Baby and Me Part 40

Toko peralatan bayi menjadi tempat pertama yang mereka singgahi setibanya di J Mall. Sherly sangat antusias melihat-lihat hingga tanpa sadar menabrak seseorang sampai limbung. Untung saja ada Brian yang siap siaga di sampingnya.

“Pelan-pelan, kita masih punya banyak waktu.”
“Maaf, aku hanya terlalu senang.”
“Aku tahu. Tapi ingat keselamatanmu.”
“Oke. Apa ini lucu?” Tanya Sherly, mengalihkan ekspresi Brian yang tegang.
“Lucu.”
“Kalau ini lucu nggak?” Tanya Sherly lagi, menunjukan sepasang sepatu mungil berwarna abu-abu.
“Lucu.”
“Kenapa semuanya kamu jawab lucu?”
“Karena nyatanya begitu. Bahkan di dalam toko ini semua lucu dan menggemaskan,” balas Brian jujur.
“Ah, ya kamu benar. Lalu kita beli yang mana?”
“Mana pun yang menurutmu nyaman dan bagus untuk Kenzo.”
“Siapa Kenzo?” Tanya Sherly bingung.
“Nama anak kita nanti.”
“Anak kita belum tentu cowok, Brian.”
“Keyakinanku mengatakan jika dia cowok. Bahkan aku sudah memilihkan banyak mainan untuknya,” ucap Brian sembari mengengkat tas belanjanya yang berisi tumpukan mobil-mobilan. Sherly tertawa kecil. Entah sejak kapan suaminya itu memilih mainan untuk anak mereka.
“Kalau ini sih, emang kamu yang mau, bukan bayi kita,” ledek Sherly, emndorong tas belanjaan yang Brian tenteng.
Shelry mencubit kedua pipi Brian dengan gemas. Bersama Brian, dia menyadari satu hal. Seangkuh apa pun pria ini, sebenarnya Brian hanyalah sesosok anak keci yang terperangkap pada tubuh besar.

“Sherly…”
“Hmm…”
“Mama bilang dia ingin kita menginap di rumah, kapan kamu mau?”
“Apa harus secepatnya?” Tanya Sherly.
“Kalau kamu sudah siap. Mama dan Papa ingin rumahnya ramai dengan kehadiran kita, walau Cuma sebentar. Sejak aku kuliah, aku jarang pulang. Sekarang aku baru menyadari, membayangkan kalau aku sendirian di apartemen pasti rasanya kesepian. Kupikir kita tinggal di sana sehari-dua hari bukan masalah, mereka pasti sangat senang.”
“Baiklah, aku senang kamu mulai peduli dengan orang lain. Bagaimana kalau nanti malam?” ajak Sherly semangat.
“Benar nanti malam?” mata Brian melebar senang. Dia sangat berharap Sherly percaya kepadanya dan pada orangtuanya bahwa mereka sangat menyayangi Sherly bukan hanya karena calon anak yang Sherly kandung.
“Iya.”
“Terima kasih. Aku akan bilang pada Mama, mereka pasti senang.”
“Aku juga senang kalau bisa bikin kamu bahagia. Bukan hanya kamu yang ingin lihat aku tersenyum, tapi aku juga ingin lihat kamu tersenyum,” ucap Sherly.
“Kenapa sekarang kamu jadi yang menggombaliku?” balas brian, lalu mereka tertawa bersama.
“ternyata ngegombal itu menyenangkan juga. Apalagi ngegombalin raja gombal,” balas Sherly dan terkekeh sendiri.

Mulai hari ini, ia akan membuka diri dan hati. Lagi pula, mau sampai kapan dia menghindar dan mengingkari bahwa dia memiliki keluarga baru. Salah satu cara mengurangi kecemasan adalah dengan percaya. Sherly percaya bahwa kini dia tak hanya sendiri tapi ada keluarga yang juga menyayanginya dan yang perlu ia lakukan hanyalah berani melangkah untuk merasakan kasih sayang itu.

Kediaman keluarga Maurer mala mini terasa lebih hangat, berkumpul di ruang keluarga dengan obrolan santai. Brian duduk di samping Sherly dengan posisi tangan melindungi di balik bahu istrinya, membuat Sherly merasa nyaman.

“Bagaimana kehamilanmu, Sherly?” Tanya mama.
“Baik, Ma. Dia aktif sekali bergerak.”
“Syukurlah. Mama sudah nggak sabar menunggu cucu Mama lahir. Rumah ini pasti akan semakin ramai.”
“Aku juga, Ma. Aku ingin mengajaknya bermain,” ucap Brian.
“Punyalah anak yang banyak, jangan hanya satu,” ucap Maurer.
“Siap, Pa.” brian menjawab dengan penuh semangat. Membuat Sherly gemas dan langsung mencubit perut Brian.
“Iya, kalau Cuma satu tuh sepi. Apalagi kalau anaknya macam kamu. Nggak betahan di rumah,” ucap Mama kemudian.
“Maaf ya, Ma. Sekarang Brian baru ngerasain sepinya kalau sendirian. Apalagi kalau nggak ada Sherly,” ucap Brian sambil mengusap kepala Sherly.
“baik-baik sama istrimu,” pesan Mama.
“Pasti, Ma.”
“Sayang juga sama Mama, karena bagaimana pun anak laki-laki itu tetap milik ibunya,” ucap Sherly.
“Kenapa ya ketemu kamunya nggak dari dulu aja, jadi Mama nggak stress mikirin Brian,” ucap Mama membuat mereka tertawa.
“Apa aku senakal itu, Ma?” Tanya Brian.
“Menurutmu?” Tanya Sherly balik dengan lirikan tajam mewakili Mama.

Keluarga adalah anugerah yang tak bisa tergantikan. Saling bicara, dan tertawa bersama keluarga adalah obat dari segala penyakit. Seindah apapun di luar sana, bersama keluarga tetaplah yang terindah baginya. Dia mengamati satu per satu raut wajah keluarga barunya. Ada senyum di sana, bahkan Maurer pun tak lepas dari virus itu. Virus bahagia yang menimbulkan gejala senyuman di wajahnya. Sherly menyenderkan kepalanya di dada Brian, mencari kenyamanan dan mendengarkan degup jantung Brian yang cepat.