Baby and Me Part 34

Jiwangga resto merupakan salah satu restaurant yang mengedepankan lokasi luas dan penuh aneka ragam spot yang membuat mata tak bosan meng-explore-nya. Termasuk Sherly yang takjub sejak kali pertama melangkahkan kaki di depan pintu masuk. Dia disuguhi oleh pemandangan yang luar biasa, bak memasuki zaman sejarah. Jauh dari hirup pikuk kota dan kebisingannya. Sherly menoleh pada Brian dan memamerkan senymnya. Kali ini, dia tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

“Nggak usah jalan jauh, capek. Langsung ke sana saja,” tunjuk Brian ke arah tempat yang sudah dipesannya. Terlihat sebuah meja yang tertata dengan view yang cantik.
“Duduklah, nikmati pemandangannya. Itu bagus untuk ibu hamil sepertimu.” Sherly mengangguk senang. Kali ini, dia tak akan membantah permintaan Brian.

Makan sore dengan pemandangan serba hijau dan sitemani sinar jingga matahari yang cantik benar-benar menentramkan hati. Sherly tak henti tersenyum menikmatinya. Tak peduli dengan Brian yang tengah memandanginya. Sherly tetap menatap langit keemasan. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan mengatakan bahwa langit sore itu sangatlah cantik.

“Apakah kamu memotretku?” Tanya Sherly saat menyadari sebuah ponsel mengarah padanya.
“Sekali. Biar aku selalu ingat ke mana jalan pulang.”
“Sekarang banyak aplikasi biar nggak tersesat,” balas Sherly tanpa menoleh pada Brian.
“Tapi, aku lebih suka kalau tersesat, tersesat di hatimu.”
Sherly berusaha menahan tawanya. “Apa kamu punya kamus gombal? Recehan banget.”
“Hal receh bisa jadi besar kalau sudah kehilangan,” ucap Brian.
Sherly tertawa miris. Kehilangan? Bagaimana bisa kehilangan kalau memiliki saja tidak?
“Apa aku punya hak untuk merasa kehilangan?” Tanya Sherly lagi.
“Kamu punya hak atas diriku. Sepenuhnya aku milikmu.”
Tawa Sherly terdengar lebih keras hingga perutnya terasa kencang. Dia mengusap perut dan tawanya seketika berhenti melihat Brian yang memandangnya dengan tatapan serius.

“Ketulusanku bukan candaan,” ucap Brian.
“Maaf.”
“Mungkin nanti, suatu saat kamu akan memahami. Aku memang pernah menjadi pria pengecut, tapi setelah medengar suara denyut jantung buah hati kita, aku memahami sesuatu. Aku telah jatuh cinta padanya. Penyesalanku lebih besar darimu, dan rasa terima kasihku tak henti untukmu. Kamu perempuan terhebat yang pernah aku tahu.”

Sherly terdiam. Ia hampir saja menitikkan air mata saat mendengar ucapan pria yang ada dihadapannya ini. Ya, Tuhan apakah ini benar isi hati brian yang sesungguhnya? Bolehkah aku memercayainya?

Kembali ke kota yang penuh hiruk pikuk setelah menikmati beberapa hari di kota istimewa, Sherly merasa belum bisa move on dari liburan singkatnya. Jalanan kota Jakarta sukses membuat siapa pun merasa bosan di jalan. Brian yang ada di sampingnya pun tak dapat menghilangkan rasa bosannya. Sejak mereka tiba di Bandara Soekarno Hatta, brian tak juga mengucapkan sepatah kata pun, menambah rasa bosan dan jenuhnya.

Brian sendiri tak menyadari kegelisahan yang dirasakan Sherly. Sherly mengembuskan napas berat, menyandarkan punggungnya, mencari perhatian. Diabaikan menjadi hal paling menyebalkan saat ini. Mungkinkah dia mulai merasakan namanya kehilangan padahal Brian ada di sampingnya? Sherly mengusap pelipisnya, menghilangkan pikiran konyonya.

“Apa kamu akan diam terus sepanjang hari?” Tanya Sherly yang tak tahan lagi didiamkan.
“Apa kamu sedang merajuk?” Tanya balik Brian seraya mengusap perut Sherly.
“Aku sedang bertanya, bukan merajuk.”
“Aku sedang menunggu kamu mengajakku bicara,” ucap Brian enteng.
Sherly memutar bola matanya kesal. “Kenapa harus menunggu?”
“Biar aku tahu rasanya menunggu,” jawab Brian.
“Buat apa?” Tanya Sherly, mulai tak sabar.
“Biar tahu rasanya bersyukur saat harapanku terkabul.”
“jadi harapanmu hanya diajak bicara olehku?” Tanya Sherly, tak habis pikir dengan Brian.
“Salah satunya. Setidaknya, dengan menganggap keberadaanku, kita bisa jadi teman.”
“Teman?”

Brian terus mengusap perut Sherly. Gerakan-gerakan janin langsung terasa saat Brian memegang perutnya. Itu jelas tak baik untuk hati dan jiwanya. Saat menyadari bahwa yang disayangi Brian hanyalah anak mereka, sedangkan ia hanya menganggapnya teman, hati kecil Sherly merasa kecewa. Mungkinkah ia sudah merasakan hadirnya cinta pada lelaki ini?