Baby and Me Part 15

Itu adalah kali pertama Brian merasa tak mampu move on setelah melakukan cinta satu malam. Hidupnya hanya di habiskan untuk bekerja demi bisa mengabaikan perasaan bersalahnya.

“Sudahlah, lebih baik kamu pergi dari sini!” usir Sherly. Dengan kekuatan yang dia punya, Sherly mendorong Brian keluar dari apartemen dan menutup pintunya rapat-rapat.

Namun Brian tak semudah itu menyerah, dia mengetuk pintu dan memanggil nama Sherly berulang kali seperti hilang kendali. Membuat siapa saja yang mendengarnya ingin meneriakinya karena merasa terganggu. Tanpa sadar, sepasang mata tengah menatapnya heran.

“Pak Brian? Apa yang sedang anda lakukan di sini, Pak?” Tanya Dini. Brian terkejut. Ia tak menyangka akan kehadiran seseorang yang juga pegawainya sendiri.
“Ah, kamu temannya Sherly bukan?”
“Ya, saya teman satu apartemennya. Saya Dini, Pak?”
“Dini, bantu aku untuk membujuk Sherly.”
“Maksudnya Pak?” Tanya DIni, bingung tak memahami sama sekali perkataan Brian.
Brian sedikit berpikir. “Ah, kamu tahu keadaan Sherly, kan? Kamu tahu siapa yang menghamilinya?”
Dini menggeleng.
“Aku, anak itu anakku.”

Mata Dini melebar mendapat pengakuan Brian. Baru kali ini ada orang yang mengakui terang-terangan pada orang yang baru ditemuinya, tanpa malu.

“Kamu harus membantuku membujukny agar menerimaku. Kamu tahu kan, anak itu butuh seorang ayah. Dan aku lah ayahnya. Bagaimanapun, aku akan melakukan segala cara demi mendapatkan maaf dan pengakuannya.”

Dini semakin melongo dengan semua penuturan Brian. Ditambah melihat ekspresi memohon dan tampilan Brian yang berantakan. Siapa yang bisa mengabaikan ekspresi memohon yang Brian perlihatkan?

“Bagaimana? Kamu mau membantuku, kan?”
“Ya, ya,” jawab Dini terbata.
“Bagus. Aku mohon bantuanmu.”
“Ya, tapi sebaiknya Pak Brian pulang saja. Biar nanti saya bicara pada Sherly.”
“Terima kasih, terima kasih banyak.”

Brian pun menghilang dari pandangan Dini. Nalarnya masih mencerna segala informasi yang diterimanya barusan. Ia sungguh tak menyangka, bayi yang dikandung sahabatnya adalah anak dari bosnya sendiri.

Dengan perasaan bingung, Dini masuk ke apartemen dan mendapati Sherly termenung di sofa. Dia mendekati Sherly dan memeluk sahabatnya.

“Are you okay?”
“Hai, Din, kamu sudah pulang?”
Mereka terdiam, Dini menunggu Sherly berbicara. Dia tak akan menghakimi atau memaksa Sherly walaupun Brian meminta bantuannya. Dia akan membantu Brian, tanpa melukai Sherly.

“Aku harus bagaimana?” Tanya Sherly lirih.
“Jadi Pak Brian sudah tahu anak yang kamu kandung adalah anaknya?” Tanya Dini hati-hati.
“Ya, dan dia berusaha mendekatiku. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba dia menginginkan anak ini,” jawab Sherly.
“Bukankah itu bagus? Anakmu akan mendapatkan orang tua utuh.”
“Tapi dia mau mengambilnya dariku.”
“Kamu yakin?”
“Yakin, untuk apa dia mendekatiku kalau bukan karena itu?” balas Sherly.
“Brian mengatakan itu padamu?”

Terdiam, Sherly tak mampu menjawab. Brian memang tak mengatakan langsung akan mengambil anaknya. Brian hanya meminta maaf dan mengatakan bahwa anak yang dia kandung membutuhkan seorang ayah. Tapi Sherly tetap mengeraskan hati untuk mengabaikan permohonan maaf Brian, menganggapnya tak pernah ada.

“Sher, mungkin ini takdir Tuhan. Mendatangkan Brian padamu. Jangan terus berpijak pada kekecewaan dan kesedihan masa lalu, karena saat ini, ada calon anakmu yang membutuhkan masa depan.”

Sherly tersenyum sinis. Ia seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. “Apa aku harus memaafkannya? Menerimanya?”

“Cuma kamu yang bisa menjawabnya. Ingatlah, ini semua bukan sekadar tentang kesalahan masa lalu, tapi bagaimana kamu melangkah ke depan dengan memberikan yang terbaik untuk anakmu. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri saja, tapi pikirkanlah masa depan anakmu.”

Kata-kata Dini seolah mendorongnya jauh, menyentil keegoisannya. Sherly menyandarkan punggungnya di sofa, kembali terdiam dan memikirkan semuanya.