Always Love you Bagian 5

-Sakit hati, dikecewakan, dihianati. Semua itu seperti lingkaran setan yang terus berputar di dalam porosnya. Yang harus dilakukan mencari jalan keluar bukan menangis! Keep smile ;)-

Aku berjalan di koridor sekolah dengan langkah gontai. Sekolah masih terlihat sepi. Mungkin kali ini aku terlalu kepagian datangnya. Aku tersenyum menyapa beberapa siswa yang lewat, tapi mereka sama sekali tidak membalas senyumku. Aku mendengus pelan.

“FELIZA! TUNGGU!” teriak sebuah suara cempreng dari arah belakang. Aku membalikkan badanku sembari tersenyum ke arah Sasya.
“Lo itu dipanggil dari tadi juga.” Sasya mengomel pelan sembari menjejeri langkahku. Aku tersenyum. “Suman (Maaf)! Gue bener-bener nggak dengar. Lo sih jalannya lelet banget.” Aku meledek Sasya sembari tertawa pelan. Sasya memukul lenganku. “Yappari (Sialan)!!”

Kami berjalan menuju kelas. Sesampainya di kelas aku melangkah menuju mejaku. Ada sebuket bunga mawar putih yang tergeletak di mejaku. Aku meraih bunga itu. “Wah, dari siapa tuh?” Tanya Sasya sambil merebut bunga itu dari tanganku.

“Emangnya kita disuruh bawa bunga ya ke sekolah?” Tanya Elisa yang baru sampai kelas. Elisa ini teman sekelasku. “Mending diam deh!” bentak Sasya yang memang punya masalah serius dengan Elisa. Elisa merengut sembari berjalan menuju kursinya.

“Ada kertasnya nih.” Kata Sasya sembari menyodorkan kertas kecil ke arahku.
Untuk Feliza Keiya Hikari
Tetaplah menjadi bintang di hati gue 😉

“Nggak ada nama pengirimnya!” cetusku sambil menoleh ke kanan-kiri berharap aku menemukan si pengirim bunga. “Yuri kali?” tebak Sasya. Senyumku mengembang. Apa benar Yuri? Tumben deh! Bisa jadi!

“Ciee. Yang baru dapat bunga. Dari siapa?” Tanya Juno sembari memasuki kelas dengan menyandang tasnya. Aku dan Juno memang sekelas, tapi tidak dengan Yuri. Juno mengacak-acak rambutnya dan membuatnya terlihat semakin keren. Itu menurutku. Di telinga Juno masih terpasang headset. Juno berjalan dengan gaya staycool-nya ke arah kami.

“Biasa! Feliza kan punya banyak penggemar rahasia!” ujar Sasya asal.
“Halah, paling juga dari Yuri!” ledek Juno. Aku tersenyum. Pagi ini perasaanku sangat bahagia. Kududukkan tubuhku di bangku sembari mencium setiap inci sebuket bunga mawar putih itu.
“Lebay! Bunga jelek gitu juga.” Kata Juno saat melihat tingkahku. Aku tak meenggubris perkataan Juno. Nggak pernah ada yang tahu aku suka mawar putih, kecuali Yuri. Kuraih HP ku.

To : Yuri-ku :* {}
Makasih bunganya. Gue suka 😉

Drrrt. Drrt. Drrt.
From : Yuri-ku :*{}
Haa? Bunga apa? Nggak tuh!

Aku menatap balasan dari Yuri dengan tatapan kecewa. Berarti bukan dia dong yang ngasih bunga-bunga ini? Terus siapa?

Kumasuki bilik WC dengan cepat. Rasanya aku undah nggak tahan. Di luar WC ada beberapa gadis yang tengah asik bercerita sembari tertawa pelan. “Tau nggak? Kemarin Yuri nganterin gue pulang loh! Aah! Seneng banget!” ujar salah seorang cewek. Yuri? Yuriku kah yang mereka maksud? Kupertajam telingaku.

“Serius loh? Waaah! Terus terus? Udah ada kemajuan tuh Van!” celoteh cewek yang lainnya.
“Ya dong, Vanesa gitu!”

Aku mendelik kesal. Vanesa? Dia kan yang kemarin bareng sama Yuri di koridor. Ini apa lagi sih? Nggak bosan-bosannya ini hidup mainin aku. Badanku seketika terasa lemas. Aku menghela napas pelan. Lelehan bening jatuh di pipi putihku. Rasanya nyesek banget! Di saat kita mencintai seseorang dengan tulus, tapi dia malah mengecewakan kita. Di saat kita memang benar-benar butuh dia untuk mendampingi kita, dia malah nggak ada. Aku meremas rambutku kesal. Ada apa denganmu Yuri? Oke, aku akan tetap bertahan disini! Bertahan demi cinta yang pernah kita bangun. Always love you, Yuri!