Baby and Me Part 35

“Tinggallah denganku, Sher,” ucap Brian lalu terjadi keheningan. “Ah, nggak seharusnya aku memintamu dengan cara seperti ini. Tapi kalau aku pendam, itu hanya membuatku tersiksa. Aku ingin yang terbaik untuk anak kita.”

Anak kita. Kata itu berulang kali disebutkan Brian. Mungkin ‘anak kita’ adalah satu-satunya alasan bagi Brian untuk mendekati dan mengajaknya menikah? Sherly sadar, mereka baru saja mengenal secara akrab, tentu saja perhatian Brian tercipta karena janin di dalam kandungannya. Sedangkan kebencian yang dia bawa ke Yogyakarta menghilang oleh perhatian yang selalu diberikan oleh Brian.

Sepertinya benih perhatian telah bertunas menjadi sebuah rasa. Sherly menoleh, memandangi Brian yang sudah kembali focus pada jalanan. Hatinya bimbang. Apa demi anaknya, dia siap sakit hati lagi?

“Bisakah kamu mengucapkan permohonanmu lebih baik lagi?” Tanya Sherly.
“Maksudmu, kamu mau tinggal denganku?” Tanya Brian, setelah menepikan mobilnya.
“Tergantung, proposalmu menarik untuk aku nggak,” tantang Sherly yang siap dengan segala konsekuensinya, termasuk sakit hati lagi. Karena menjauh dari Brian juga sebuah kemustahilan.
Brian terlihat bingung. “Apa butuh perjanjian?”
“yang aku butuhkan adalah sebuah lamaran, bukan memintaku tinggal bersama di dalam besi berpintu seperti ini. Meskipun kita sudah resmi menikah, tapi kamu belum pernah melamarku dengan cara yang benar.”

Sejenak brian kaget, apa Sherly sedang memohon padanya? Ekspresi kagetnya berubah jadi senyuman lebar. Tangan Brian menekan tombol play pada music player. Lagu milik Train berjudul “Marry Me” mengalun memenuhi mobil. Brian selalu menyimpan playlist lagu romantic di dalam mobilny. Beruntung ia memiliki playlist yag pas dengan suasana saat ini.

Sempat tercengang, Sherly pun tersenyum miring. Brian cukup cekatan, pikir Sherly. Brian mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan cincin, lalu matanya menatap tali pengharum mobil. Dia tersenyum, mengambil tali berwarna merah itu.

“Karena ini mendadak, dan aku harus melakukan secepatnya sebelum kamu berubah pikiran, sementara aku hanya memiliki tali merah ini. Hanya sebuah tali merah, tapi sku berharap ini bisa jadi benang merah penghubung dan pengikat antara aku, kamu, dan calon anak kita, selamanya. Maukah kamu memakainya dan tinggal bersamaku selamanya/”

Tanpa terasa, bulir bening sudah memenuhi mata Sherly. Walau bukan dengan cincin berlian, dan bukan dengan makan malam romantic, hatinya benar-benar tersentuh oleh sikap Brian padanya. Beginikah rasanya dilamar? Mereka memang sudah menikah, tapi Sherly belum pernah merasakan dilamar seseorang.

Air matanya luruh bersama rasa senang dan sedih yang bersamaan. Senang merasakan dilamar seseorang, tapi juga sedih menyadari lamaran itu hanyalah kebahagiaan fatamorgana. Brian hanya menyayangi anaknya, bukan dirinya. Tak berharap pun rasanya menyakitkan, apalagi saat harapannya mulai ada. Demi masa depan anaknya, dia akan mengesampingkan perasaannya. Lagipula, mereka sudah menikah dan Brian menyayangi anaknya.

“Maaf aku belum pernah benar-benar melamarmu dengan baik, padahal kita sudah menikah dua bulan. Aku janji akan mengganti tali ini nanti dengan cincin terbaik. Dan dengan makan malam romantic, tentunya.”
“Aku memakainya dengan satu syarat,” ucap Sherly sembari mengusap air mata di pipinya.”
“Apa?”
“Jangan lagi menyakitiku dengan berpikir buruk tentangku, tolong hargai aku. Demi anak kita.”
“Apa aku perlu melepas cincin ini?” Tanya Brian pada cincin polos yang melingkar di jari manis Sherly. Cincin pernikahan mereka.
“Nggak perlu, ini cincin kesukaanku. Aku nggak mau menggantinya dengan apa pun.”

Brian memakaikan tali merah itu di jemari lain. Karena di jari manis Sherly sudah ada cincin polos dengan nama Brian terukir, pertanda bahwa mereka adalah sepasang suami istri.

“Apa aku boleh menciummu?”
Reflex Sherly mendorong wajah Brian, dan Brian tertawa lepas.
“Ekspresimu sungguh lucu. Aku hanya mau menciummu bukan mau memakanmu.”
Memalingkan wajah adalah hal terbaik yang bisa Sherly lakukan untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu malu. Jangan Tanya bagaimana detak jantungnya.