Baby and Me Part 43

Resepsi pernikahan berjalan lancar. Setelah tiga bulan melahirkan Kenzo, mereka kembali lagi dan melangsungkan resepsi. Sherly gelisah sepanjang acara karena harus berpisah cukup lama dengan buah hatinya. Setelah acara selesai pun, mereka tak langsung pulang melainkan ke kamar hotel yang sudah dipersiapkan. Sherly pun semakin tak tenang. Mondar-mandir di samping tempat tidur, sementara Brian merebahkan tubuhnya sambil terus memperhatikan Sherly.

“Bisakah kita pulang saja? Aku ingin sekali memeluk anak ku.”
“Tenang saja, Kenzo bersama Mama.”
“Aku tahu Mama akan menjaga Kenzo dengan baik, tapi aku nggak bisa menahan keinginanku untuk memeluk Kenzo.” Sherly menatap Brian dengan tatapan memohon.
“Jadi kamu nggak ingin memelukku?” ucap Brian menggoda, seraya memeluk Sherly.
“Aku nggak pernah jauh dari Kenzo selama ini.”
“Sekarang saatnya kamu memercayakan orang lain. Dia pasti baik-baik saja,” Brian semakin mempererat pelukannya tanpa memedulikan keresahan istrinya.
“Aku ingin pulang.”
Brian menarik napas panjang. “Sepertinya aku memang akan selalu kalah dari anakku. Apa rencana bulan madu kita ke Bali, mau diurungkan saja?” tanya Brian.
“Kamu marah?” tanya Sherly dengan tatapan memelas.
“Iya, tapi karena sainganku adalah anakku sendiri, jadi aku nggak akan marah,” ucap Brian.
“Yakin?”
Brian mengangguk dan menangkup wajah Sherly. “Kenzo ada di kamar sebelah, Sayang. Ayo, kita temui dia.”
“Benarkah? Ayo, aku ingin mencium Kenzo.”
“Cium aku dulu.”
“Apa ini tiket untuk bertemu Kenzo?” tanya Sherly sambil menyunggingkan senyumnya.
Brian tersenyum nakal, lalu mencium istrinya.

Bulan madu mereka terpaksa gagal, karena Sherly sama sekali tak bisa jauh dari Kenzo. Namun, Brian sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Dia juga menikmati harinya menjadi sosok ayah yang harus ikut bangun di malam hari karena tangisan sang anak.

Namun, Mama tak membiarkan hal itu begitu saja. Sudah lebih dari enam bulan dari Kenzo lahir, tapi Brian dan Sherly belum juga bulan madu karena menginginkan cucu yang banyak, jadi Mama mengambil paksa Kenzo di saat Sherly menitipkan kepadanya ketika akan mandi. Dia hanya meninggalkan secarik kertas da sebuah tiket paket bulan madu di dalam box bayi milik cucunya.

Kenzo Mama bawa.
Kalian bulan madulah.
Ini perintah!
Love, Mama

Sherly menatap kertas itu dengan tatapan speechless. Dibukannya amplop berisi tiket pulang pergi dan paket bulan madu ke Lombok. Dia sampai tak sadar Brian sudah pulang dan memanggilnya berulang kali.

“Sayang, kenapa kpanggil diam saja?” tanya Brian, mengecup puncak kepala Sherly.
“Ini, Mama bawa Kenzo,” jawab Sherly dengan nada seperti anak-anak yang diambil mainannya, lalu menyerahkan surat da tiket bulan madunya.
Tawa Brian pecah. Selain tertawa karena nada suara Sherly, dia juga tertawa karena teringat ucapan mamanya saat di kantor siang tadi. Mamanya berkata bahwa akan menculik Kenzo. Brian pikir itu hanya candaan tapi, nyatanya Mama benar-benar membawa Kenzo pergi.

“Kenapa malah tertawa?”
“Nggak, Sayang. Lucu aja. Tadi siang tuh Mama ke kantor dan maksa aku buat punya anak lagi. Katanya biar nggak rebutan lagi sama Mama. Jadi Kenzo buat temen Mama.” Brian masih terkekeh.
“Ih, Mama gimana, sih. Aku nggak bisa jauh dari Kenzo.”
“Ya, udah. Biar Kenzo sama Mama, semalam saja. Kasihan Mama juga ingin ada temannya.”
“Pantes Mama tuh, aneh dari tadi. Dia kayak nungguin banget kapan aku mandi atau aku sibuk. Tapi… beneran Cuma satu malam, kan?”
“Tapi tiketnya sayang kalau nggak dipakai. Buang-buang uang, kan dosa, sayang. Iya kan?”
Mata Sherly sudah memicing, tapi Brian malah memamerkan senyum sambil menaik-turunkan alisnya.
“Ini mahal, lho,” lanjut Brian pelan. Padahal Brian tahu tak jadi pergi pun sebenarnya tak masalah.
“Aih… Mama kenapa bikin aku harus milih, sih?” Sherly mendesah, melirik Brian lalu menatap voucher bulan madu dan tiketnya. Ekspresinya jelas menyiratkan kebimbangan.

Cengar-cengir, Brian harap-harap cemas menunggu Sherly bicara lagi. Dalam hati dia senang bukan main dengan rencana mamanya. Dia sangat berharap Sherly memilih untuk bulan madu. Brian sangat tahu Sherly paling anti membuang-buang uang.

“Ini seminggu, ya? Nggak bisa dipersingkat gitu?” gumam Sherly, lalu menoleh pada Brian. Yang ditanya hanya menaikkan bahunya, membuat Sherly gemas.
“Ya sudah deh, kita pergi bulan madu. Tapi kalau belum seminggu aku ingin pulang boleh, kan?”
“Siap laksanakan, Nyonya.”

Secepat kilat Brian menghilang, lalu menghubungi mamanya. Dia berterima kasih berulang kali. Akhirnya setelah sekian lama, dia bisa pergi bulan madu. Yang artinya, bisa tidur berdua tanpa ada Kenzo di dekatnya. Buka dia tak suka pada anaknya, hanya saja dia juga pria normal yang tak bisa tinggal diam saat tidur berdua dengan istrinya. Karena selama ini, dia tak bebas menyentuh istrinya karena Sherly meletakkan box bayi tepat di samping kasur mereka.