Baby and Me Bagian 9

Sebelumnya baby and me bagian 8.

Hari ini, lain dari biasanya karena hotel tempat mereka bekerja akan kedatangan CEO baru. Semua karyawan hotel sudah rapid an siap di tempat masing-masing. Para jajaran direksi, dan kepala masing-masing divisi sudah berkumpul di ruangan khusus untuk menyambut dan pengenalan dengan CEO mereka yang baru. Sherly sudah siap di sana bersama Dini dan yang lain.

“Aku capek nih, pengin cepet-cepet duduk. Mana, sih, CEO baru itu, lama banget. Nggak tahu ada ibu hamil di sini,” cerosos Sherly yang sudah tak sabar ingin segera mendaratkan tubuhnya ke kursi empuk.

“Hahaha, ya sudah kamu duduk aja dulu di belakang. Nanti aku panggilin kalau CEO kita sudah datang.” Sherly tersenyum senang. Sungguh pengertian sekali sahabatnya satu ini.

Namun, saat Sherly akan meninggalkan posisinya untuk pergi ke belakang, CEO baru mereka menaiki podium, membuat Sherly mengurungkan niatnya untuk pergi. Diperhatikannya pria tinggi yang trsenyum ke arah para karyawan.

“Selamat pagi dan terima kasih untuk waktunya. Perkenalkan, saya Brian Agriana Maurer. CEO Grand B Maurer Hotel yang baru…”

Sherly gemetar, tak didengarkan lagi ucapan CEO baru itu. Seketika pertahanannya ambruk. Dia berpegaangan pada lengan Dini, merasa tak sanggup berdiri lagi. Kakinya seolah tak bertulang.

“Kenapa, Sher? Kamu pusing? Ayo, duduk atau kita ke klinik Dokter Toni?”
Sherly menggeleng pelan, tapi pandangannya masih terkunci di satu arah, ke arah podium. Pandangan Sherly sekarang kosong. Dia merasa takut, gemetar tubuhnya tak bisa dia kendalikan.

“Sherly, kamu jangan menakutiku. Kamu kenapa? Mau kuambilkan minum?” Tanya Dini setengah berbisik. Ia takut ucapannya akan menjadi perhatian para karyawan lainnya.
“Aku mau ke kamar mandi, Din.”
“Ayo, aku temani.”

Di saat bersamaan, CEO baru itu melihat dua wanita keluar beriringan. Dia merasa taka sing melihat punggung salah satu wanita itu.

Sherly duduk gelisah di ruangannya, diurutnya pelipisnya berkali-kali. Dia tak berani keluar ruangan walau hanya sekadar untuk makan siang. Dia tak mau bertemu pria itu, walau mungkin kesempatan untuk bertemu atau berpapasan dengan seorang CEO itu sangat jarang terjadi karena sudah pasti seorang CEO itu sangatlah sibuk. Namun, Sherly tetap merasa takut dan amarahnya kembali memuncak hanya dengan melihat sosok pria itu lagi.

Menghela napas panjang berulang kali, itulah yang Sherly lakukan. Mengendalikan diri supaya tenang. Meyakinkan diri bahwa Brian bukanlah bagian dari hidupnya. Jadi tak perlu takut atau resah.

“Are you okay?” Tanya Dini, khawatir dengan ekspresi Sherly. “Sudah minum vitamin yang aku kasih?” Tanya Dini lagi.
Sherly mengangguk sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
“Aku ok maksimal, hehehe. Let’s go!”

Mereka berjalan beriringan dan berpisah saat keluar lift. Sherly menunggu di lobi, sementara Dini menuju tampat parker. Dini selalu melarangnya saat ikut ke parkiran, karena menurut Dini, hawa udara basement tak baik untuk ibu hamil.

Sherly menyapa Nita yang saat itu sedang bertugas di meja resepsionis. Di sisi lain, ada seseorang yang sedari tadi sudah memperhatikan Sherly diam-diam. Brian memperhatikan setiap gerakannya. Hatinya bergemuruh dan kacau saat dia memastikan kalau perempuan yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang membuat hari-harinya gelisah tiga bulan terakhir. Perempuan itu hamil, pikiran Brian berantakan seketika.

Sherly mengedipkan sebelah mata dan tangannya membentuk symbol ok saat Nita memintanya pualng dengan hati-hati. Baru beberapa langkah menuju pintu keluar, legannya dipegang seseorang. Refleks Sherly memutar badannya dan membeku saat itu juga.

“Ikut aku!”
Tidak mau membuat kebodohan di lobi, Sherly pun mengikuti Brian. Dia mengamati lengan yang masih dipegang kuat oleh Brian hingga masuk ke dalam mobil.

“Apa itu anakku?” Tanya Brian to the point saat mereka sudah di dalam mobil dan tanpa memedulikan ekspresi Sherly.
Sherly tersenyum sinis dan menahan sekuat tenaga agar tak gemetar ketakutan. Diredam amarahnya agar tak meledak dan terlihat seperti wanita lemah.
“Bukan,” jawab Sherly.
Hening melanda beberapa menit tanpa ada yang berani memulai percakapan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Kalu sudah tak ada perlu, saya permisi, Pak. Anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Saya tidak mau membuat berita heboh di kantor karena ada seorang karyawan biasa satu mobil dengan CEO-nya sendiri. Permisi.”
Brian menahan tangan Sherly saat mau membuka pintu mobil.
“Kamu yakin itu bukan anakku?”
“Saya sudah mengatakannya, jadi tolong lepaskan tangan saya!”

Brian terdiam. Perlahan, ia melepaskan cengkramannya. Hal itu dimanfaatkan Sherly untuk segara keluar dari mobil Brian. Beruntung ada sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpang di lobi hotel. Ponselnya terus bordering, tapi Sherly tak menghiraukannya. Dia mengirimkan pesan singkat pada Dini.

To. Dini
Maaf Dini, aku tak menunggumu.
Aku ada urusan, tapi aku akan segera pulang.

Sherly pergi tak tentu arah, berputar-putar menggunakan taksi dengan mengabaikan argo yang terus berjalan.

“Kita mau ke mana sebenarnya, Mbak?”
“Jalan saja, Pak. Nanti saya kasih tahu.”
“Baik Mbak.”

Selanjutnya baby and me bagian 10.