Always Love you Bagian 8

-Hal yang harus kamu ingat dalam cinta. Jika kamu ingin memiliki MAWAR yang indah, kamu harus menerima DURI di sekitarnya-

Aku menunggu Yuri di depan kelasnya sembari menyandarkan tubuhku pada tembok. Aku menghela napas pelan sambil sesekali menatap jam tangan kucel yang melingkar indah di pergelangan tangan kiriku. Jam istirahat hampir saja usai, tapi dari tadi pagi aku belum melihat batang hidungnya. SMS-ku pun tak dibalas. “Feliza? Lo ngapain?” kata-kata itu yang selalu dia ucapkan setiap kali ketemu aku.

Aku mengembangkan senyumku saat aku melihatnya dan detik berikutnya senyum itu hilang saat melihat Vanesa di sampingnya. “Cariin lo lah.” Kataku setengah kesal.

“Balik ke kelas gih! Aku sama Vanesa mau ke ruang OSIS, ada urusan. Aku duluan ya?” katanya sembari berjalan menjauhiku. Vanesa mengekor di belakang Yuri sembari tersenyum sinis ke arahku. Aku melenguh pelan. Aku ini pacar dia bukan sih? Kok nggak ada romantic-romantisnya! Itu cewek juga kegenitan banget! Kuhentak-hentakkan kakiku ke lantai tanda kesal. Perasaanku terasa remuk bagai tertancap beribu-ribu pisau dan kini aku nggak tahu bagaimana cara melepaskan pisau itu lagi.

Sakit banget rasanya. Kenapa sih cinta itu harus mengeluarkan air mata. Bukankah cinta itu kebahagiaan, tapi kenapa yang kaya gini aku dapat? Aku hanya ingin dicinta dan mencintai. Hal lumrah bukan? Aku berjalan menuju kelasku yang Cuma beda 2 kelas dari kelas Yuri. Saat tiba di kelas, aku melangkah gontai menuju kursiku. Sedangkan Sasya kayanya belum balik dari kantin. Di belakngku Juno tengah asik mendengarkan lagu. Seperti biasa headset-nya nggak pernah terlepas dari telinga cowok ganteng blasteran itu.

Yah, memang di sekolahku ini banyak para blasteran. Maklumlah sekolahnya anak-anak borju. Aku rebahkan kepalaku di atas meja sembari kuku tanganku mengetuk-ngetuk meja.

“Kenapa sih lo? Ada masalah?” Tanya Juno. Juno berjalan untuk duduk di sampingku. Aku mendengus kesal. “Oh ya, nih! Gue nemuin mawar putih ini di loker lo tadi waktu gue ngambil buru PR lo.” Juno menyodorkan sebuket mawar putih kepadaku. Aku meraih mawar itu dan mengambil secarik kertas di antara mawar itu.

Untuk Feliza Keira Hikari
Tersenyumlah! Karena tanpa lo sadari aka nada orang yang bahagia melihat lo tersenyum, yaitu gue. 😉

Aku mendelik kesal. “Apa bacaannya?” Tanya Yuri penasaran. Dengan cepat aku menyembunyikan kertas itu. “Pelit deh lo! Mawar jelek gitu juga. Yah, nambah lagi pesaing gue!” sungut Juno sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.

“Gue penasaran sama si pengirim bunga ini. Siapa ya Juno kira-kira?”
“Yaelah man ague tahu!” ujar Juno sambil mengangkat bahunya. Aku kembali terdiam. Semua perasaanku berkecamuk menjadi satu menciptakan atmosfer kegalauan.
“Juno. Hidup itu susah ya. Banyak amat cobaannya. Gue takut gue nggak sanggup hadapin semuanya dan gue jatuh di tengah jalan.” Kataku sembari menerawang pelan. Juno menatap manis mataku dan tersenyum dewasa. “Ada masalah ya? Fel, hidup memang nggak mudah. Bakal banyak cobaan yang akan kita hadapi, cobaan itulah yang buat kita makin dewasa.”
“Tapi kalau gue nggak kuat gimana? Kalau gue pengen nge-game over-in hidup gue gimana?” Juno tercengang mendengar kalimatku itu.
“Hey, lihat gue! Lo itu cewek kuat. Jangan selemah itulah di depan gue. Gue nggak kuat lihatnya! Jangan pernah berpikir mau ng-game over-in hidup lo!” bentak Juno sambil berlalu meninggalkanku. Juno berjalan menuju pintu, saat di pintu Juno berpapasan dengan Sasya. Aku mendengus kesal. Sasya berjalan mendekatiku dengan makanan yang ada di tangannya.
“Muka lo kusut gitu, kaya kain lusuh yang habis dikentutin.” Seloroh Sasya. Elisa yang tengah berada di kelas mengernyit tak mengerti, ditatapnya wajah Sasya. “Emang lo kentut ya Sya?” ledek Elisa. Teman aku yang namanya Elisa ini memang agak tulalit. Aku tersenyum menatap tingkah mereka. Sasya geram menatap Elisa sambil berjalan keluar kelas.
“Mau ke mana lagi Sya?” tanyaku.
“Kalian lihat ya! Aku bakal terbang dari lantai atas ke bawah karena frustasi!” aku tertawa geli mendengar perkataan Sasya.
“Fel, emangnya Sasya punya sayap ya?” Tanya Elisa lagi. Aku menepuk jidatku.