Baby and Me Part 33

“Apa jadwalmu hari ini?” Tanya Brian setelah mereka menyelesaikan makan pagi, dengan senyum dan ekspresi ceria terbaiknya. Brian tak ingin melihat kegundahannya.
“Entahlah. Aku takut terjadi sesuatu seperti kemarin kalau aku memaksakan untuk jalan-jalan.”
“Kenapa nggak balik ke Jakarta saja.”
“Aku lebih suka tinggal di sini. Di sini lebih tenang dibandingkan di Jakarta. Sepertinya tinggal selamanya di sini bukan ide yang buruk.”
“Bukan ide yang buruk untukmu, tapi itu berita buruk untukku. Bagaimana bisa aku jauh darimu? Jangan menjauh kan yang sudah jauh.”
“Jangan menebar harapan, kalau kahirnya mengecewakan. Bahkan berulang kali,” balas Sherly memalingkan wajahnya. Menyembunyikan kesedihan yang sangat kentara.

Brian terdiam. Ia tak menyangka Sherly akan membalas ucapannya dengan raut wajah seperti itu. “Setidaknya bantu aku untuk membiarkanku lebih dekat denganmu. Aku nggak akan memaksamu jika itu menyakitimu.”

Kebimbangan datang. Yang sedang mereka bicarakan bukan perihal masa kini, tapi masa yang akan datang. Pilihan mana yang akan Sherly pilih, tetap bersikeras menjaga hatinya, atau siap tersakiti demi buah hatinya. Apalagi hatinya mulai nakal, merasa nyaman saat di dekat Brian.

“Marilah kita hidup bersama, berbagi segala kegundahan, jadi kehamilanmu akan baik-baik saja. Selama ada aku, aku pastikan kamu dan calon anak kita akan baik-baik saja. Dia akan tumbuh dengan baik karena memiliki kita. Jika kamu tinggal di sini sendiri, siapa yang akan membantumu saat tiba-tiba terjadi sesuatu denganmu? Dan aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi.” Ada nada memohon pada kalimat yang Brian utarakan.

“Kamu peduli padaku atau karena aku sedang mengandung anakmu?”
“Tentu saja aku peduli padamu dan anak kita. Jangan memintaku untuk memilih karena kalian berharga untukku.”
Sherly menggigit ujung bibirnya. “Benarkah? Sejak kapan?”
“Sejak aku tahu rasanya jadi seorang calon Ayah dan suami. Walaupun hanya suami yang tak dianggap,” ucap Brian memasang wajah sendu.

Sherly menenggak habis jus melonnya sampai tak tersisa, kemudian mengelap bibirnya dengan sapu tangan, tanda ia baru saja menyelesaikan sarapannya.

“Hari ini aku mau di kamar saja. Tapi tolong jangan ganggu aku. Tenang saja, aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu, suamiku dan calon ayah,” ucap Sherly, lalu bangkit meninggalkan Brian yang speechless.

Langkah Sherly gamang, segamang pikirannya. Inginnya memberi kesempatan, tapi memberikan kesempatan tak semudah saat mengucapkannya. Bibirnya mungkin bisa saja dengan mudah mengatakan hal itu, tapi hatinya terasa kelu untuk mengiyakan bahwa dia mau menerima kehadiran Brian. Walaupun sesungguhnya dia sudah merasa ketergantungan pada kenyamanan yang Brian sodorkan.

Diusap perutnya perlahan, mengajak bayi dalam kandungannya bicara seolah mereka teman curhat yang sudah saling kenal lama. Air matanya telah bosan menangisi kesepian. Haruskah ia berteman dengan kepingan masa lalu yang pernah ingin dia lupakan? Namun, rasa takut akan dikecewakan lagi masih menduduki tingkat teratas perasaannya.

Sherly memainkan ponsel di tangannya, mengetikkan pesan lalu menghapusnya lagi. Dia melakukan hal itu berulang kali. Hingga akhirnya ia yakin saat mengetikkan pesan yang dirasa paling tepat.

To: Brian
Aku tak akan mencari benar salah lagi.
Aku hanya ingin masa depan anakku tak tersakiti
Mati bersama membesarkan sang buah hati
Bantu aku untuk hal ini
Semua memang tak sejalan seperti yang aku mau
Tapi hanya kamu yang bisa membantu
Mungkin aku tak bisa langsung menerima kehadiranmu
Jadi tolong bersabar dan jangan kecewakan harapanku.

Tak berselang lama, pintu kamar Sherly berbunyi. Brian sudah tak sabar memperlihatkan ekspresi kegembiraannya tadi, Brian nyaris menjatuhkan ponselnya setelah menerima pesan dari Sherly, kaget dan tak menyangka apa yang dibacanya.

Tanpa berkata-kata, Brian langsung memeluk Sherly saat pintu terbuka. Dia mengucapkan terima kasih berulang kali.

“Aku memberimu kesempatan, bukan kesempatan untuk memelukku,” ucap Sherly.
“Kesempatan apa pun yang kamu berikan, aku akan tetap memelukmu. Ini ekspresi bahagiaku. Kamu tahu?”
“Alasan.”
“Aku selalu punya alas an untuk dekat denganmu, tapi aku nggak punya alas an untuk menjauh.”

Speechless, Sherly seakan kehabisan kata-kata. Brian benar-benar pandai bicara. Walaupun menyebalkan, tapi hati perempuan mana yang tak akan tersentil sampai bibirnya mengembangkan senyum tanpa sadar.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tempat yang akan jadi penutup manis liburan kita di sini,” ucap Brian lagi.
“Ke mana?” Tanya Sherly sedikit ragu.
“Kalau aku member tahumu, itu bukan surprise. Kita akan ke sana nanti sore. Sekarang istirahatlah.”
Sherly tersenyum kecil. Diam-diam ia berharap sore akan cepat datang.