Baby and Me Bagian 10

Sebelumnya baby and me bagian 9.

Setelah tiga jam dihabiskan tanpa tujuan dan kemacetan, akhirnya Sherly memutuskan untuk pulang. Setibanya di apartemen, perutnya terasa nyeri. Dia meringis menahan sakit, berpegangan pada dinding lift. Ia ingat belum makan apa pun hari ini. Sherly bergegas masuk ke dalam apartemen setelah lift mengantarkanya ke lantai yang dituju.

Dapur jadi tujuan utama Sherly, mencari minum dan sebatang cokelat. Makan manis dan duduk di sofa panjang sedikit mengurangi rasa pusingnya. Hatinya masih saja resah. Kemunculan Brian sebagai bosnya sungguh menguras energy.

“Kamu sudah pulang?” Tanya Dini.
“Baru saja sampai.”
“Kamu dari mana?”
Sherly terdiam memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada Dini. Sherly mengusap wajahnya berulang kali dan mengembuskan napas berat.
“kamu kenapa?” Tanya Sherly lagi.
“Aku nggak tahu ini takdir baik atau takdir buruk, tapi kurasa ini takdir buruk. Setelah aku melewati semuanya dan bisa belajar ikhlas, kenapa dia harus hadir di kehidupanku? Membuatku kembali resah dan takut.”
“Siapa yang kamu maksud?” kamu bertemu dengan pria pengecut itu?”
“Ya. Harusnya dia nggak perlu bersikap seolah mengenalku. Harusnya dia mengabaikanku seperti dulu.”
“Apa yang dia lakukan? Siapa dia? Apa aku mengenalnya?”
“Entahlah. Aku nggak ingin membahasnya.”
“Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” Tanya Dini lagi.

Sherly menghela napas berat. Ragu ingin memberitahu semuanya pada Dini karena dia benar-benar tak ingin berurusan dengan Brian. Menceritakan pada Dini sama saja member Dini peluang untuk membujuknya bertemu Brian demi anak yang dia kandung.

“Aku nggak tahu tujuannya, tapi yang pasti aku jadi nggak nyaman. Aku nggak mau berurusan dengannya. Dia adalah kesalahan terbesarku.” Sherly meminum jusnya. “Ah, aku harus bagaimana?”
“Kamu nggak mau memintanya mempertanggungjawabkan perbuatannya? Bagaimanapun, bayi di dalam kandunganmu itu adalah anaknya.”
“Aku sudah gila kalau sampai melakukan itu. Dia pernah memintaku membuang bayi ini, bahkan sebelum kami tahu bayi ini akan ada,” seru Sherly.
Genggaman tangan Dini meredakan emosi Sherly yang tiba-tiba naik. Setiap mengingat Brian, hanya ada emosi di lubuk hati Sherly. Amarah dari sebuah kekecewaan.

Pagi yang sial bagi Sherly setelah kemarin harus berurusan dengan Brian. Kali ini, dia kembali bertemu Brian lagi di depan lift. Sherly ragu untuk ikut masuk tapi tiba-tiba saja Brian menariknya dan langsung meminta Dini memakai lift selanjutnya.

Hal sepele, tapi siap pun yang melihat pasti akan curiga. Dini pasti terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia yakin, setelah ini Dini pasti akan memberikan banyak pertanyaan untuknya. Sherly berdecak kesal, menepis tangan Brian di lengannya.

“Kenapa kamu pakai narik tangan aku segala?” seru Sherly.
“Kenapa?” Tanya balik Brian.
“harusnya aku yang Tanya kenapa?”
Brian menyunggingkan bibirnya. Sebenarnya di juga tak tahu alasannya menarik Sherly. Tapi di tak mau terlihat bodoh.
“Kalau aku nggak menarikmu, memang kamu mau masuk?”
“Tapi bukan berarti kamu bisa melarang temanku ikut masuk.”
“Oh, jadi tadi temanmu?”

Sherly mengembuskan napas kesal. Ingin marah tapi merasa sia-sia. Dia hanya bisa mengepalkan tangan menahan emosi. Sampai di lantai 9, dia langsung keluar tanpa melihat ke belakang lagi. Menuju toilet untuk melampiaskan emosinya.

Mengurung diri di toilet untuk menangis beberapa saat akhirnya Sherly keluar dan dikagetkan oleh sosok Dini yang menunggunya di depan pintu.

“Jadi pria pengecut itu Pak Brian?”
“Kenapa berasumsi begitu?”
“Jawab, iya atau bukan!”
“Sudahlah jangan sebut namanya.”
“Oh, my God! Really?”
Sherly tak mampu menjawab apa-apa lagi. Tangisannya cukup menjadi jawaban bagi Dini.

Lelah setelah semalaman tak bisa tidur, ditambah lelah hati menghadapi babak baru. Jika Brian tak mengusiknya mungkin Sherly akan merasa lebih baik. Tapi Brian telah membuatnya kembali mengingat kenangan terburuknya. Menangis pun rasanya tak cukup, sakit hatinya menjalar bersama aliran darahnya.

Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh telepon yang bordering. Buru-buru Sherly mengusap air matanya dan mengangkat telepon yang ternyata dari sekretaris CEO. Ia meminta Sherly ke ruangan Brian sekarang juga. Sherly tak habis piker dengan pria pengecut itu. Apa kurang cukup membuatnya mati rasa? Rasanya lelah, Sherly pun mengembuskan napas berat berkali-kali sebelum mendatangi ruangan Brian.

“Kenapa?”
Pertanyaan Dini dijawab Sherly dengan embusan napas lelah.
“Aku harus bagaimana?”
“Maksudnya?”
“Brian memintaku menemuinya.”
“Bukankah itu bagus? Siapa tahu dia mau memp…”
“Dini… bukankah kamu dulu membencinya, kenapa tiba-tiba kamu bersikap baik padanya?”
“Karena kamu nggak bisa terus-terusan kayak gini. Kamu berdekatan dengan Ayah bayi yang ada di perutmu. Bagaimana caramu untuk menghindar?”
“Hanya karena dia kaya? Aku benci pria kaya tak berhati,” ucap Sherly penuh tekanan kebencian. “Oke, aku akan menemuinya. Tapi setelah itu aku akan resign. Aku nggak tahan kalau harus setiap hari berurusan dengannya. Terlalu menyakitkan. Melihatnya sama saja mengorek luka lama, apalagi berbicara dengannya,” sambung Sherly lalu keluar ruangan dengan hati yang sudah dia lapisi baja.

Dengan langkah mantap Sherly menuju ruangan Brian walaupun sebenarnya enggan. Ia berharap dengan bertemu Brian, urusan mereka akan berakhir sampai di sini. Lagi pula, untuk apa mengusiknya jika pada akhirnya Brian tak menginginkan bayi yang dia kandung. Itu hanya akan melukainya lebih dalam.

Selanjutnya baby and me bagian 11.