Hari Terakhir di Cairo Part 11

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 10.

Masjid Sultan Hassan lebih megah daripada masjid Rifa’I, mungkin juga dikarenakan cahayanya yang lebih terang. Di tengah-tengah ruang persegi bagian utama masjid yang luas berdiri sebuah tempat wudlu berbentuk melingkar yang dilengkapi dengan kubah bertulis ayat kursi, menjadikan masjid ini sangat khas dan indah.

Di arsitektur eropa posisinya mungkin sebagai fountain. Sedangkan disamping-sampingnya terdapat empat ruangan persegi panjang disebut iiwaan yang mengelilingi, jika kita lihat dari dalam bentuknya seperti tanda plus (+) atau huruf x. selain itu, terdapat empat buah pintu yang berada di sudut dalam bangunan, sebelum ruang segi panjang.

Sedang asyiknya melihat-lihat, Kak Ibrahim meminta kami untuk berkumpul di iiwaan sebelah kiri, “Teman-teman diharapkan berkumpul terlebih dahulu untuk mendengarkan sejarah masjid yang akan disampaikan oleh Chocoters. Dan mungkin nanti bisa Tanya jawab. Setelah itu baru dipersilahkan mengambil gambar atau melihat-lihat interior masjid.”

Kami duduk bersama membentuk sebuah lingkaran. Mbak Renata membagikan kertas bertuliskan ulasan singkat lokasi-lokasi yang kami kunjungi. Kemudian Kak Sakti yang kebagian tugas untuk menjelaskan di lokasi ini mulai menerangkan sejarah masjid kembar. Sama seperti masjid Rifa’I, masjid ini memiliki atap yang sangat tinggi. Dan aku lihat di tiap iiwaan tergantung lampu-lampu dengan rantai yang sangat panjang.

Masjid Sultan Hassan dibangun pada tahun 1356 atas perintah Sultan Hassan. Hassan menjadi sultan pada tahun 1347 ketika usianya masih sangat belia, 13 tahun. Empat tahun kemudian ia sempat diturunkan dan diganti dengan adiknya, namun kemudian kembali memerintah pada tahun 1354. Pembangunan masjid ini membuat bangkrut pemerintahannya, sehingga sempat terlantar, dan kemudian baru selesai tujuh tahun setelahnya oleh salah satu amir Sultan Hassan, Bashir al-Ghamdar. Namun sayang sekali, sang Sultan tak dapat menyaksikannya karena terbunuh pada tahun 1362. Beberapa tragedy sempat menyertai perbaikan masjid ini, diantaranya menara yang roboh.

Empat pintu di sudut dalam bangunan adalah ruangan belajar khusus per-madzhab empat, Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali. Sedangkan iiwaan yang kami tempati adalah tempat shalat dan belajar al-Qur’an, kaligrafi dan materi lainnya yang tidak digolongkan sesuai madzhab. Di iiwaan paling depan dilengkapi dengan mihrab yang terbuat dari marmer dan mimbar dari kayu ukiran. Arsitekturnya sangat indah. Kaligrafi ayat al-Qur’an ada dimana-mana. Di pojok kirinya terdapat pintu yang mengantar pengunjung ke makam kedua putra Sultan Hassan. Ruangan makam ini sangat luas, namun sayangnya gelap.

Selesai mendengar penjelasan Kak Sakti dan tanya jawab, kuhurmi pun mengambil wudlu dan shalat dzuhur. Dalam perjalanan menuju masjid kembar tadi, azan dzuhur sudah berkumandang, sehingga kami ketinggalan jama’ah dzuhur. Akhirnya kami membuat jama’ah sendiri bersama rombongan. Selepas sahalat kami berfoto-foto di dalam masjid. Salah satunya mengambil foto bersama untuk dokumentasi. Lumayan lama kami jeprat-jepret, karena masjid ini terlalu indah. Aku foto tiap dinding bagian atas yang terdapat kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an dengan kamera Hp ku. Tak lupa aku bergaya di ‘fountain’ wudlu, dan lagi-lagi meminta Mbak Hana untuk memotretnya.

Lampu-lampu gantungnya pun sangat menarik, melihatnya aku membayangkan aula sekolah sihir Hoghwartz di film Harry Potter yang penuh dengan lilin, bedanya kali ini adalah lampu dan jelas terlihat sekali rantainya. Aku dan kawan-kawan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikannya. Bahkan beberapa teman laki-laki saling berlomba menunjukkan keahliannya dalam memotret. Ya, akhir-akhir ini memang lagi ‘ngetren’ para mahasiswa memiliki kamera besar dengan moncong yang panjang, sehingga saat jalan-jalan seperti inilah yang mereka tunggu untuk unjuk kebolehan.

Setelah puas dengan foto-foto yang memenuhi memori kamera, kami meninggalkan masjid, namun tak langsung melanjutkan perjalanan. Kami masih ingin menikmati sepoi angin yang bertiup di lorong jalan masjid kembar raksasa. Serasa ingin berlama-lama duduk di depan masjid indah ini. Dan bagiku, mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku datang ke masjid ini. Sebentar lagi ujian term dua akan berlangsung dan setelahnya mungkin aku tak mempunyai waktu yang cukup lama untuk mengelilingi Cairo.

“Udah ya, jangan lama-lama. Ntar keburu sore, masih banyak ni yang belum dikunjungin.” Kata Kak Ibrahim. Kami pun segera bergerak mengikutinya menuju lokasi berikutnya.

Aku tak begitu mengingat lokasi-lokasi setelahnya. Karena masjid-masjid tersebut yang cukup kecil dan tak terawatt, tak seperti masjid bersejarah. Yang kuingat hanya nama-namanya dan beberapa keterangan singkat. Ada masjid Mahmud Pasha atau disebut Mahmudiyah yang dibangun di bawah pemerintahan Turki Utsmani, atau Turki Ottoman. Arsitekturnya pasti disesuaikan dengan masjid-masjid yang ada di Turki dengan beberapa adaptasi.

Kemudian kami melewati – tak bisa masuk – Sabil wa Kuttab Sulthan Qaytbay, yang berfungsi sebagai tempat minum musafir, maka dari itu dinamakan sabil, dan tempat mengaji, belajar baca tulis atau kuttab bagi anak-anak. Ada juga Masjid Qanibay al-Muhammadi dan masjid serta Khankah Amir Saykhu.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 12.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *