Hari Terakhir di Cairo Part 14

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 13.

Suasana hangat lebaran Idul Adha tahun ketiga di bumi Kinanah menjalari hatiku. Sekejap, rindu yang membuncah pada keluarga di tanah air tergantikan dengan kebersamaan yang mengalir dari hadirnya teman-teman dalam acara halal bi halal sore ini. Bertambah hangat dengan daging yang menjadi menu kami beberapa hari terakhir. Daging kurban yang dibeli sendiri ataupun jatah dari orang Mesir dan bapak-bapak KBRI yang berkurban.

Ketika tengah tenggelam dalam kehangatan yang berlapis-lapis ini, Mbak Mawar membisikiku. Menawarkan sesuatu yang cukup menarik. Mengajakku datang ke Alexandria. Kali ini untuk bermain-main. Satu tempat yang kaya dengan objek wisata dan sejarah. Salah satu muhafadzoh Mesir. Pernah sebelumnya aku ke sana. Namun kali itu hanya mengantarkan Mbak Mawar yang mengurus perpindahan kuliahnya dari Cairo ke Alexandria.

Tadinya karena seperti hanya basa-basi belaka, aku tak menanggapinya dengan serius. Hanya mengiyakan saja sambil bercanda-canda. Tetapi ketika beranjak pulang dari acara, Mbak Mawar kembali mendekatiku. Mengulangi tawarannya untuk mengjak aku berkunjung ke rumahnya. Seraya menunjukkan kalau Vera pun ikut.

Memang awalnya mereka yang berencana. Agar asyik, tambah ramai, mereka mengajakku turut serta. Terlebih lagi kami bertiga berasal dari satu kota. kesempatan ini bisa mendekatkan kami dan mempererat tali silaturahmi setelah sebelumnya mengendur karena jarang bertemu. Aku dan Vera tak serumah lagi.

Vera dan Mbak Mawar mengatakan jika akan berangkat ke Alexandria tengah malam nanti. Vera malah sudah berkemas, tinggal berangkat. Mendengar ajakan mereka yang serius kali ini, aku jadi goyah. Di satu sisi ingin ikut, membayangkan betapa serunya nanti tetapi agak urung karena belum ada persiapan. Mendadak sekali.

Lepas isya, setelah sholat, karena penasaran, akhirnya aku cari tahu tentang Alexandria, bertanya pada mbah google. Melihat apakah tempat-tempat wisata yang ada di sana cukup menarik dan berharga untuk dikunjungi. Terbius dengan beberapa objek, aku segera menelpon Mbak Mawar, menanyakan biaya yang kira-kira kami butuhkan selama di sana. Selesai dengan telpon, kuhitung uang di dompet. Paling tidak tak boleh membuatku tak bisa berangkat kuliah bulan ini. Setelah yakin kalau cukup untuk perjalanan dan kebutuhan sebulan, kuputuskan untuk ikut. Segera kuhubungi lagi Mbak Mawar dan berkoordinasi.

Aku datang ke secretariat KSW sekitar jam dua belas malam. Di basecamp anak-anak Cairo yang berasal dari Jawa Tengah ini, sudah berkumpul kelima teman yang akan berangkat ke Alexandria. Mbak Mawar, Vera, Kak Andi, Kak Fahri, dan Kak Adit. “Pukul berapa keretanya?” tanyaku kepada mereka. “Pukul satu malam. Ayo yuk buruan ke stasiun,” ajak Mbak Mawar sembari menjelaskan panjang lebar planningnya.

Kereta yang akankami naiki untuk berangkat ke Alexandria kali ini kereta ekonomi yang harga karcisnya paling murah, hanya lima pounds. Mengirit pengeluaran. Lagi pula kami sedang tak buru-buru. Kereta biasa berangkat jam satu malam, meski sering molor sampai setengah tiga. Sampai di stasiun Ramses ternyata kereta sudah agak penuh karena memang kelas ekonomi.

Kami menyisir gerbong satu persatu, mencari tempat kosong untuk kami berenam. Sayangnya kadang ada kursi yang pas tapi gerbong agak bau pesing. Kami pun mencari-cari lagi, paling tidak harus nyaman karena perjalanan sekitar empat sampai lima jam.

“Ini yah keretanya? Pantesan murah banget,” gurauku melihat kereta yang sedikit using dan tak lengkap lagi kaca-kaca jendelanya. Teman-teman tertawa menyambut kenyataan di depan mata. Jendela kereta tak semuanya tertutup rapat. Ada yang kacanya hanya separuh, ada yang tirai penutupnya rusak, bahkan ada yang sama sekali tak tertutup kaca, hanya bertirai.

“Ya begini ini. Untuk kalangan bawah lah. Karena murah makanya banyak banget peminatnya,” kata Mbak Mawar sambil menunjuk orang-orang yang telah memenuhi gerbong kereta. Dengan kondisi kereta yang seperti itu, angin malam dengan bebasnya keluar masuk. Menampar-nampar wajah kami. Walaupun sudah duduk di lokasi yang terhalang oleh jendela yang tertutup penuh, ternyata masih juga kedinginan. Angin tetap masuk dari jendela-jendela sebelah yang tak tertutup.

Apalagi zaat ini Cairo sedang memasuki musim dingin. Dan kereta melaju kencang. Brr… dingin sekali. Kata Mbak Mawar, jendela baru akan dipasang penuh kalu benar-benar sudah masuk musim dingin, sekitar bulan januari. Vera yang peling kedinginan diantara kami berenam, memang ia tak tahan dingin, lebih baik kepanasan. Berlapis-lapis jaket yang ia kenakan seperti tak berfungsi. Aku memegang ransel milikku erat-erat. Di atas, di tempat bagasi, beberapa orang Mesir berbaring tidur. Jadi tak aman jika tas diletakkan di sana. Bagaimanapun berhati-hati tetap lebih baik.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 15.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *