju Mobil yang sudah sejak tadi terparkir dihalaman bandara. Aku memijat leherku yang terasa sedikit pegal Dan buru-buru mengikuti langkah nenek menuju Mobil.
Aku duduk di samping Mama Dan di dekat Jendela. Mobil Ferrari milik nenek mulai berjalan membelah jalanan Kota Jakarta yang tidak pernah sepi. Aku menatap keluar Jendela. Memandangku pemandangan Kota Jakarta dengan bangunan-bangunan yang tinggi menjulang. Indah, tapi jujur lebih indah Jepang.
“Kamu sudah shalat Zuhur Fel?” Pertanyaan nenek mengagetkanku. Aku menatap nenek. Baru Kali ini Ada orang yang mengingatkanku tentang salat, bahkan sejujurnya Aku tidak tahu Tata cara salat Itu bagaimana. Maklumlah aku kan tinggal di Jepang yang sebagian penduduknya penganut atheis. Papa juga tidak pernah mengajarkan aku tentang salat atau pelajaran agama lainnya.
Nenek masih menatapku seakan menunggu jawaban yang meluncur dari bibir pink ku. Aku menggeleng pelan membuat nenek menghembuskan napas kecewa. “Ya udah nggak apa. Nanti bisa salat di rumah.”
“Kami nggak ngerti caranya shalat, nek.” Jawabku jujur dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata. Mama tertunduk pelan. Nenek menatapku dengan tatapan kaget. “Ehm. Oh nggak apa. Nanti nenek ajarin ya.” Nenek tersenyum hangat. Aku memgangguk pelan. Mobil yang aku naiki berjalan lambat memasuki sebuah SPBU.
“Maaf nyonya. Saya isi bensin dulu ya.” Sopir itu berkata kepada nenek dengan senyum tulusnya yang dibalas anggukan kepala oleh nenek. Aku membuka kaca Mobil. Aku menghembuskan napas pelan. Tatapanku tertuju pada sepasang muda-mudi yang berjarak hanya beberapa meter dariku.
Kupertajam telingaku. Rasa ingin tahuku membuatku ingin menguping pembicaraan sepasang muda-mudi Itu. “Jangan Sok tahu dengan hidup gue Dan jangan sok ngjarin gue tentang hidup! lo pikir enak hidup kayak gini? Lo pikir enak hidup jadi sampah kayak gini HAAH?!” Cewek Itu berteriak memaki sang cowok. Mereka seakan Tak peduli akan Menjadi tontonan gratis.
“Iya! Makanya gue suruh lo insaf. Kita perbaiki semuanya oke? Kita ulang dari awal ya?” Cowok Itu membelai lembut rambut cewek di depannya Dan segera ditepis oleh sang cewek. “Lo pikir setelah lo nyeret gue ke tempat Kotor kayak gini dengan mudahnya lol bisa bawa gue keluar? NGGAK! GUE BUTUH UANG!” cewek Itu meludah di hadapan cowok Itu Dan berlari meninggalkan sang cowok.
Aku mengernyit menatap adegan Itu. Aku memang tidak mengerti sepenuhnya apa yang mereka bicarakan, tapi aku cukup paham dengan semuanya. Aku menghembuskan napas pelan.
Ah, hidup terkadang memang aneh. Sudah ditebak. Semua orang memiliki hidupnya sendiri. Semua orang punya cerita dalam hidupnya sendiri, Kaya cerita hidupku atau cerita hidup cewek-cowok tadi. Setiap orang Tak pernah meminta ingin dijadikan apa. Sekali pun pelacur Tak akan ingin hidup sebagai pelacur, begitu pun banci. Nggak Ada yang pengen punya kehidupan yang buruk. Nggak Ada yang berhak menghakimi cerita hidup orang lain, tugas Kita hanya berbuat yang terbaik untuk hidup Kita.
Lagi-lagi aku menghembuskan napas pelan Dan membiarkan pikiranku berargumen tentang kehidupan. Aku sadar begitu banyak pasir waktu yang aku sia-siakan selama ini. Begitu banyak waktu yang Aku lalaikan, bahkan sampai saat ini aku belum mengenal Tuhanku.
Di sini aku ingin jadi orang yang baru. Jadi orang yang lebih baik lagi. Aku akan belajar agama. Aku akan ngejar semua yang aku inginkan dengan usaha Dan aku akan tunjukkan ke dunia tentang karyaku. Aku akan teriak di depan orang-orang yang pernah remehin aku Dan bilang : ‘Hey ini gue! Feliza. Cewek yang selalu kalian pandang dengan sebelah mata. Cewek yang nggak pernah kalian anggap kehadirannya. Cewek yang hanya kalian anggap seperti sampah. Ini gue! Kalian Mau apa sekarang ha?’
Dan di saat Itu aku akan tertawa puas di hadapan orang-orang yang pernah nginjak-nginjak aku. Bahkan aku akan injak balik mereka. Aku akan balas tatapan sinis mereka jauh lebih sinis lagi. Ini hidup Dan aku akan pastikan kalau aku akan segera berada di atas! Aku yakin aku pasti bisa!
Aku tersenyum puas. Mobil kembali berjalan seakan membawa pikiranku kedunia yang baru. Aku menatap jalanan kota Jakarta. “Gue Feliza Keira Hikari akan bersungguh-sungguh dalam mengejar semua cita-cita gue!”
“Kamu ngomong sama siapa Fel?” Mama mengagetkanku.
“Eh. Eng. Nggak Ma!” Buru-buru aku meraih HP ku. Aku jadi teringat SMS dari so secret admirer. Kubuka SMS Itu sembari tersenyum sinis. Untuk saat ini, aku belum butuh cowok!
Aku mencintai Juno. Aku mencintai Yuri. Tapi hanya sebagai sahabat untuk saat ini. Always Love you, sahabat-sahabatku. Makasih atas semua kisah indah yang kalian torehkan untukku. Always Love you, Mama. Makasih udah ngelahirin Aku Dan maaf aku selalu ngecewain Mama. Always Love you Kak Rendi. Makasih pernah jadi Kakak yang bail buat gue. Always Love you Papa. Maafin aku yang selalu nyalahin Papa, padahal Papa punya sejuta alasan atas Itu semua. Always Love you all.
Aku tersenyum pelan.