Baby and Me Part 36

Pagi yang berbeda. Sherly bangun dengan perasaan sedikit terkejut saat menyadari bahwa ia tidak ada di dalam kamarnya. Namun, disetik berikutnya, dia mengembuskan napas lega. Dia ingat, kini ia tak lagi tinggal bersama Dini, tapi bersama Brian. Senyum di bibir Sherly terukir saat melihat pita merah masih melekat manis di jarinya. Sherly melihat ke arah jendela seraya mengusap perutnya, menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan. Kini dia siap memulai hari baru setelah berdamai dengan masa lalu.

Sherly keluar dari kamarnya setelah mandi dan berpakaian rapi. Mengendap-endap menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan.

“Pagi,” sapa brian yang sudah ada di dapur dengan segelas susu, biscuit, dan dua potong sandwich pada nampan yang dia bawa.
“Pagi,” balas Sherly canggung.
“Ini sarapanmu, benar, kan? Aku sudah menanyakan semua hal tentangmu pada Dini.”
“Terima kasih,” balas Sherly, kemudian ia duduk di meja makan. Terbesit rasa senang Brian mencari tahu tentangnya, merasa benar-benar diperhatikan.
“Aku harus ke kantor. Kalau aku tinggal kamu sendirian di sini apa kamu keberatan?”
Sherly menggeleng pelan walau dalam hati dia ragu. Membayangkan seharian hanya di apartemen, dia sudah merasa bosan.

“Apa aku boleh keluar?” Tanya Sherly.
“Tentu saja. Asal kau berhati-hati dan tidak pergi sampai larut malam. Butuh sopir?”
“Aku naik taksi saja.”
“Jangan, biar diantar sopir saja. Aku akan ke kantor naik taksi, jadi kamu bisa pergi ke mana pun dengan aman bersama sopir. Jika kamu mau berbelanja, ajak dia ikut, jadi dia bisa ikut menjagamu.”
“Aku bukan nenek jompo yang linglung. Aku ibu hamil yang sehat. Kamu memperlakukanku berlebihan.”
“Bukan berlebihan, aku hanya khawatir. Kuharap kamu mengerti.”
Sherly tersipu malu. Benarkah Brian sekhawatir itu kepadanya?
“Ya, aku mengerti.”
“Aku hanya nggak mau terjadi sesuatu pada kandunganmu. Nggak semua orang punya kesempatan seperti kita. Banyak orang yang ingin sekali memiliki anak. Jadi, saat kita mendapatkan kesempatan itu, maka kita harus menjaga nya.” Brian tersenyum manis di akhir kalimatnya, membuat perasaan Sherly terasa jauh lebih terang.
“Aku siap-siap ke kantor, habiskan sarapanmu,” ucap brian.
“Kamu nggak sarapan?”
“nanti aja di kan…”
Ucapan Brian terhenti oleh sepotong sandwich yang mendarat manis di mulutnya. Sherly tertawa pelan.
“Makanlah. Suami siaga juga butuh tenaga,” ucap Sherly.
Brian mengecup kening Sherly setelah menghabiskan sandwich nya. “Makasih. Aku siap-siap dulu, ya.”

Sherly menghabiskan sarapannya. Menikmati tiap potong sandwich buatan Brian. Hanya sandwich biasa, tapi pagi ini roti itu terasa sangat enak. Sherly bahkan langsung menghabiskan tiga potong sandwich dan segelas susu khusus ibu hamil rasa mocca.

“Hubungi aku segera jika terjadi apa-apa,” pesan Brian yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
“Ini baru pukul tujuh, sudah mau berangkat?”
“Biasanya bahkan aku berangkat lebih pagi dari ini. Dari sini ke kantor lumayan macet.”
“Oh…” balas Sherly, lalu tersenyum lebar. Tak menyangka Brian adalah pekerja disiplin.

Brian mendekat, menarik pelan tangan Sherly sehingga mereka saling berhadapan. Tangan Brian menagkup wajah Sherly sehingga Sherly salah tingkah dibuatnya.

“Aku harus berangkat kerja setelah libur beberapa hari demi menemanimu di Yogyakarta. Aku akan segera pulang setelah semua pekerjaan selesai.”
“Jadi semua salahku?”
“Astaga, aku salah bicara lagi. Bukan begitu maksudku. Aku sudah mengabaikan pekerjaanku, aku harus mempertanggungjawabkannya. Kamu tahu aku bukan karyawan biasa, tapi bukan berarti aku bisa seenaknya meninggalkan pekerjaan. Namun, demi keluargaku, aku sempat mengabaikannya. Jadi hari ini aku harus bekerja. Kamu nggak mau punya suami pengangguran, kan? Dan kamu nggak mau, kan teman-temanmu di kantor kehilangan pekerjaan karena hotel kita bangkrut?”
“Maaf.”
“Bilang maaf itu pekerjaanku. Aku nggak mau kamu mengambil alih pekerjaanku. Nanti aku pengangguran,” gurau Brian. Menghibur Sherly yang berwajah murung.
“Garing.”
“tapi kamu senyum.”
“Nggak,” balas Sherly, menyembunyikan senyumnya.

Satu kecupan singkat mendarat di bibir Sherly yang berbohong. Brian tahu Sherly selalu takut membuka hati lagi. Namun, bukan berarti brian akan diam saja. Apa pun akan dia lakukan demi menjadi kata ‘kita’ bersama Sherly dan anak mereka.