Baby and Me Part 17

Pagi yang berbeda, sosok Brian sudah duduk di ruang makan dengan secangkir the di tangan, bahkan sebelum Sherly keluar dari kamarnya. Sherly terlonjak kaget saat menyadari kehadiran Brian di apartemennya. Dia gagal menguap saat melihat Brian tersenyum sambil mengangkat cangkirnya.

“Bagaimana bisa kamu sudah ada di sini lagi?”
“Dini yang mempersilahkanku masuk.”
“Mau apa lagi?” Sherly mendengus kesal.

Sherly menuju dapur membuat segelas susu, sembari mengunyah biscuit. Diliriknya Brian dan seketika mood-nya menjadi buruk. Dia berdecak kesal pada Dini yang membiarkan Brian masuk.

“Aku sudah siap mengantarmu jalan-jalan.”
“Aku sedang hamil. Kamu lihat, kan?” seru Sherly, menunjuk perutnya.
“Lalu?” balas Brian dengan polosnya.
“Capek kalau harus jalan-jalan.”
“Apa perlu aku gendong?”

Geram, Sherly pun melempar bantal kursi ke arah Brian. Entah mengapa setiap melihat pria ini, emosinya selalu tersulut. Tak ada orang yang lebih Sherly benci dari Brian di dunia ini. Namun, takdir seakan menalikan kuat benang merah antara dirinya dan pria itu.

“Aku salah lagi?”
“Kamu memang selalu salah.”
“ngomong-ngomong, apa kamu hanya makan biscuit untuk sarapan?”
“Jangan banyak tanya, berisik.”
“Memangnya salah aku bertanya seperti itu? Nggak mungkin, kan, kita akan selalu bertengkar setelah menikah nanti?” Sherly tersedak saat mendengar perkataan Brian. Brian langsung memasang wajah bersalahnya, tapi secepat kilat Sherly mengangkat tangannya agar Brian tak mendekat padanya.
“Memang kau pikir aku mau menikah denganmu?” Tanya nya kesal.
“Tapi bukan berarti kau nggak mau mempertimbangkannya, kan?”
“…”

Brian benar, semua butuh pertimbangan termasuk menikah dengannya. Sherly masih memikirkannya. Kalaupun ia memang harus menikah, semua itu dilakukan demi status anaknya kelak. Tapi dia juga perlu menyiapkan mental saat akhirnya memutuskan untuk menikah. Walaupun berusaha keras untuk mengabaikan massa lalu, tapi nyatanya, masa lalu tetaplah bagian dari hidupnya yang tak bisa lepas. Dan sayangnya, kenangan satu malam bersama Brian tak member kesan bahagia sedikit pun, hanya ada rasa marah, kecewa, dan sakit hati. Sangat sulit baginya untuk dapat mengikhlaskan sikap Brian padanya dulu.

“bagaimana kalau kita sarapan di luar?” kamu mau sarapan apa?”
“Ah, baiklah. Ayo kita makan di luar. Siapa tahu nanti aku terkesan padamu.”

Mungkin ada baiknya dia sedikit mengalah demi anaknya dengan cara member kesempatan pada Brian. Perkataan Dini yang menyentil keegoisannya membuatnya berpikir lebih. Siapa tahu, kesempatan yang dia berikan kepada Brian dapat memberinya keyakinan untuk menikah atau tidak. Sherly mungkin tak membutuhkan Brian, tapi dia tak memungkiri bahwa kelak anaknya akan tetap membutuhkan sosok ayah.

Jika pernikahan itu benar-benar terjadi, itu berarti dia harus mampu memaafkan. Percuma jika menikah tapi dia masih saja membenci Brian, anaknya pun tak akan mendapatkan kasih sayang yang sempurna. Sherly bimbang bukan main. Memaafkan bukan perkara gampang.

“Gimana kalau kita makan bubur Manado saja,” ucap Sherly yang sudah mengganti tempat tujuan entah yang keberapa kali.”
“Yakin?”
“Atau makan ketoprak saja?” Tanya Sherly meminta persetujuan.
“Kamu mau balas dendam padaku atau bagaimana? Kita sudah dua kali putar arah, lho.”
“Ngomong dong kalau keberatan. Tahu gitu nggak usah makan di luar.”
“Bukan begitu, aku sama sekali nggak keberatan, bahkan kamu minta makan di luar kota aku siap antar. Tapi ini sudah hamper pukul sebelas dan kamu hanya mengunyah biscuit sejak tadi,” ucap Brian sembari melirik toples biscuit yang dibawa Sherly. Meladeni ibu hamil benar-benar jauh dari prediksinya.
“Ya udah, berhenti aja tuh di depan, ada penjual sate kalau kamu keburu lapar,” tunjuk Sherly asal.
Brian mengusap wajahnya, menahan sabar lalu mengusap perut Sherly yang membuncit.
“Nggak sopan pegang-pegang,” seru Sherly dengan memukul punggung tangan Brian.

Sekeras apa pun hati seorang pria, saat tangannya merasakan kehidupan buah hatinya akhirnya akan luluh juga. Seperti yang dialami Brian, perut Sherly yang membuncit memberikan perasaan baru. Jika sejak tadi dia menahan sabar demi Sherly, kini kesabarannya tersedia hingga batas yang tak bisa diukur.

“Sate nggak baik untuk ibu hamil.”
“Bagaimana jika makan di J Mall? Makanan di sana bervariasi.”
“Dari tadi, kek. Ya udah, kita ke sana sekarang, ya.”
Sebuah mal menjadi tempat tujuan mereka setelah Brian dipusingkan oleh Sherly. Pusing karena Sherly mengganti tempat tujuan berulang kali dalam waktu yang berdekatan.

“Oke, sekarang kamu mau makan apa?”
“Makan di tempat yang kamu nggak suka.”
“Maksudnya?”
“Kamu nggak suka makan apa?” Tanya Sherly.
“Aku suka semua makanan kecuali buah melon.”
“Oke, kita makan di pawon aja, di sana jual makanan tradisional. Aku ingin sarapan itu.”
“Hubungannya sama makanan yang nggak aku suka apa?”
“Nanti kamu tahu.”