Baby and Me Part 20

Hal yang paling mendebarkan adalah saat memeriksakan kandungan. Memasuki usia lima bulan, Sherly kembali memeriksakan kandungannya, dan kali ini ditemani oleh Brian. Menanti dari siang hingga perawat memanggil nama pasiennya dengan perasaan berdebar. Bukan hanya bagi Sherly, tapi Brian juga yang baru pertama kali mengalaminya. Brian menikmati saat-saat mereka menunggu antrean, sambil mengamati ibu hamil lainnya yang datang bersama suami mereka. Lalu tatapan Brian beralih pada Sherly yang sibuk memainkan ponsel. Pandangannya kini berubah sendu, membayangkan selama ini Sherly memeriksakan kandungannya sendiri. Tangan Brian terulur, menarik bahu Sherly dan memeluknya.

“Ngapain, sih?” protes Sherly, risih dengan perlakuan Brian.
“Maaf, ya.”
“Kamu bilang maaf diulang-ulang mulu.”
“Maaf, sudah membiarkanmu berjuang sendiri.”
“Hmmm…”
“Apa kamu biasanya datang sendiri ke sini?”
“Enggak.”
“Bersama Farel?” Tanya Brian hati-hati.
“Iya,” jawab Sherly, santai.
“Selama kehamilan?”
“Iya.”
“Kenapa kamu nggak nyari aku?”
Mata Sherly memicing mendengar pertanyaan Brian.
“Buat apa mencari orang yang sudah nggak menerimamu dari awal? Bahkan kamu kemarin keluar kota saat jadwal periksaku di awal semester dua.”
Reflex Brian terdiam. Menyesal telah menanyakan hal bodoh yang akhirnya melukainya dan juga Sherly.

Panggilan perawat untuk Sherly menginterupsi perbincangan mereka.
“Selamat sore, Bu Sherly. Kali ini datang bersama siapa?” sapa sang dokter saat Sherly dan Brian masuk ruangan.
“Sore, Dok. Perkenalkan saya suaminya, Brian,” ucap Brian dengan senyum teramat lebar.
“Ah, ya. Pak Brian, silakan duduk.”
Sherly memilih diam dan hanya tersenyum pada dokter kandungannya. Sherly sangat mengerti ekspresi wajah sang dokter yang kaget. Bagaimana bisa tak kaget saat ada dua pria mengaku sebagai suaminya. Dulu juga Farel memperkenalkan diri sebagai suaminya.
“Bu Sherly apa kabar? Apa ada keluhan?”
“Saya merasa perut saya sering kencang akhir-akhir ini.”
“Oke, saya periksa dulu, ya. Mari berbaring.”

Dokter melakukan pemeriksaan rutin hingga tahap pemeriksaan USG. Awalnya, Sherly menolak saat Brian ingin ikut melihat, tapi apa daya, dia tak bisa melarang Brian seperti dia melarang Farel. Dia malu saat harus memperlihatkan perut buncitnya pada Brian.

Suara degup jantung janin mengalihkan rasa malu Sherly. Kini rasa itu berganti menjadi rasa haru. Pandangannya beralih pada layar USG. Setiap dia mendengar suara degup jantung dan melihat geraakan janin dalam kandungannya, Sherly selalu menitikkan air mata.

Genggaman tangan Brian mengerat saat matanya melihat calon anaknya bergerak-gerak. Matanya berkaca-kaca tak mampu membendung perasaan aneh yang menyusup ke relung hatinya. Brian sampai harus menggigit bibir agar tak menangis.

“Anaknya sangat sehat, lihatlah. Gerakan dan denyut jantungnya normal.”
“Apa dia laki-laki?” Tanya Brian terbata. Seketika dia merasakan jatuh cinta dan ingin segera memegang jemari kecil itu.
“Untuk saat ini masih belum terlihat jelas. Mungkin nanti saat bayi kalian menginjak usia tujuh bulan.”
“Ah, tak apa, yang penting bayi kami sehat, saya sudah sangat bersyukur, Dok,” ucap Brian.
Selesai melakukan pemeriksaan, tinggalah sesi konsultasi.
“Dari semua pemeriksaan normal. Semoga ibu dan bayinya sehat. Masih ada sesi seperti ini beberapa kali ke depan. Jadi Pak Brian bisa mengantar Bu Sherly untuk pemeriksaan rutin berikutnya.”
“Pasti, Dok.”

Ini baru pertama kalinya bagi Brian melihat langsung proses pemeriksaan kandungan, terasa sangat menakjubkan. Brian menyesal telah melewatkan sesi seperti ini selama lima bulan. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga selalu Sherly dan anaknya.

“Mengenai kontraksi yang sering dirasakan, itu bisa saja terjadi. Hormone dalam sperma biasanya menyebabkan kontraksi pada dinding rahim. Pada kehamilan trimester dua memang terjadi peningkatan libido. Tapi maaf, mungkin bisa dikurangi frekuensinya menjadi seminggu dua kali saja.”
Reflex, mereka saling menatap. Suasana menjadi canggung tiba-tiba.
“Baik, Dok. Saya akan lebih hati-hati,” ucap Brian mengakhiri konsultasi.