Hari Terakhir di Cairo Part 13

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 12.

Meninggalkan Masjid Ibn Toulun, sesuai dengan arahan Kak Ibrahim, kami harus menuju kawasan pusat Sayyidah Zaenab untuk kembali ke Hay Asyir, karena transport dari situ akan lebih mudah. Sesampainya di Sayyedah Zaenab, ternyata kawan-kawa banyak yang meminta untuk makan dahulu. Ya, kurasakan perutku pun mulai keroncongan. Akhirnya hampir separuh dari rombongan kamipun memasuki kedai kusyari untuk mengisi perut, sedangkan yang lainnya memilih untuk langsung pulang.

Aku semeja dengan Mbak Hana, Mbak Renata dan Kak Ibrahim. Sedangkan Mbak Husna dan Mbak Sarah ada di meja sebelah bersama kawan-kawan lain. Kami semeja memesan ruz bil basal, nasi putih berbumbu yang dicampur dengan sedikit mie berpotongan kecil-kecil dan ditaburi kacang-kacangan, adas dan bawang goring. Kaka Ibrahim segera memanggil pelayan dan memesan menu dari empat meja rombongan kami.

“Aiwa ya Basya, ihna ‘aiziin sitta ruz bil basal, tamaniyah kusyari we arba’ah basal ziyadah.” Kata Kak Ibrahim memesan enam ruz bil basal, delapan kusyari dan empat porsi bawang goreng tambahan. “Hadlir ya Basya.” Jawab pelayan mengiyakan.

Tak lama pesanan kami datang. Setelah membaca doa kami langsung melahap menu masing-masing. Seperti biasa, ruz bil basal-ku tak habis. Porsinya memang banyak sekali, porsi orang Mesir yang biasanya sesuai dengan porsi makan laki-laki Asia. Walaupun perut sangat lapar dan badan yang lelah, porsi sebanyak inipun tak akan habis kumakan.

“Tan, Na, ikut nonton konser musical ma temen-temen di Kedubes Perancis yuk.” Ajak Kak Ibrahim tiba-tiba padaku dan Mbak Hana setelah kami menyelesaikan makan. “Konser apaan Kak?” tanyaku, penasaran. Tumben-tumbenan Kak Ibrahim ngajak, batinku. “pokoke apik lah, ayo yok melu. Iki lho si Renata juga meh melu.” Kak Ibrahim membujuk untuk meyakinkanku dan Mbak Hana ikut. Mbak Renata Cuma senyam senyum, maklum, dia orang Jawa Barat, tak begitu memahami bahasa Jawa.

Melihat kami yang masih ragu, Kak Ibrahim pun mengajak kawan-kawan di meja sebelah untuk ikut. Al hasil, karena akhirnya banyak yang ikut, kami berempat pun mbuntut. Sebenarnya karena kami tak tahu jalan pulang dari sini siihh… dari Sayyedah Zaenab kami naik bus besar ramai-ramai, aku tak hapal nomor berapa, yang jelas tujuannya adalah Tahrir. Lumayan lama menunggu bus, karena kebanyakan sudah penuh, sedangkan enam orang dari kami perempuan.

Kami turun di Medan Tahrir. Tak langsung menuju Kedubes Perancis karena acara akan dimulai setelah maghrib, setengah jam lagi. Kami melihat-lihat sisa bangunan yang hangus terbakar pasca tsauroh (Revolusi) dan berfoto-foto dari jauh. Di pinggir-pinggir jalan banyak pedagang kaki lima menjual kaos-kaos bertuliskan Tsauroh 25 Yanayir, Bahebbak ya Masr, Ana Mashry dan lainnya. Sangat menarik. Kak Zaki dan Kak Azam tergoda membelinya. Satu kaos ditawarkan dengan harga dua puluh pound.

Menjelang maghrib kami pergi ke masjid Tahrir yang cukup dekat. Sambil menunggu adzan, aku dan Mbak Hana duduk-duduk di taman depan masjid. Banyak sekali orang Mesir disini. Mungkin juga seperti kami yang sedang menunggu adzan maghrib sambil melepas lelah sepulang sari kantor, kuliah dan sekolah atau sekedar refreshing.

Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya berkumandang. Aku, Mbak Hana, Mbak Husna, Mbak Sarah dan Mbak Renata segera masuk ke musholla perempuan. Mengambil wudlu bergantian kemudian mengikuti jama’ah shalat maghrib.

Berangkat ke Kedubes Perancis yang tak jauh, setelah semuanya berkumpul. Ternyata konser tak langsung dimulai. Penonton dipersilahkan menunggu di ruangan depan ruang acara. Beberapa petugas meminta satu orang dari kelompok-kelompok yang datang untuk menuliskan komentar pada sebuah kertas berwarna merah kemudian menggulungnya. Dan kelompok kami, Mas Iman yang dapat. Karena bingung dan memang sedikit usil, dia menuliskan satu kata dalam bahasa jawa. Sontak kami yang tahu pun tertawa.

Akhirnya pintu dibuka. Kami segera masuk. Ruangan konser seperti sebuah teater atau bioskop. Kami yang melihatnya sempat heran, karena kata Kak Ibrahim kami akan menonton konser music. Tapi kami tak curiga sama sekali, dan dengan pedenya mengmbil tempat duduk di barisan ketiga dari depan.

Tak lama konser dimulai. Tapi ow ow. Ternyata seperti konser suara seriosa dengan iringan music. Dan keduanya benar-benar aneh! Karena sangat sepi dan kelelahan, beberapa teman pun mengantuk. Namun di tengah-tengah kantuk, kami dikejutkan oleh suara seriosa aneh dan menyentak dari pemainnya. Hufhh… ternyata kami dikerjai Kak Ibrahim!

Selesai “konser” yang menyiksa itu kami beramai-ramai menyerbu Kak Ibrahim. Mbak Lela yang paling getol, karena datang jauh-jauh dari Hay Ashir setelah dibujuk-bujuk Kak Ibrahim di telepon. Yang diserbu dengan berondongan kata-kata pun hanya lari dan tertawa puas. Kami pun tertawa-tawa mengingat betapa ngantuknya kami di dalam dan tentunya isi pertunjukan tadi. Pantas saja orang-orang yang ada di kedutaan tadi terlihat heran dengan kedatangan kami yang berbondong-bondong. Tapi justru pengalaman lucu inilah yang mempermanis perjalanan melelahkan hari ini.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 14.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *