Baby and Me

Star Hotel, kamar 353 menjadi saksi dimulainya kumpulan rasa. Sinar mentari yang menyelinap masuk lewat celah-celah tirai mengganggu tidur Sherly. Kepalanya terasa berat dan matanya sulit dibuka. Perlahan dia merenggangkan tangan dan menyebtuh sesuatu yang membuat matanya seketika membelalak lebar.

Seorang pria berparas tampan dengan tulang rahang yang sempurna sedang tertidur pulas di sampingnya. Napas Sherly memburu, ia memaksa kepalanya untuk mengingat apa yang terjadi semalam tapi nihil. Siapa pria ini? Apa yang telah kami lakukan, ya tuhan? Piker Sherly. Tak hanya di situ, mata Sherly semakin membelalak kala menyadari tidak ada satu helai baju yang dipakainya. Tubuh putih mulusnya hanya tertutup oleh sebuah selimut.

Mata bulatnya berkaca-kaca saat dia sedikit demi sedikit mengingat kejadian semalam. Memori-memori itu berkumpul seolah membentu sebuah puzzle. Hatinya diliputi rasa cemas. Pria ini baru dikenalnya tadi malam di salah satu beer house yang dikunjunginya. Brian. Ya, Sherly mengingat namanya. Pria itu bernama Brian.

Sherly merasa kejadian ini adalah kesalahannya. Dia melampiaskan rasa sedihnya dengan minum-minuman beralkohol. Sesuatu telah terjadi kepadanya. Orang yang selama ini dicintainya telah resmi menjadi suami orang lain. Sherly merutuki diri sendiri, memukul-mukul kepalanya histeris sampai membuat Brian terbangun dari tidurnya.

“Kamu kenapa, hei?” Tanya Brian dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Sherly tetap memukul-mukul kepalanya tanpa ampun. Mengabaikan rasa sakit di kepalanya karena rasa sakit di hatinya lebih besar. Merasa gagal dan kecewa teramat besar, tapi apa daya, tidak ada yang dapat memutar waktu kembali. Ia bingung, tak tahu harus bagaimana.

“Berhenti! Apa yang kamu lakukan?” Dua lengan kekar itu menangkap tangan Sherly yang terus bergerak memukul kepalanya. Sherly terus berontak dan menangis. Dipeluknya Sherly secara paksa ke dalam dekapan Brian.

“Tenanglah.”
Brian mengelus punggung Sherly yang terus bergetar karena tangisnya.
“Apa yang kita lakukan?” Tanya Sherly di sela isak tangisnya.
“Bersenang-senang, apa kamu lupa?”
“Bagaimana kalau aku hamil?” Tanya Sherly dengan nada kesal.
“Gugurkan saja” jawab Brian dengan santainya.

Sherly langsung melepas pelukan Brian. Tangisnya seketika berhenti. Dadanya bergemuruh hebat. Kata-kata Brian begitu menyakitkan. Hatinya semakin hancur. Bagaimana bisa pria ini berkata dengan santainya, seolah nyawa manusia tidak ada harganya.

“Aku akan memberikan berapa pun yang kamu butuhkan,” ucap brian, tegas menatap mata Sherly. Ingin rasanya Sherly menampar pria ini dengan keras. Namun, menyadari bahwa tubuh pria ini lebih besar darinya, ia langsung mengurungkan niatnya. Sebuah tamparan hanya akan membuat tangannya yang terluka.

Sherly mendengus sinis, “Terima kasih, tapi aku taak utuh uangmu!” balas Sherly diikuti dengan napas panjang, mencoba melonggarkan dadanya yang sesaat menyempit karena kenyataan yang teramat menyakitkannya. Kebodohannya telah menghancurkan dirinya sendiri dalam hitungan jam.

“Hei, sudahlah. Bukankah semalam kau juga menikmatinya?” seru Brian.

Sherly berjalan gontai ke arah kamar mandi sambil memunguti bajunya. Mengabaikan teriakan Brian yang mengumpat dan mencoba menyudutkannya dengan kata-kata. Perasaannya kacau, harga dirinya seolah jatuh ke jurang. Kata-kata pria itu membuat Sherly merasa seperti perempuan murahan. Dia sadar, dia telah melakukan kesalahan besar di dalam hidupnya, tapi sungguh, dia bukan wanit murahan. Matanya kembali kabur oleh air matanya, dan kali ini dia tak lagi membendungnya.

Sherly menangis dari balik pintu kamar mandi, memegangi dadanya yang teramat sakit. Ketakutan semakin memojokkannya. Sherly yang terbiasa mandiri, kuat, dan tegar menjalani hidup sendiri seolah tak memiliki kaki lagi untuk berpijak. Kenyataan ini tak pernah ada dalam pikiran terburuknya sekalipun.

Pantulan wajah tirusnya di cermin terlihat kacau. Sisa-sisa mascara melukis abstrak wajahnya sehingga terlihat semakin memilukan. Sherly membasuh wajahnya berkali-kali, tapi air matanya tetap mengalir. Sherly berharap saat keluar nanti, dia tak menemukan pria bedebah itu di kamar.

Namun harapan tinggallah harapan. Saat Sherly memberanikan diri melangkah keluar kamar mandi, Brian masih ada, nyata. Duduk di ujung kasur dengan pakaian yang lengkap, rapi dengan jas dan dasi yang terikat sempurna.

Selanjutnya baby and me bagian 2.