Baby and Me Part 26

Sore yang melelahkan. Entah sudah berapa kali Sherly mengganti posisi duduknya agar terasa lebih nyaman, tapi hasilnya sama saja. Pinggulnya terasa begitu pegal. Ditambah perutnya yang membesar semakin mengekang geraknya. High heels yang biasa Sherly kenakan sudah berubah menjadi flat shoes. Baju slim fit-nya berubah menjadi baju dengan lingkar perut yang lebih lebar. Semakin ke sini, Sherly semakin merasakan perubahannya yang drastic. Dia juga mudah lelah walaupun hanya duduk di depan computer.

“Sudah selesai?” Tanya Brian mengagetkan Sherly.
“Bisakah datang jangan seperti hantu?” Sherly memegangi dadanya. Dalam hati ia berpikir, keberadaan Brian seperti bayangan yang tak ia sadari, tapi selalu ada.
“Maaf. Aku nggak bermaksud untuk mengagetkanmu. Sini aku bawakan tasmu.”
“Aku bisa bawa sendiri.” Sherly langsung meraih tasnya sebelum Brian merebutnya.
“Biarpun kamu sensian, tapi sangat manis.”
“Ck…”
“Mau makan di mana?” Tanya Brian lagi.
“Bisa nggak tiap mau makan jangan Tanya mau makan di mana? Kamu, kan tahu aku paling bingung kalau ditanya mau makan di mana.”
“Ya sudah, kita makan sop iga kesukaanmu, bagaimana?”
“Aku lagi nggak ingin makan sop iga.”
“Oke, lalu mau makan apa?”
“Jangan Tanya mau makan apa. Aku, kan udah bilang tadi.”
Brian menggaruk pangkal hidungnya. “Ya udah makan pasta?”
“Nggak mau western,” jawab Sherly cuek.

Brian melebarkan senyumnya sekaligus melebarkan kesabarannya. Sementara Sherly menahan tawa. Dia ingin menguji sampai mana kesabaran Brian meladeninya. Jika Brian tulus padanya, maka Brian akan bersabar untuknya. Bukankah hidup bersama butuh ketulusan agar bisa bertahan? Sherly menginginkan hal itu untuk bisa bersama Brian, selamanya.

“Aha, aku tahu. Ada restoran yang biasanya aku kunjungi bersama Farel. Ada fish dan chip sambal matah. Indonesia banget, sesuai seleramu.”

Sebenarnya Sherly ingin menolak, tapi mulutnya seketika berliur membayangkan fish and chip sambal matah. Biasanya, fish and chip yang dia makan dipadu dengan mayonnaise atau saus tar-tar. Sherly mengangguk mengiyakan, dan menyerahkan tasnya pada Brian.

Brian terdiam menerima tas Sherly. Sherly tersenyum jahil, “Katanya mau bawain.”
“Brian pun segera sadar dari rasa bingungnya, “Tentu Nyonya. Apa perlu digendong juga?”
“Jangan mimpi,” balas Sherly ketus.
Brian terkekeh. Tangan kirinya yang nakal memeluk bahu Sherly walau Sherly sudah menepisnya.

Pakaian untuk lima hari sudah tertata rapi di dalam koper merah muda. Sherly ingin menyendiri, merenungkan semua hal yang telah terjadi, dan memikirkan langkah selanjutnya demi anak dan hatinya yang rapuh. Membenci Brian tak semudah itu. Amarahnya bisa tiba-tiba melebur oleh perlakuan Brian yang kecil, tapi terasa nyaman.

Sherly menghela napas setelah menutup kopernya. Diusap perutnya perlahan sembari mengajak anaknya bicara.
“Ayahmu memang menyakiti Bunda, tapi dia sangat sayang padamu. Kamu nggak boleh benci ya, sama Ayah. Cukup Bunda saja yang kesal pada Ayahmu.”

Sherly terdiam sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ah, tidak. Kita tidak boleh membenci Ayahmu. Bagaimanapun juga dia Ayah yang baik, sayang. Apa pun yang dia lakukan, semua demi kebaikan kamu. Jadi kamu harus sehat dan baik-baik di dalam,” ralat Sherly yang tak ingin mengajarkan hal buruk pada calon anaknya.

Dia yakin, janin dalam kandungannya bisa mendengarkan perkataannya. Karena itu Sherly mencoba berbesar hati dengan mengajarkan anaknya untuk tak membenci ayahnya. Walau pun dalam hati dia masih merasa sakit hati jika mengingat perlakuan, dan pemikiran sempit Brian padanya. Tapi sekali lagi, kebencian yang besar tak menjamin kita untuk tetap kuat mendapat terpaan perhatian dan ketulusan.

From: Brian
Sudah minum susu?

Sherly membaca pesan singkat itu tanpa berniat untuk membalasnya. Dia takut untuk menerima perhatian Brian yang mampu merobohkan kebebciannya perlahan.

From: Brian
Mau aku bikini?

Lagi-lagi Sherly mengabaikannya dengan cara melempar ponselnya menjauh. Dia menarik kopernya ke belakang pintu. Merasa semuanya sudah beres, Sherly berencana keluar kamar untuk membuat susu sebelum tidur.

Betapa terkejutnya ia saat membuka pintu, dan sosok Brian sudah berdiri di hadapannya lengkap segelas susu di tangannya. Senyum Brian merekah, tapi Sherly segera memalingkan wajah.

“Sejak kapan di sini?”
“Sejak tadi belum pulang,” jawab Brian.
“Sejak tadi masih di sini?” ngapain?”
“Duduk. Siapa tahu kamu butuh sesuatu. Nih, aku sudah buatkan susu. Diminum, ya.”
Sherly menyerah. Diambilnya gelas susu pemberian Brian. “Kamu habis ini pulang, kan?”
“Kenapa? Kamu ingin aku di sini?”
“Nggak.”
“Kalau memang kamu ingin, aku akan di sini. Lagipula besok libur.”
Sherly terdiam. Jika Brian tetap ada di apartemennya, Brian akan mengetahui rencana kepergiannya untuk berlibur besok.
“Hmmm, kamu pulang aja, ya. Aku malah nggak tenang kalau kamu ada di sini,” ucapnya dengan mata sedikit memohon.

Brian menaikkan sebelah alisnya. Tak biasanya Sherly memberikan tatapan seperti itu padanya. Namun, ia tak mau berdebat dan memilih untuk mengalah.

“Baiklah, aku akan pulang. Tapi setelah ini kau harus istirahat, ya?”
Sherly mengangguk perlahan. Perasaan lega menjalar di hatinya.