Hari Terakhir di Cairo Part 10

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 9.

Satu jam telah berlalu, semua yang ditunggu telah hadir, dan kami mulai beranjak menuju lokasi kedua. Mengambil jalan menyerupai lorong yang berada di belakang masjid, kami berjalan beriringan menuju masjid Sultan Hasan dan Rifa’I, dua masjid megah yang menjulang tinggi di ujung jalan Qal’ah, saling berhadapan dan hampir memiliki arsitekrur yang sama sehingga dikatakan sebagai masjid kembar.

Panas matahari bulan Mei yang cukup menyengat membuat beberapa dari kami harus berhenti sejenak di sebuah kedai ashir (Jus) untuk melepas dahaga. Kami berempat ikut menepi. Lagipula setelah makan tadi kami belum sempat untuk minum. Dan pilihanku jatuh pada ashir asb, jus tebu. Rasanya yang manis mampu menyuplai energiku untuk perjalanan panjang ini.

Di samping kedai ada seorang ibu penjual khadrawat, sayur-sayuran yang sedang melayani pembeli. Dan wow, dia memasukkan banyak sekali wara’ ‘inab, daun anggur kira-kira satu atau dua kilo, ke dalam sebuah kresek yang diminta oleh pembeli. Melihat daun anggur sekarung, aku tergoda untuk mengabadikannya dalam sebuah foto. Maklum, di daerahku tak ada yang menjualnya dalam jumlah sebesar itu. Karena tak mungkin langsung menjepret objek, takut pemiliknya tersinggung, aku meminta Mbak Hana untuk memotretku dengan pemandangan tersebut sebagai latar belakang.

Kami pun melanjutkan perjalanan, sedikit berlari untuk mengimbangi langkah-langkah panjang Chocoters dan para lelaki yang mayoritas ada dalam rombongan. Tak sampai seperempat jam, masjid Sultan Hasan telah Nampak dari belakang. Semua segera menuju pintu gerbang yang melindungi masjid kembar. Begitu masuk, kami beristirahat di beton memanjang di depan masjid Sultan Hasan, menghadap masjid Rifa’I, yang memang digunakan untuk duduk, sambil menunggu kawan-kawan yang masih tertinggal di belakang.

Karena kedua masjid yang sangat dekat dan berhadapan, kami seakan kurcaci yang berada di dalam sebuah lorong kecil dan hanya diterangi sinar matahari dari atas dan penghujung jalan bangunan ini. Yang paling aku sukai, ketika berada di jalan ini kita akan merasakan hembusan angin yang semilir, sepoi-sepoi mendinginkan tubuh yang kepanasan. Di ujung lorong ini ad ataman lumayan luas dilengkapi kursi kayu dan hammam (kamar mandi).

Setelah semuanya lengkap, kami masuk Masjid Rifa’I terlebih dahulu. Walaupun hampir mirip dengan Masjid Sultan Hassan, Masjid Rifa’I ternyata dibangun 600 tahun setelahnya, 1869 M dengan arsitektur Mamluk oleh Mark Hetz atau lebih dikenal dengan Hertz Pasha atas perintah Ratu Khusayyar, ibu dari Khedive Ismail, salah satu raja dinasti Mamluk yang menguasai Mesir, dan selesai pada tahun 1910 M.

Masjid ini dibangun dengan pondasi yang sangat tinggi, untuk mencapainya harus menaiki tangga beton yang cukup luas. Atap bangunan di dalamnya pun sangat tinggi, layaknya raksasa. Seperti masjid lainnya, dalam Masjid Rifa’I juga terdapat makam-makam, diantaranya makam Ratu Khusayyar, khedive Ismail beserta istrinya, Raja Fuad I dan Husayn Kamil.

Di sini kami hanya sebentar, hanya diberikan waktu untuk melihat-lihat arsitekturnya, karena sejarah masjid akan dijelaskan ketika nanti berkumpul di masjid Sultan Hassan. Aku tak sempat berfoto karena terlalu singkat. Tapi untungnya aku sudah punya foto di sini, bertiga bersama Anisa dan Vera. Diambil oleh seorang temanku, aku lupa siapa, saat ziarah ke makam Auliya’ yang diadakan oleh PCINU.

Keluar masjid Rifa’I kami berkumpul dan foto bersama di depan tangga raksasa. Aku, Mbak Hana, Mbak Husna dan Mbak Sarah mengambil posisi berjajar. Mbak Renata ikut merapat. Karena postur yang tak tinggi, paling pendek diantara mereka, akupun mengambil posisi paling ujung agar bisa naik satu tangga. Teman-teman yang melihatku hanya tertawa. Dengan cahaya matahari yang menerobos dari atas, pastilah menjadikan indah tiap foto yang diambil. Puas berfoto, segera kami menuju pintu masjid Sultan Hassan yang berada lebih dalam dari lorong jalan yang kami pijak.

Tangga beton menaiki masjid ini lebih sempit dibandingkan masjid sebelumnya. Kulihat disebelah tangga tertulis “Mosque and Madrasa of Sultan Hassan.” Dengan panduan Chocoters kami memasuki masjid dan menuju tempat yang tepat untuk melihat keindahan arsitekturnya. Pertama memasukinya, kita akan berada di sebuah lorong yang remang cahaya, gelap. Namun begitu berjalan lebih jauh, kita akan langsung disambut dengan sudden brightness dari bagian masjid utama yang sangat lapang. Jika masjid Rifa’I sepenuhnya tertutup, Masjid Sultan Hassan tengahnya langsung beratapkan langit, sekelilingnya saja yang tertutup atap beton.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 11.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *