Baby and Me Bagian 2

Sebelumnya baby and me.

“Aku tahu ini bukan yang pertama untukmu, tapi jangan harap kamu bisa menuntutku besok karena telah menolak tawaranku.”
Tatapan mata Brian menuju oada sebuah cek yang sudah tergeletak di atas nakas.
“Itu 50 juta, kalau kurang nanti akan kutambah. Ini kartu namaku,” ucap Brian dengan angkuhnya.

Mata Sherly membelalak, sakit hatinya berubah jadi kemarahan yang memuncak. Brian benar-benar bedebah dan tak pantas disebut manusia. Sherly berpegangan pada pintu, kakinya kehilangaan kekuatan. Ucapan Brian sungguh keterlaluan, Sherly pun mengusap pelipisnya.

“Kamu pikir aku wanita bayaran, hah? Aku nggak butuh uangmu, dan asal kamu tahu, ini yang pertama untukku! Tapi kalau sampai terjadi apa-apa denganku, aku nggak akan berniat menuntut pria pengecut sepertimu!” teriak Sherly lalu berlalu pergi.

Tak lama setelahnya, Sherly kembali masuk kamar.
“Apa?” Tanya Brian.
PLAKKK…!
Satu tamparan penuh amarah mendarat di pipi Brian. Jika tadi ia sempat ragu untuk menampar Brian, tapi kali ini tidak.
Walau belum puas melampiaskan amarahnya, Sherly memutuskan untuk segera menjauhi kamar terkutuk itu. Sherly ingin cepat enyah dari hotel itu. Menjauh sejauh-jauhnya hingga tak akan pernah bertemua pria bedebah dan pengecut itu lagi.

Matanya jelas masih merebak merah saat berdiri di lobi hotel dengan tampilan lusuh. Tentu, Sherly menjadi sorotan orang-orang yang berpapasan dengannya.
Betapa beruntungnya sebuah taksi berhenti di depan lobi taksi itu baru saja menurunkan penumpang sehingga dia tak perlu mencari taksi lagi. Buru-buru dia masuk dan menyandarkan punggungnya.
“Ke mana, Mbak?”
“Apartemen Royal Green, Pak.”
Tangan Sherly mengepal, menahan emosi yang bergemuruh kuat di dadanya. Dia berusaha menguatkan diri walaupun teramat takut. Dia tak mampu berpikir saat otaknya hanya bisa mengingat kata-kata menyakitkan yang baru saja dia dengar dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi setelah ini.

Dengan perasaan tak karuan, Sherly melangkah masuk ke Apartemen Royal Green. Apartemen yang dia sewa bersama Dini sejak mereka bekerja dalam perusahaan yang sama. Langkahnya ragu saat akan mendekati pintu apartemen. Diambilnya napas panjang-panjang, menghilangkan perasaan kacaunya. Sementara kepalanya terus mencari-cari alas an yang akan ia berikan kepada Dini. Dia yakin, sahabatnya akan menginterogasinya hingga Dini mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
Sherly terperanjat kaget saat Dini membuka pintu apartemen sebelum dirinya.

“Sherly!” seru Dini. “Akhirnya kamu pulang, kamu dari mana saja, Sher? Kamu benar-benar bikin aku panic, aku bingung mencarimu ke mana. Tahu-tahu kamu hilang dan ditelepon nggak bisa. Hei, kamu habis menangis? Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?”
Dini memberondong Sherly dengan banyak pertanyaan karena khawatir dengan kondisi Sherly yang terlihat berantakan, mata sembap, dan memilukan.

“Aku nggak apa-apa, Din, aku hanya sedih. Kamu tahu, kan, maksudku?” jawab Sherly lalu menarik napas panjang mencoba menjaga ekspresinya agar tak terlihat terlalu terpuruk.

Dini mengangguk paham, berteman dengan Sherly sejak SMA membuatnya memahami setiap kesedihan yang dialami sahabatnya. Namun, Sherly belum siap menceritakan kejadian semalam dan pagi ini. Kejadian yang lebih memporakporandakan hati dan jiwanya dari sebuah pernikahan orang yang dia cinta.

“Lalu ke mana saja kamu semalam?”
“Ak, aku hanya pergi ke tempat yang sepi untuk menyendiri dan menghilangkan patah hatiku. Tenanglah, aku baik-baik saja sekarang.”
“Ya sudah, jangan bersedih lagi, ya. Pasti ada orang yang lebih tepat untukmu, ikhlaskan dia yang nggak memahami sedikit pun perasaanmu,” ucap Dini, tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat.
Dini memeluk Sherly erat, air mata Sherly pun tak bisa terbendung lagi, isakan kecil memburu. Dielusnya punggung Sherly, membuatnya meluapkan kesedihan.

“Bagaimana kalau kita ke salon? Siapa tahu dengan memanjakan diri, kau bisa sedikit terhibur,” ajak Dini sembari menyibak rambutnya yang panjang tergerai.
Sherly menggeleng, “Aku ingin tidur saja, Din. Aku butuh sendiri.”
“Oke, tapi jangan lupa makan, ya. Aku ada di kamarku kalau kamu membutuhkanku.”
Sherly mengangguk pelan, merasa beruntung memiliki sahabat seperti Dini. Hanya Dini yang bisa menjadi teman sekaligus saudara di saat dia tak lagi memiliki keluarga.
“Makasih.”
Saat di dalam kamar, Sherly kembali menangis tersedu. Tak bisa berpura-pura lagi. Ingin mengabaikan, tapi pikirannya selalu membawanya kepada kejadian itu.

Selanjutnya baby and me bagian 3.